GMT, Tidak Ada Mitos yang Menonjol di Sumsel
Palembang, BPBudayawan kota Palembang, Vebri Alintani, mengatakan, tidak ada alasan masyarakat untuk takut gerhana matahari total (GMT), apalagi kota Palembang akan menggelar acara yang melihat secara langsung gerhana matahari total pada 9 Maret mendatang.
“Setahu aku tidak ada mitos yang menonjol tentang gerhana. Cuma ada cerita, yang katanya matahari ditelan naga, tapi mitos itu tak populer, beda dengan di Jawa, mungkin itu ada tapi juga tak terlalu diyakini,” kata Vebri yang juga Ketua Dewan Kesenian Palembang (DKP), Kamis (18/2),
Dulu, menurut Vebri, pernah ada gerhana dan para orang tua memberi tahu tidak boleh melihat secara langsung karena sinar matahari bisa membahayakan.
“Aku kira itu ilmiah. Jadi melihatnya pakai kaca yang sudah dikasih jelaga dan saya tahu itu hal yang biasa-biasa saja. Bagi umat Islam lebih baik shalat dan berdoa kalau ada gerhana total, karena ini fenomena alam dan untuk mengingatkan kita bahwa alam semesta ada yang mengatur,” katanya.
Selain itu, menurut Vebri, Dewan Kesenian Palembang akan turut berpartisipasi dan menggelar beragam acara untuk menyemarakkan GMT. Yakni dengan menampilkan pentas seni bertajuk ‘Peh…Ngeker Gerhana’ di panggung DKP di komplek Museum SMB II Palembang.
“Pentas Seni akan digelar semalam suntuk di panggung DKP pada tanggal 8 maret 2016 mulai pukul 20.00 hingga pukul 05.00 paginya, menampilkan beragam seni sumsel mulai tari, teater, musik dan pemutaran film tentang gerhana,” ujar Vebri.
Sejarahnya, hal serupa pernah terjadi pada 18 Maret 1988 di Palembang. Puncak peristiwa gerhana matahari total terjadi pukul 07.29.
Selain dapat menyaksiakn pentas seni, pada pagi harinya bersama DKP bisa menyaksikan langsung Fenomena GMT melalui area DKP yang persis di samping jembatan Ampera.
“GMT 2016 ini menarik minat wisatawan tidak hanya wisatawan lokal namun juga wisatawan mancanegara, Untuk itulah kita akan menggelar pentas seni untuk turut mengembangkan potensi kesenian daerah kita di moment gerhana ini,” jelas Vebri
Sementara itu Lokasi venue GMT 2016 yang di siapkan Pemprov sumsel mulai dari Jembatan Ampera, Helipad Hotel Aryaduta Palembang, Menara di arena ski air Jakabaring Sport City, Menara Pulau Kemaro hingga Lapangan Bukit Golf Palembang.
Sedangkanpeneliti fisika atmosfer di pusat sain dan teknologi atmosfir Lapan, Bandung, Drs Syaiful Hamdi, mengatakan kalau pihaknya berkerja sama dengan Graha Tehnologi Sriwijaya (Dinas Pendidikan Sumsel) akan melihat GMT dari sisi edukasinya karena selama ini banyak mitos yang berkembang kalau terjadi GMT membuat masyarakat ketakutan.
“Kok sayang, orang luar saja datang ke Palembang melihat gerhana matahari total, kita kok takut, sehingga sehari sebelum GMT kita lakukan edukasi kepada masyarakat dengan menggelar work shop dan talk show agar jangan takut dengan gerhana matahari ini dan ketika puncaknya gerhana matahari total banyak warga menyaksikan,” katanya.
Menurutnya, gerhana matahari total terjadi di Palembang terjadi selama 1 menit 50 detik pada pukul 19.20. Sedangkan peneliti fisika atmosfer di pusat sain dan teknologi atmosfir Lapan, Bandung, Dra Sumaryati. MT emnyebut GMT terakhir terjadi tahun 1983, 1988.
“Kalau untuk Palembang kalau mau gerhana matahari total lagi 350 tahun lagi, ini kesempatan yang baik bisa menikmati gerhana matahari total, jadi cucu dan cicit belum bisa menikmati lagi gerhana matahari total ini baru generasi ke 10 bisa menikmati gerhana matahari total ini lagi,” katanya.
GMT ini merupakan anugrah tuhan dan bukan musibah sehingga persepsi masyarakat akan ketakutan gerhana matahari total harus di ubah dan melihat langsung gerhana matahari total terjadi.
Seperti di Pulau Jawa menurut Sumaryati ada mitos tentang gerhana matahari total ini dimakan oleh raksasa Buto Ijo,” banyak fenomena yang bisa kita amati saat gerhana matahari total ini, seperti perilaku hewan saat gerhana matahari total bagaimana, ini menarik,” katanya. #osk