Alex Noerdin Kembali Tegaskan Komitmen Pengendalian Perubahan Iklim
Gubernur Sumatera Selatan H Alex Noerdin kembali menegaskan komitmennya pada pengendalian perubahan iklim global.
PERNYATAAN ini disampaikan Alex Noerdin saat menghadiri Festival Iklim yang bertajuk ‘<2°C untuk Kesejahteraan Rakyat dan Generasi Mendatang’ di Jakarta Convention Center, Jalan Asia Afrika, Jakarta Selatan, 1-4 Februari 2016. Kegiatan ini merupakan kerja sama Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) dengan Pemerintah Norwegia dan Badan Program Pembangunan PBB (UNDP).
“Kehadiran saya pada Festival Iklim merupakan wujud komitmen untuk berkontribusi pada pengendalian perubahan iklim,’ katanya.
Dijelaskan Alex Noerdin, dalam beberapa bulan terakhir Sumsel mendapatkan sorotan karena jutaan hektare hutannya terbakar. Kebakaran ini membuat dia banyak diwawancarai media nasional dan internasional.
Bahkan, musibah tersebut membuat dirinya dikenal dengan sebutan ‘Gubernur Asap’. “Saya sampai disebut Gubernur Asap. Banyak media yang mewawancarai saya, bahkan saat di COP 21, Leonardo DiCaprio juga tertarik untuk wawancara,” kata Alex.
Kondisi tersebut jelas membuat dirinya sedih dan malu, tapi tidak membuatnya sembunyi. Dia aktif menggandeng berbagai pihak untuk memberikan solusi jangka panjang guna mencegah terjadinya kembali musibah kebakaran di masa mendatang. Salah satu program andalannya adalah Desa Peduli Api yang kini berjumlah sekitar 102 desa di Sumsel.adv
Bergandengan Tangan Menanggulangi Karhutlah
SEJUMLAH kepala daerah yang mempunyai hutan gambut berharap agar masalah kebakaran ini tidak terjadi lagi di masa mendatang. Untuk itu mereka melakukan sejumlah usaha, termasuk mnggandeng berbagai pihak untuk bekerja sama. Alex Noerdin salah satu kepala daerah yang memberikan perhatian pada lahan gambut.
Berikut wawancara dengan Alex Noerdin yang dikutip dari Buletin Festival Iklim:
Apa yang dilakukan untuk mencegah kembali kebakaran hutan gambut seperti beberapa waktu lalu?
Saat kebakaran terjadi di lahan gambut sulit untuk melakukan pemadaman. Saat pemadaman dilakukan dari atas, tapi api masih bisa merayap dari bawah.
Tidak mungkin pemerintah di daerah bisa menyelesaikan semua sendiri, mereka perlu bantuan. Saat ini sudah dibentuk Badan Restorasi Gambut (BRG) yang sudah dibentuk untuk itu.
Apa harapan dengan adanya BRG?
Namanya saja restorasi, memulihkan kembali pada fungsinya semula.
Selama ini sudah berapa yang dipulihkan?
BRG baru dibentuk yang action di lapangannya masih belum.
Kalau untuk Sumsel, bentuk restorasinya seperti apa?
Macam-macam, sesuai dengan karakteristik dan kearifan lokal masing-masing. Gambut di Sumsel dengan yang di Kalimantan ada perbedaan.
Terkait perubahan iklim, apa hal lain yang menjadi perhatian di Sumsel selain kebakaran?
Sekarang ini tidak jelas, kapan musim hujan dan musim panas yang membuat musim tanam berubah. Agar tidak terjadi, maka perbaikilah lingkungan.
Apa yang disampaikan Alex Noerdin tersebut juga menjadi komitmen pemerintah Indonesia terkait pengendalian perubahan iklim dalam menjalankan Paris Agreement 2015. Di mana Alex Noerdin, satu-satunya gubernur di Indonesia, yang hadir dalam acara tersebut.
Desa Peduli Api, Pencegah Utama Karhutlah
BANYAK program yang dilakukan pemerintah Sumsel terkait pengendalian perubahan iklim, khususnya mengelola lahan gambut dan hutan dari
kerusakan, seperti kebakaran. Program ini merupakan wujud kerja sama pemerintah Sumsel dengan pemerintah pusat, berbagai negara asing, lembaga donor, lembaga swadaya masyarakat, militer, kepolisian, serta masyarakat.
Selain Desa Peduli Api, program lainnya yakni terkait konflik berupa penentuan tapal batas konsensi HTI, desa, kecamatan atau plasma perkebunan, pendataan pemanfaatan lahan rakyat yang berada di kawasan hutan produksi, kesepakatan lahan kelola masyarakat dan tanaman pokok tata ruang HTI, percepatan program plasma perkebunan yang belum terealisir.
Terkait sarana prasana pemadam kebakaran, akan dilakukan percepatan audit kepatuhan, tata air lanskap yang terintegrasi, serta green belt dan menara api.
Selanjutnya dilakukan pemberdayaan masyarakat yang melibatkan sejumlah organisasi nonpemerintah, seperti percepat kegiatan kelola sosial HTI dan CSR perkebunan, terintergrasinya kegiatan pemerintah dengan lembaga donor internasional, serta perhutanan sosial, hutan desa dan hutan kemasyarakatan.
Sementara kelembagaan atau aspek legal, akan dilakukan manajemen lanskap, desa peduli api, review perizinan lahan konflik, serta pembuatan peraturan gubernur atau peraturan daerah terkait karhutlah.
Program tersebut dijalankan berdasarkan analisis bencana kebakaran hutan dan lahan di Sumsel. Antara lain kurangnya sumber air tanah, sungai dan water tabel di parit drainase. Tata air lanskap belum terintegrasi, terbatasnya akses menuju sumber api, tidak adanya green belt pemecah angin, terbatasnya sarana prasarana pemadam kebakaran yang dimiliki perusahaan, terbatasnya sumber data manusia regu kebakaran terlatih di lapangan, belum optimalnya partisipasi masyarakat lokal, serta belum efektifnya kelembagaan peduli api di desa atau dusun.
Sementara lahan yang terbakar tersebut, mulai dari lahan konsensi HTI (hutan tanaman industri), perkebunan sawit, lahan rakyat berupa padi sonor atau sawah tadah hujan, hutan negara, serta lahan konflik atau belum dikelola.
Terkait program Desa Peduli Api, menurut Najib Asmani, staf ahli lingkungan hidup Gubernur Sumsel, tujuannya menjadikan desa sebagai pencegah utama terjadinya kebakaran hutan dan lahan gambut. Pada tahap awal, program tersebut akan berjalan hingga Juni 2016.
Desa yang ditetapkan sebagai Desa Peduli Api merupakan desa yang selama ini berada atau rawan dengan bencana kebakaran hutan dan lahan gambut.
Desa-desa tersebut tersebar di Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Musi Banyuasin (Muba), Kabupaten Banyuasin, serta Ogan Ilir (OI).
“Desa yang mampu mencegah kebakaran akan mendapatkan penghargaan dari Gubernur Sumsel,” kata Najib.
