Saling Ejek, 2 Kelurahan Bentrok

43

Enam Orang Tertembak

01 25 -- Tawuran WargaPalembang, BP

Dipicu saling ejek, tawuran antarwarga Kelurahan 9 Ilir dan 13 Ilir kembali pecah. Mereka terlibat bentrok di Jembatan Geledek, Jalan Segaran, RT2, Kelurahan 9 Ilir, Kecamatan Ilir Timur II, Palembang, Minggu (24/1).

Dalam bentrokan itu, dua kubu melengkapi diri dengan senjata tajam, kayu, dan senapan angin. Setidaknya enam warga terluka tembak dan harus menjalani perawatan di rumah sakit.

Mereka adalah Rahmat Hidayat (18), warga Jalan Selamet Riyadi, Lorong Manggar I, mengalami luka tembak di bagian siku kanan. M Azhari (16), warga Jalan Sukawinatan, Lorong Harapan, RT75/10, luka tembak di bagian rusuk kiri.

Selanjutnya M Ilham Elvian, warga Jalan Selamet Riyadi, Lorong Buyut Cabe, Nomor 112, RT3/1, Kelurahan 10 Ilir terluka di paha kanan. Ahmad Alfarizi Putra (19), warga Jalan HM Yasin, RT28, Kenten Laut luka tembak di hidung.

Ahmad Solihin (21), warga Jalan Perintis Kemerdekaan, Nomor 1600, Kecamatan IT II Palembang, tertembak di bagian perut.

Kemudian Eli Septianti (19), warga Jalan Segaran, RT2 RW 01, Nomor 89, Kelurahan 9 Ilir, Kecamatan IT II Palembang, menderita luka tembak senapan angin di bagian perut sebelah kiri ketika sedang berada di kamar mandi.

Baca Juga:  ADD Desa Purun Diduga Tak Tepat Guna

Informasi yang berhasil dihimpun, keributan ini dipicu saling ejek dan disertai dendam lama para remaja dari kedua belah pihak hingga berbuntut kepada orang tua.

Keributan baru berhenti setelah aparat kepolisian mendatangi lokasi kejadian dan langsung mengevakuasi korban yang terluka ke rumah sakit.

Namun hingga saat ini aparat kepolisian belum mengamankan para warga yang diduga terlibat bentrok, lantaran kedua belah pihak sama-sama tak mau memberikan keterangan kepada petugas.

“Ketika ke lokasi, semua warga tutup mulut. Jadi sementara ini belum ada yang diamankan. Keributan ini karena dendam lama antara kedua belah pihak yang diawali saling ejek,” kata Kapolsek IT II Palembang Kompol Afria Jaya.

Ia membenarkan saat bentrok terjadi antara kedua belah pihak sama-sama menggunakan senjata tajam dan senapan angin.

“Saat tawuran masing-masing kelompok ada yang menggunakan senapan angin dan menembak ke arah lawannya, sehingga kebanyakan korban luka tembak senapan angin,” imbuhnya.

Baca Juga:  Pemerintah Harus Merangkul Perajin Senpira

Untuk mengantisipasi bentrok lanjutan, aparat kepolisian dari Polsek IT II Palembang langsung menyisir lokasi kejadian serta melakukan patroli dan menggelar rapat koordinasi bersama tokoh agama, masyarakat, ketua RT, ketua RW dan lurah setempat, agar menjaga warganya masing-masing dan bentrok yang terjadi bukan kali pertama ini tidak terulang.

“Sebelumnya telah dilakukan penandatanganan mulai dari lurah, ketua RT dan RW dengan tujuan bersama-sama menjaga warganya agar tidak tawuran,” katanya.

Dari isi perjanjian, dirinya melanjutkan jika ternyata tawuran masih terjadi, maka lurah, bersama seluruh perangkat, termasuk RT dan RW akan dipanggil.

Selain itu, Jaya mengimbau agar warga tidak terpancing provokasi oknum yang tidak bertanggungjawab untuk mencegah kejadian ini terulang.

“Kami harap warga sama-sama menjaga dan menahan diri agar tidak ada lagi tawuran. Kami dari pihak kepolisian akan meningkatkan patroli di lokasi,” tandasnya.

Menanggapi tawuran yang sering terjadi antara kelompok warga 9 Ilir dan 13 Ilir Palembang, menurut kriminolog Sri Sulastri, aparat kepolisian bersama tokoh agama, pemuda dan masyarakat harus memfasilitasi dengan cara melakukan mediasi.

Baca Juga:  2 Pelaku Tawuran yang Ikut Tewaskan Pelajar SMA di Palembang Diminta Menyerahkan Diri

“Tawuran gejala penyimpangan tingkah laku individu antara kelompok berbeda. Jadi kalau dendam lama, yang baru-baru ini ikutan saja tanpa tahu akar permasalahannya. Coba lakukan mediasi agar pemikiran mereka terbuka,” ujar Sri.

Sri menambahkan, kekerasan dalam tawuran kian meningkat, nekat dan beringas. Terlebih di kawasan Jembatan Geledek, Kecamatan IT II Palembang. Dari dulu sampai sekarang tidak pernah menemukan ujungnya. Sehingga kedua kelompok tersebut perlu diajak berbicara.

“Memang harus melibatkan semua untuk diajak berkumpul dan menyelesaikan persoalan secara utuh. Dibicarakan apa untung dan ruginya,” katanya.

Masih dikatakan Sri, apalagi tawuran yang terjadi ini terdiri dari dua kelompok berbeda. Jika salah satu kelompok memang salah, maka mereka yang ikut tetap akan membela kelompok salah.

“Jadi kebanyakan mereka ini ikut-ikutan tanpa tahu akar permasalahannya. Karena jika tidak ikut, mereka takut dikucilkan dari kelompoknya. Jadi saran saya lakukan mediasi,” tuturnya. # rio

 

Komentar Anda
Loading...