Harga Daging Sapi Naik
#Dipicu Pembatasan Kuota Impor dan Pasokan Tipis
Palembang, BP
Harga daging sapi yang ada di pasaran telah naik hingga Rp130.000 per kilogramnya dalam sepekan terakhir di Palembang. Hal tersebut dipicu oleh beberapa hal yakni kenaikan pajak pertambahan nilai (PPN) sapi impor, harga pakan ternak naik, kuota impor turun, serta pasokan dalam negeri yang menurun.
Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Sumatera Selatan Ir Permana, MMA mengatakan, pemerintah pusat mengeluarkan kebijakan mengenakan PPN sebesar 10 persen terhadap sapi-sapi impor tahun ini. Dikatakan Permana, jelas hal ini memberatkan para importir sapi.
“Kuota impor yang dibatasi hanya 600.000 ekor sapi seluruh Indonesia pun semakin memicu kenaikan harga daging sapi di pasaran. Impor sapi ini ditekankan hanya untuk menjaga 20 persen dari stok yang ada. namun Dari jumlah tersebut, Sumsel hanya mendapat jatah 300 ekor sapi saja. Jelas peredaran daging berkurang,” ujarnya, Kamis (21/1).
Faktor lainnya, yakni kenaikan harga pakan ternak pun menjadi pemicu lainnya kenaikan harga daging sapi. Bahkan kenaikan harga pakan yang digunakan untuk penggemukan sapi ini telah membuat para peternak sapi di Jawa Barat mogok jual sapi.
Dampak dari mogoknya penjualan tersebut berakibat langsung kepada Sumsel yang mendapatkan pasokan sapi dari Jawa Barat.
“Faktor terakhir dan yang paling menentukan adalah pasokan sapi indukan dalam negeri belum sebanding dengan kebutuhan daging sapi masyarakat. Kenaikan harga terjadi otomatis saat barang yang ada di pasaran berkurang,” jelasnya.
Dirinya mengatakan, daging sapi yang saat ini beredar di pasar Palembang berasal dari rumah potong hewan (RPH) Gandus. Sebelumnya, RPH Gandus memotong sapi sebanyak 30 ekor per harinya. Namun karena jumlah sapi yang berkurang, baik yang asal Sumsel maupun asal lampung, kini RPH Gandus hanya memotong tujuh hingga delapan ekor sapi per harinya.
“Sapi berjumlah 30 ekor tersebut biasanya menghasilkan 3.000 kilogram daging. Sekarang berkurang menjadi 800 kg saja per harinya,” lanjut Permana.
Namun meski begitu, pihaknya berharap tren kenaikan harga dan tipisnya stok barang pun tidak terjadi berkelanjutan Pihaknya akan berkoordinasi dengan Bulog Sumsel untuk lakukan operasi pasar daging sapi apa bila tren kenaikan harga terus berlanjut.
“Hal ini akan kami sampaikan kepada Gubernur Sumsel, kalau memang tren kenaikannya panjang, mau tak mau kita harus OP daging sapi,” tukasnya.
Sementara itu, Plt Kepala Dinas Peternakan Provinsi Sumsel Amruzi Minha menyebutkan, kebutuhan daging di Sumsel memang cukup mencapai 3.000 ekor sapi sebulannya. Namun saat ini dalam Provinsi Sumsel hanya mampu memenuhi 30 persen dari kebutuhan. Hal tersebut menyebabkan Pemprov Sumsel harus mendatangkan sapi dari luar Sumsel, paling banyak dari Lampung. #idz