Banjir Bandang Rupit Akibat Catchment Area Rusak
#Gubernur: Sedia Perahu Sebelum Banjir
Palembang, BP
Musim hujan yang melanda Sumatera Selatan telah menyebabkan banjir di beberapa daerah. Bahkan banjir Bandang terjadi beberapa waktu lalu di Muararupit, Musirawas Utara. Pemerintah Provinsi Sumsel berupaya menanggulangi agar bencana ini tidak memakan korban lebih banyak
Gubernur Sumsel H Alex menjelaskan, hujan deras yang melanda di perkotaan menyebabkan sejumlah air yang menggenangi jalanan. Genangan air tersebut terjadi karena diindikasikan saluran drainase yang mampet. Namun banjir bandang yang terjadi di Muara Rupit terjadi karena (daerah tangkapan air (catchment area) yang rusak.
“Hutan di sekitar hulu sungainya itu yang rusak. Akibatnya, air yang seharusnya bisa diserap oleh hutan, mengalir begitu saja ke sungai dan meningkatkan intensitasnya dengan cepat. Akhirnya sungai tak mampu menampung dan meluap ke pemukiman,” tuturnya saat ditemui di Griya Agung, Selasa (19/1).
Daerah tangkapan air atau catchment area adalah suatu wilayah daratan yang merupakan satu kesatuan dengan sungai dan anak-anak sungainya. Catchment area berfungsi menampung, menyimpan, dan mengalirkan air yang berasal dari curah hujan menuju danau atau ke laut secara alami melewati aliran sungai.
Catchment area di darat merupakan pemisah topografis yang dapat berupa punggung-punggung bukit atau gunung dan batas di laut sampai dengan daerah perairan yang masih terpengaruh aktivitas daratan.
Untuk mengantisipasi hal tersebut, dalam jangka panjang pemerintah kabupaten harus melakukan perbaikan terhadap catchment area tersebut. “Dalam jangka pendek, ya siap-siap kalau hujan. Kalau hujan sedia payung, kalau banjir sedia perahu,” ucap Alex.
Berkaca dari DKI Jakarta yang memberikan anggaran untuk perbaikan saluran air dalam mencegah terjadinya banjir, Alex mengungkapkan bahwa Sumsel belum bisa melakukan hal seperti itu karena keterbatasan anggaran.
Namun sedikit demi sedikit, pihaknya mulai melakukan penganggaran untuk pencegahan banjir di daerah. Dirinya menuturkan, pembangunan yang dilakukan di daerah tidak bisa dilakukan apabila hanya mengandalkan APBD provinsi dan kabupaten/kota
“Seperti LRT (light rail transit-red) dan tol, kita tidak bisa bangun itu kalau menggunakan uang sendiri (APBD-red). Kita harus pintar-pintar mendapatkan anggaran, baik dari pemerintah pusat maupun pihak ketiga,” ujar Alex.
Sementara itu Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) II Palembang mencatat, seluruh wilayah Sumsel masih akan diguyur hujan hingga Februari-Maret. Rata-rata suhu berkisar 21-34 derajat celsius dengan kelembapan 54-98 persen dan kecepatan angin 15 km/jam.
Kasi Observasi dan Informasi BMKG SMB II Palembang Agus Santosa mengatakan, curah hujan Palembang dan sekitarnya berkisar pada 1,6-25,1 milimeter/hari. Curah hujan sebagian OKI tercatat sekira 0,4-1,6 mm/hari. Sementara Banyuasin dan Musi Banyuasin terpantau bercurah hujan 1,6-25,1 mm/hari.
“Kondisi ini akan meluas ke seluruh wilayah Sumsel dengan curah hujan yang beragam. Namun rata-rata hujan turun di seluruh daerah,” tuturnya.
Plt Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumsel Iriansyah mengatakan, terdapat 12 daerah di Sumsel yang rawan bencana banjir akibat luapan jalur air sungai, yakni Musi Banyuasin, Banyuasin, Palembang, Muaraenim, Ogan Ilir, OKU Timur, OKU, OKI, Prabumulih, Musirawas, PALI, dan Muratara.
Empat daerah rawan longsor yakni Pagaralam, Empat Lawang, Lahat dan OKU Selatan. Daerah rawan longsor rata-rata merupakan dataran tinggi, sehingga jika hujan dengan kapasitas besar turun, akan berakibat bergesernya tanah sehingga menyebabkan longsor.
Pihaknya telah melakukan kesiapsiagaan dengan intansi terkait lain untuk menanggulangi bencana banjir dan longsor di Sumsel.
“Selain mempersiapkan personel, kami juga mempersiapkan peralatan yang dibutuhkan untuk penanggulangan bencana seperti mobil dapur umum, rescue, truck, tangki, dan alat perlengkapan lainnya. Kami berupaya menanggulangi bencana dan itu diatasi secara dini,” tuturnya.
Di daerah-daerah, juga sudah mempersiapkan atau siaga banjir dan longsor. Personil yang akan diperbantukan untuk menangani bencana itu terdiri dari berbagai lapisan yakni BPBD, Polri, TNI, PMI, Akper, Kopri, Sat Pol PP, Dishub, BNPB, Pramuka, dan Dinkes Pemerintah Provinsi.
Pihaknya pun sudah memberikan stok bantuan baik makanan, peralatan, hingga sandang ke tiap BPBD di kabupaten/kota.
Kepala Dinas PU Pengairan Sumsel Syamsul Bahri menambahkan, berdasarkan data pihaknya, terdapat 163 titik rawan tanah longsor, 560 titik rawan banjir, dan 94 wilayah yang rawan banjir bandang di Sumsel.
Kabupaten Lahat menjadi daerah paling rawan longsor yakni 58 titik karena wilayah geografisnya yang banyak tebing, disusul OKU Selatan dengan 33 titik, lalu Musirawas dengan 28 titik. Sedangkan tiga wilayah paling rawan banjir yakni Lahat dengan 95 titik, Ogan Komering Ilir (OKI) 74 daerah rawan banjir, dan Ogan Ilir (OI) dengan 69 daerah rawan.
Sementara banjir bandang paling banyak terjadi di OI dengan data 34 daerah rawan, 27 di Muaraenim, dan 17 di Lahat. Meski Palembang tidak termasuk daerah paling rawan, namun kondisi bencana musim hujan mesti diwaspadai. Satu titik rawan longsor, 40 wilayah rawan banjir, dan dua daerah rawan banjir bandang terdapat di Palembang. #idz