Biaya Atasi Asap Naik 10 Kali Lipat
Palembang, BP
Meski upaya maksimal telah dilakukan Pemprov Sumsel, bencana kabut asap tetap terjadi setiap tahun. Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan bertekad terus memerangi kebakaran lahan dan meningkatkan dana penanggulangan bencana ini hingga 10 kali lipat dari sebelumnya.
Gubernur Sumsel H Alex Noerdin mengatakan, biaya penanggulangan bencana tahun ini yang berasal dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Provinsi maupun Kabupaten/Kota belum terlalu besar.
Meski tidak dirinci jumlah keseluruhan dana yang telah dikucurkan Pemprov Sumsel, namun dana yang dimiliki Dinas Kehutanan dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumsel belum mencukupi.
“Gabungan dana tahun ini yang dianggarkan pada Dishut dan BPBD Sumsel hanya sekira Rp8 miliar. Sedangkan biaya satu kali penerbangan helikopter yang melakukan waterboombing itu bila dibandingkan seharga dengan satu mobil Kijang Inova. Masih sangat banyak kurangnya,” tutur Alex saat konferensi pers di Ruang Rapat Gubernur, Kamis (8/10).
Gubernur akan menginstruksikan kepada pemerintah kabupaten/kota untuk turut meningkatkan dana penanggulangan bencana sehingga bisa menanggulangi lebih baik lagi pada tahun mendatang. “Pemerintah pusat pun pasti akan lebih serius. Dengan upaya ini, kabut asap tahun depan semoga bisa sangat jauh berkurang,” tegas Gubernur.
Selain itu, dua hari lalu Pemprov Sumsel telah bekerjasama dengan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) untuk melakukan pengembangan early warning system yang dapat memberikan peringatan sedini mungkin pada daerah-daerah rentan.
Serta tindakan yang direkomendasikan untuk mencegah terjadinya hotspot dan kebakaran hutan dan lahan. Kerja sama juga meliputi sistem informasi mitigasi bencana kebakaran hutan dan lahan yang dapat memberikan informasi yang komprehensif dalam upaya perencanaan, pencegahan, dan penanggulangan bencana kebakaran hutan dan lahan.
Saat ini juga sedang dilakukan penelitian dan kajian oleh perguruan tinggi lokal dan juga bantuan dari lembaga penelitian dan bekerjasama dengan pihak swasta untuk pemetaan lahan gambut serta upaya restorasinya.
Restorasi landskap ini mendapat dukungan nasional dan dunia internasional di antaranya dari Konsultan McKinsey asal AS, ZSL dan UKCCU asal Inggris, IDH The Initiative Sustainable Trade dari Belanda, BioClime asal Jerman, APP dengan Konsultan Deltares dari Belanda, Badan Pemanfaatan Dana Perkebunan (BPDP) dan Gabungan Pengusaha Perkebunan Indonesia (GPPI).
“Ini hal yang harus dilakukan. Studi manajemen pengelolaan gambut. Sebelum musim hujan tahun depan selesai, penanganan terhadap gambut pun selesai,” jelasnya.
Hingga saat ini, luas lahan yang terbakar berdasarkan Citra Satelit Landsat 8 dan 7 dalam periode Juni hingga September 2015 seluas 128.314 hektar. Dengan rincian Ogan Ilir lahan yang terbakar seluas 5.860 hektar, 88.267 hektar di OKI, dan 34.187 hektar di Musi Banyuasin.
Sementara kondisi lahan di Sumsel terdiri dari 3.478.468 hektar luas kawasan hutan, 1.800.000 hektar lahan perkebunan, 752.000 hektar lahan pertanian, 1.564.320 hektar lahan lainnya, dan 1.483.662 hektar lahan gambut.
Jumlah titik api hingga 7 Oktober lalu fluktuatif. Sejak awal Oktober, titik api terbanyak dialami pada 3 Oktober dengan 1.355 titik api, dan yang terendah pada 2 Oktober yakni 126 titik api.
Berdasarkan hasil pemantauan satelit MODIS Aqua/Terra, terjadi peningkatan jumlah titik api yang signifikan khususnya pada daerah rawan kebakaran dan bergambut. Total titik api dari 1 Januari hingga 7 Oktober yakni 17.948 titik api.
Sedangkan sejak Januari 2015, titik api terbanyak dialami pada masa September dengan jumlah 11.285 titik api, Agustus 1.800 titik api, dan dari 1-7 Oktober dengan 3.722 titik api.
Upaya pemadaman udara dengan waterbombing menggunakan enam pesawat helikopter dan dua unit pesawat air traktor. Total air yang sudah digunakan untuk upaya pemadaman sejak awal waterbombing yakni 22.783.500 liter air.
Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) dengan hujan buatan pun terus dilakukan. Namun, TMC tidak dapat maksimal karena hal ini dipengaruhi kondisi awan, arah angin dan kondisi teknis lainnya. Sebanyak 67,1 ton garam NHCl sudah disemai di atas angkasa Sumsel.
Dukungan personel TNI dari Mabes TNI, diperbantukan 359 personel marinir di Kecamatan Bayung Lencir, 30 personil Kostrad di KTM Rambutan, Inderalaya, 669 personel Kostrad dan ARMED di OKI.
Sebanyak empat DAOPS Manggala Agni dengan 240 personel dilengkapi alat pemadaman, 1.000 personel regu pemadam kebakaran perusahaan perkebunan dan 450 personel HTI dilengkapi peralatan pemadaman dikerahkan memadamkan titik api. Pemadaman juga dibantu oleh Regu Kebakaran Desa Terlatih (RKDT) dan masyarakat peduli api (MPA) di 260 desa.
Sakit
Terkait dengan korban balita yang disebut-sebut meninggal karena ISPA, Gubernur Sumsel H Alex Noerdin menyampaikan rasa prihatin dan duka mendalam atas meninggalnya M Husien Saputra, bayi berusia 28 hari yang meninggal pada 6 Oktober lalu. “Husien memang dikabarkan sedang dalam kondisi sakit sebelumnya. Biarlah dokter yang bicara apakah meninggal karena asap atau lainnya,” jelas Alex.
Kepala Dinas Kesehatan Lesty Nurainy menjelaskan, bayi yang meninggal yang disinyalir meninggal akibat kabut asap sebenarnya sejak lahir telah ada penyakit radang paru-paru.
“Kita langsung turun ke lapangan dengan staf kota dan provinsi, mendatangi rumah korban. Sebelum meninggal bayi tersebut dalam kondisi demam selama 3 hari, sesak napas dan dengan suhu 39,2 derajat,” ujarnya.
Dari Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang, didapatkan informasi kondisi bayi sudah sakit sebelum dibawa ke rumah sakit. Berdasarkan keterangan, bayi tersebut masuk sekitar pukul 06.30 pagi, sempat dirawat dan meninggal pukul 20.00. Dirinya berharap agar keadaan seperti ini tak terulang lagi karena di saat kondisi kabut asap ini harus dapat lebih menjaga kesehatan.
Ia menyarankan kepada orangtua yang memiliki anak masih balita agar jangan telat membawa anak berobat apabila demam. “Jangan sampai menunggu demam berhari-hari, kalau panas langsung bawa ke rumah sakit terdekat atau balai pengobatan yang ada,” urainya.
Dinas Kesehatan Provinsi Sumsel mencatat penderita ISPA mulai Oktober hingga per 7 Oktober 2015 yakni sebanyak 6.398 penderita. Untuk Kota Palembang saja selama Oktober capai 3.281 penderita. Sedangkan untuk bulan September saja penderita ISPA tercatat 26.462 se Sumsel dan Palembang selama September 15.474 penderita. #idz