Kaki Bukit Asam dan Kuwari Digusur, Air Bersih Diputus

31

Muaraenim, BP

Picture 5811Kegiatan penambangan batubara di kawasan Bukit Munggu Tanjung Enim, telah meresahkan warga di dua rukun tetangga (RT)  yang bermukim di kawasan Bukit Munggu, Kelurahan Pasar Tanjungenim, Kecamatan Lawang Kidul, Kabupaten Muaraenim. Penambangan yang dilakukan perusahaan BUMN ini terkesan tidak lagi mengedepankan norma-norma lingkungan dan tidak mengenal rasa kemanusiaan demi mendapatkan keuntungan yang sebesar-besarnya. Maklum saja PT BA ini perusahaan yang sudah go public yang bukan tidak mungkin pemegang sahamnya banyak dari perusahaan asing.
                Tidak lama lagi perusahaan ini akan menambang lahan yang dihuni sekitar 200 Kepala Keluarga (KK). Saat ini penambangan tersebut sudah berada di belakang rumah warga yang jaraknya hanya tinggal 50-100 meter lagi. Pada kegiatan penambangan itu, pihak PT BA telah menggusur Pondok Pesantren Daarul Yatim.
             Pondok pesantern tersebut dipindahkan ke lokasi lain. Lahan yang dibangun pondok pesantren tersebut telah ditambang. Ironisnya lagi, kegiatan penambangan yang dilakukan PT BA sudah merusak akses air bersih masyarakat, warga RT 3, Bukit Munggu.
              Lebih mengerikan lagi, kegiatan penambangan itu sudah menggusur kaki Bukit Asam dan kaki bukit Kuwari. Tidak menutup kemungkinan, jika musim hujan nanti kedua bukit itu akan mengalami longsor cukup hebat karena kaki bukitnya sudah digusur dijadikan tambang.
              “Sarana air bersih ini dibangun bantuan bupati almarhum H Kalamudin tahun 2008 lalu. Namun sejak ada kegiatan penambangan batubara PT BA yang berlangsung sudah 2 bulan ini, akses air bersih ini telah diputus. Karena jalur pipa yang dipasang di sumber air Bukit Munggu telah diputus sejak adanya penambangan,” jelas Kerua RT 03, Rukman Suhadi, Selasa (6/10).
               Menurutnya, kegiatan penambangan yang dilakukan tidak ada sosialisasi kepada masyarakat. “Terus terang kami sekarang ini benar benar resah tinggal disini sejak adanya kegiatan penambangan ini,” jelas Rukman. Karena alat berat yang digunakan untuk menambang telah menimbulkan kebisingan, kemudian banyak debu tambang masuk ke rumah warga dan yang terakhir kegiatan peledakan balasting juga menimbulkan kebisingan. #osk
Baca Juga:  Pembahasan LKPJ Minta Hadirkan Sekda
Komentar Anda
Loading...