2016, Polsri Miliki Hanggar Pesawat

28

Palembang, BP

Guna menyukseskan kelas mekanik pesawat terbang yang baru dibuka mulai tahun ini yakni konsentrasi Power Plant pada jurusan Teknik Mesin dan Aircraft Maintenance (avionics) pada jurusan Teknik Elektro. Politeknik Sriwijaya (Polsri) akan membangun hanggar (bangun tempat menyimpan pesawat) di lingkungan kampus, untuk menunjang kegiatan program studi (prodi) penerbangan kerja sama dengan Garuda Maintenance Facilities.

Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Politeknik Sriwijaya (Polsri) Edy Aswan mengatakan, untuk prodi yang baru dimulai kali ini, pihaknya sudah meyiapkan lahan seluas 600 meter persegi di sekitar kampus dan ditargetkan selesai pada 2016.

Baca Juga:  Semangat Kolaborasi Pertamina Patra Niaga Kilang Plaju dan Disnakertrans Demi Wujudkan Generasi Siap Kerja melalui Pelatihan dan Sertifikasi Operator Scaffolding

“Saat ini sedang proses penyediaan lahan. Harapannya pada tahun kedua mahasiswa sudah bisa praktek sendiri di laboratorium kampus,” kata Edy Aswan kepada BeritaPagi, Kamis (10/9).

Menurutnya, untuk tahun ini sebanyak 48 mahasiswa telah bergabung dalam prodi penerbangan ini yang merupakan hasil seleksi ketat dari 670 orang. Nantinya ke-48 mahasiswa ini terikat kontrak kerja dengan PT Garuda Indonesia untuk diperkerjakan di Garuda Maintenance Facilities.

Baca Juga:  M Toha Anggota DPRD Provinsi Sumsel, Khotib Shalat Ied di Masjid Al-Ikhlas Pakjo

“Lantaran sudah ikatan dinas tersebut, berbagai kebutuhan didukung oleh Garuda seperti penyediaan alat praktek mesin pesawat dan dosen pengajar,” ujarnya.

Lebih lanjut Edy menjelaskan, karena pola pendidikan sudah berstandar internasional, para mahasiswa ini akan mendapatkan sertifikat keahlian bidang perawatan pesawat tingkat internasional keluaran dari Amerika Serikat.

“Jadi lulusan benar-benar sudah sesuai standar,” tegasnya.

Baca Juga:  Karantina Sumsel Sertifikasi Kopi Robusta Pagaralam : Jamin Aman Masuk Australia

Kata dia, pemerintah mendirikan prodi penerbangan di enam kampus politeknik seluruh Indonesia untuk menyerap dana perawatan dan perbaikan mesin pesawat yang mencapai Rp3 triliun per tahun. Dari dana tersebut, hanya 30 persen yang mampu diserap dalam negeri sementara sisanya diambil perusahaan asing.

“Program studi ini masuk dalam program khusus kerja sama antar lembaga di bawah naungan jurusan Teknik Elektro dan Teknik Mesin,” pungkasnya.

#adk

 

Komentar Anda
Loading...