Palembang,BP– Ketika api telah padam, bukan berarti seluruh luka ikut menghilang. Kebakaran yang terjadi pada 19 Oktober 2026 di kawasan 8 Ulu, Palembang, tidak hanya meninggalkan kerusakan fisik, tetapi juga berpotensi menimbulkan beban emosional bagi warga terdampak. Kehilangan tempat tinggal, kerusakan harta benda, dan ketidakpastian kehidupan setelah bencana dapat menjadi tantangan tersendiri bagi mereka yang harus kembali menata kehidupan. Di tengah situasi tersebut, kepedulian tidak cukup hanya diwujudkan melalui bantuan materi, tetapi juga melalui kehadiran, perhatian, dan dukungan psikologis.
Berangkat dari kepedulian kemanusiaan tersebut, Pusat Layanan Psikologi (PLP) Universitas Bina Darma (UBD) menggerakkan tim Psychological First Aid (PFA) atau Pertolongan Pertama Psikologis bagi warga terdampak kebakaran di 8 Ulu, Palembang. Sebanyak 50 personel relawan, yang terdiri atas 4 orang dosen dan 46 mahasiswa dari Program Studi Psikologi dan Fakultas Sosial Humaniora (FSH), terlibat dalam kegiatan kemanusiaan ini.
Program tersebut diinisiasi oleh Dr. Iryah, S.Psi., M.A., selaku Ketua Pusat Layanan Psikologi (PLP) sekaligus Ketua Program Studi Psikologi Universitas Bina Darma (UBD), yang memandang bahwa kepedulian terhadap korban bencana harus diwujudkan melalui tindakan nyata. Keprihatinan terhadap kondisi warga yang terdampak menggerakkan dirinya bersama tim untuk hadir langsung di tengah masyarakat, memberikan dukungan psikologis, serta membantu warga menghadapi situasi sulit setelah bencana.
Sejak tanggal 20 Oktober 2026, tim relawan PFA-PLP UBD mulai bergerak sebagai bentuk respons terhadap peristiwa kebakaran tersebut. Upaya koordinasi dan persiapan dilakukan untuk mendukung pelaksanaan kegiatan kemanusiaan sebagai rangkaian kegiatan sebagai Fasilitator (ToT) langsung 1 embat Dosen Program Studi Psikologi yang Berpengalaman dalam penanganan PFA oleh Nuzsep Almigo, M.Si., Ph.D. Bagi tim PFA-PLP UBD, pemulihan pascabencana bukan semata-mata tentang membangun kembali tempat tinggal, melainkan juga tentang membantu manusia menemukan kembali rasa aman, kekuatan, dan harapan. Kehadiran relawan diharapkan menjadi pengingat bahwa warga tidak menghadapi masa sulit ini sendirian.
Bersinergi dengan Masyarakat dan Tenaga Profesional
Pelaksanaan kegiatan PFA ini dilakukan melalui koordinasi dengan Ketua RT setempat untuk mendukung kelancaran kegiatan, komunikasi dengan warga, serta penyesuaian bentuk bantuan dengan kebutuhan masyarakat terdampak.
Tim PFA-PLP UBD juga bekerja sama dengan Tim Psikolog Kresna HMPSI Wilayah Sumatera Selatan dalam upaya penanganan dampak psikologis dan trauma pascakebakaran melalui kegiatan Trauma Healing. Kolaborasi ini menjadi bagian penting dalam menghadirkan dukungan yang lebih terarah, dengan tetap memperhatikan kebutuhan, kondisi, dan kesiapan setiap warga.
Melalui pendekatan yang humanis, relawan berupaya membangun komunikasi yang nyaman, mendengarkan pengalaman warga tanpa menghakimi, memberikan informasi yang membantu, serta mengenali kebutuhan dukungan lanjutan. Prinsip utama PFA bukan memaksa korban untuk menceritakan pengalaman traumatisnya, melainkan hadir dengan empati, membantu memulihkan rasa aman, dan menghubungkan warga dengan sumber bantuan yang diperlukan.
“Ruang Pulih Ceria”: Menghadirkan Kembali Senyum Anak-Anak
Salah satu program unggulan dalam kegiatan ini adalah “Ruang Pulih Ceria”, sebuah program dukungan psikososial dan trauma healing yang ditujukan bagi anak-anak terdampak kebakaran.
Anak-anak merupakan kelompok yang perlu memperoleh perhatian khusus setelah mengalami peristiwa yang mengganggu rasa aman dan rutinitas mereka. Dampak bencana pada anak tidak selalu terlihat secara langsung. Sebagian mungkin menunjukkan kecemasan, menjadi lebih pendiam, sulit berkonsentrasi, atau membutuhkan kedekatan dan perhatian lebih dari orang dewasa di sekitarnya.
Melalui Ruang Pulih Ceria, tim berupaya menghadirkan ruang yang ramah, aman, dan menyenangkan bagi anak-anak untuk kembali berinteraksi, bermain, mengekspresikan perasaan, serta membangun hubungan positif dengan lingkungan sekitarnya.
Ketua Tim PFA-PLP UBD, Neyza Saharani, menyampaikan bahwa salah satu kegiatan penting dalam program Ruang Pulih Ceria adalah psikoedukasi yang dikemas secara menarik dan sesuai dengan karakteristik anak-anak.
“Melalui Ruang Pulih Ceria, kami ingin menghadirkan pengalaman yang membuat anak-anak merasa diterima, didengarkan, dan tetap memiliki ruang untuk tersenyum di tengah situasi yang tidak mudah. Psikoedukasi tidak harus disampaikan dengan cara yang kaku. Anak-anak dapat belajar mengenali perasaan, memahami respons emosional, dan menemukan cara sederhana untuk menenangkan diri melalui aktivitas yang menyenangkan,” demikian pesan yang ingin disampaikan melalui program ini.
Kegiatan psikososial tersebut bukan bertujuan menghapus pengalaman sulit yang telah dialami anak-anak, melainkan membantu mereka memperoleh kembali rasa aman, membangun interaksi sosial yang positif, dan memperkuat kemampuan menghadapi perubahan setelah bencana. Pendampingan juga diharapkan dapat menjadi pintu awal untuk mengenali anak-anak yang membutuhkan perhatian lebih lanjut dari tenaga profesional.
Dari Kepedulian Menjadi Gerakan Kemanusiaan
Keterlibatan 50 personel relawan ini menunjukkan bahwa perguruan tinggi memiliki peran penting dalam merespons persoalan kemanusiaan di tengah masyarakat. Ilmu psikologi tidak hanya dipelajari di ruang kelas, tetapi juga diterapkan melalui pengabdian yang menyentuh kebutuhan nyata masyarakat.
Bagi para mahasiswa, kegiatan ini menjadi kesempatan untuk belajar secara langsung tentang empati, komunikasi suportif, etika pendampingan, kerja sama tim, dan tanggung jawab sosial. Dalam situasi bencana, kemampuan mendengarkan dengan tulus dan menghormati pengalaman orang lain menjadi bagian penting dari proses membantu.
Namun, kehadiran relawan bukan untuk menggantikan peran keluarga, masyarakat, maupun tenaga profesional. Sebaliknya, kegiatan ini berupaya memperkuat jejaring dukungan agar warga terdampak memiliki akses terhadap bantuan yang sesuai dengan kebutuhannya.
Semangat tersebut sejalan dengan pesan yang diusung dalam kegiatan ini: “Bersama Pulih, Bersama Menguatkan.” Sebuah ajakan bahwa pemulihan membutuhkan kepedulian bersama, kolaborasi lintas pihak, dan komitmen untuk terus hadir setelah perhatian terhadap bencana mulai berkurang.
Karena Pemulihan Juga Membutuhkan Hati yang Peduli
Kebakaran mungkin telah meninggalkan jejak kerusakan pada bangunan dan lingkungan. Namun, di balik kondisi tersebut, ada manusia yang sedang berusaha menata kembali kehidupannya, orang tua yang memikirkan masa depan keluarga, serta anak-anak yang membutuhkan rasa aman untuk kembali menjalani keseharian.
Melalui PFA-PLP Universitas Bina Darma, Dr. Iryah bersama tim, mahasiswa relawan, Ketua RT, serta Tim Psikolog Kresna HMPSI Wilayah Sumatera Selatan berupaya menegaskan bahwa dukungan terhadap korban bencana harus mencakup aspek fisik, sosial, dan psikologis.
Sebab, membantu sesama bukan hanya tentang apa yang dapat diberikan, tetapi juga tentang kesediaan untuk hadir, mendengarkan, dan menguatkan.
Dari 8 Ulu, pesan kemanusiaan itu kembali digaungkan: setiap warga berhak memperoleh dukungan untuk pulih, setiap anak berhak kembali merasakan keceriaan, dan tidak seorang pun seharusnya merasa sendirian dalam menghadapi masa sulit.#udi