
Palembang, BP– Disaat jam-jam sibuk di kota Jakarta, kita tidak hanya melihat kendaraan yang bergerak lambat karena macet atau klakson yang saling bersahutan, atau orang-orang yang berjalan hilir mudik mengejar waktu. Di balik hiruk-pikuk kota Jakarta , ada persoalan yang lebih mendasar yaitu bagaimana sebuah kota menghubungkan jutaan perjalanan manusia tanpa membuat waktu, ruang.
Bagi pekerja yang harus tiba di kantor sebelum pagi beranjak siang, mahasiswa yang mengejar jadwal kuliah, atau warga yang datang dari kawasan pinggiran, perjalanan bukanlah urusan berpindah dari satu tempat ketempat yang lain semata.
Di tengah persoalan tersebut , Moda Raya Terpadu (MRT) Jakarta menghadirkan pilihan yang mengubah cara sebagian warga menjalani perjalanan sehari-hari. Kereta yang melintas di jalur layang dan bawah tanah bukan hanya menawarkan perpindahan yang lebih teratur, tetapi juga memperkenalkan pengalaman baru tentang ketepatan waktu, disiplin ruang, dan penggunaan transportasi publik. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mencatat MRT sebagai bagian penting dari sistem transportasi modern yang menghubungkan Lebak Bulus hingga Bundaran Hotel Indonesia. (https://www.jakarta.go.id/mrt)
Namun, ukuran keberhasilan transportasi modern tidak berhenti pada kereta yang datang sesuai jadwal atau stasiun yang tampak bersih dan megah. Ukuran yang lebih penting adalah sejauh mana transportasi itu membuat kota lebih mudah dijangkau, membuka kesempatan bagi lebih banyak orang, dan mengurangi ketergantungan pada kendaraan pribadi. Di titik inilah perjalanan MRT Jakarta menjadi bagian dari cerita yang menarik yaitu bagaimana upaya menata Jakarta sebagai kota global yang tidak hanya bergerak cepat, tetapi juga memberi ruang bagi warganya untuk hidup lebih baik.
Sebelum MRT beroperasi, perjalanan di Jakarta ternyata menjadi bagian dari rutinitas yang menyita energi. Pertumbuhan kawasan perkotaan, pemusatan kegiatan ekonomi, dan pergerakan pekerja dari berbagai wilayah membentuk kebutuhan mobilitas yang tidak bisa diselesaikan hanya dengan menambah ruang bagi kendaraan pribadi.
MRT sendiri menawarkan pendekatan berbeda melalui angkutan massal berbasis rel yang memiliki lintasan dan pola operasi tersendiri. Pada Fase 1, jalur sepanjang sekitar 15,7 kilometer menghubungkan Lebak Bulus dengan Bundaran HI melalui 13 stasiun. Infrastruktur ini menjadi salah satu fondasi pengembangan jaringan transportasi publik Jakarta yang lebih terintegrasi. (https://www.jakarta.go.id/mrt)
Perubahan ini tidak semata-mata menyangkut kecepatan kereta. Ketika perjalanan dapat direncanakan berdasarkan jadwal layanan, masyarakat kini memperoleh kepastian yang lebih baik dalam menyusun kegiatan sehari-hari. Waktu yang sebelumnya sulit diperkirakan di jalan dapat dikelola dengan lebih terukur, meskipun perjalanan dari rumah menuju stasiun dan dari stasiun menuju tujuan akhir tetap memakan waktu.
Kepastian tersebut penting bagi sebuah kota, karena transportasi yang andal membantu pekerja mencapai tempat kerja, memudahkan masyarakat mengakses layanan, serta mendukung kegiatan usaha yang memerlukan pergerakan orang secara teratur.
Meski demikian, MRT tidak dapat sendirian mengatasi seluruh persoalan mobilitas Jakarta. Jangkauan layanan, akses menuju stasiun, keterhubungan dengan angkutan pengumpan, dan keterjangkauan biaya perjalanan tetap menentukan apakah manfaatnya dapat dirasakan secara luas. Karena itu, keberhasilan MRT perlu dibaca sebagai bagian dari sistem perkotaan, bukan sebagai proyek kereta yang berdiri sendiri.
Jika Fase 1 memperkenalkan perjalanan MRT dari selatan menuju pusat Jakarta, Fase 2A membawa proyek itu lebih jauh ke kawasan pusat kota hingga Kota Tua. Perpanjangan ini penting karena menghubungkan kawasan bisnis, pemerintahan, perdagangan, dan ruang bersejarah yang selama ini menjadi bagian dari denyut kehidupan kota Jakarta.
Menurut informasi resmi pihak PT MRT Jakarta (Perseroda), pembangunan Fase 2A membentang dari Bundaran HI menuju Kota dan dibangun melalui beberapa paket pekerjaan, termasuk koridor Thamrin–Monas, Harmoni–Sawah Besar–Mangga Besar, serta Glodok–Kota. (https://konstruksimedia.com/mrt-fase-2a-bundaran-hi-kota-capai-progres-6510-persen-ditargetkan-beroperasi-2029)
Di antara bagian proyek tersebut, Stasiun Thamrin dan Stasiun Monas memiliki arti strategis. Keduanya berada di kawasan yang memuat pusat kegiatan ekonomi, administrasi pemerintahan, ruang publik, dan sejumlah tujuan penting di ibu kota. Kehadiran stasiun bawah tanah di kawasan ini berpotensi memperluas pilihan perjalanan masyarakat sekaligus memperkuat hubungan antara pusat bisnis dan pusat pemerintahan.
Sedangkan Perkembangan pembangunan MRT Jakarta Fase 2A Lin Utara Selatan terus menunjukkan kemajuan signifikan. Pembangunannya telah mencapai 62,68 persen dari target 61,92 persen, per 25 Juli 2026.( https://m.beritajakarta.id/read/154814/konstruksi-mrt-fase-2a-capai-6268-persen)
Dan di targetkan segmen Bundaran HI–Monas beroperasi pada akhir 2027, sementara segmen Harmoni–Kota ditargetkan selesai pada akhir 2029. Dengan demikian, penyelesaian fisik stasiun harus dibedakan dari kesiapan operasional yang juga memerlukan sistem perkeretaapian, pengujian, keselamatan, dan kesiapan pelayanan. (https://konstruksimedia.com/mrt-fase-2a-bundaran-hi-kota-capai-progres-6510-persen-ditargetkan-beroperasi-2029)
Bagi pengguna, pembangunan stasiun bawah tanah mungkin hanya terlihat sebagai pagar proyek, perubahan jalur kendaraan, atau pekerjaan konstruksi yang berlangsung bertahun-tahun. Di balik itu, terdapat pekerjaan teknik yang rumit untuk membangun fasilitas transportasi di kawasan kota yang sudah padat aktivitas. Proses tersebut perlu dijalankan bersamaan dengan upaya menjaga keselamatan, mengelola dampak terhadap lalu lintas, dan memulihkan akses pejalan kaki di sekitar proyek.
PT MRT Jakarta (Perseroda) bersama Dinas Perhubungan DKI Jakarta sendiri menerapkan rekayasa lalu lintas secara bertahap di sepanjang Jalan M.H. Thamrin (Mulai dari Patung Kuda/Bundaran Air Mancur Monas hingga Stasiun MRT Bundaran HI ) hingga November 2026 untuk mendukung penyelesaian konstruksi Paket Kontrak 201 (CP 201) Stasiun Thamrin dan Stasiun Monas. (https://pusat.jakarta.go.id/index.php/berita/general/perekonomian-dan-pembangunan/ini-rekayasa-lalu-lintas-pekerjaan-lanjutan-mrt-fase-2)
Tantangan berikutnya adalah memastikan stasiun yang selesai dibangun benar-benar terhubung dengan lingkungan sekitarnya. Stasiun tidak hanya menjadi ruang yang hanya dilewati penumpang, tetapi menjadi simpul yang memudahkan orang mencapai kantor, kawasan perdagangan, fasilitas pemerintahan, dan ruang publik dengan perjalanan lanjutan.
Di sinilah Fase 2A akan diuji. Keberhasilannya bukan hanya ketika kereta mencapai kawasan Monas atau Kota, melainkan ketika masyarakat dapat memanfaatkan perluasan jaringan tersebut tanpa menghadapi hambatan baru dalam perjalanan.
Walaupun demikian, istilah kota global kerap dikaitkan dengan gedung tinggi, pusat bisnis, investasi internasional, dan infrastruktur berteknologi maju. Namun, sebuah kota juga dinilai dari kemampuan layanan dasarnya mendukung kehidupan sehari-hari, termasuk bagaimana penduduknya dapat bergerak dengan aman, efisien, dan terjangkau.
MRT Jakarta (Perseroda) menekankan perlunya mengubah paradigma pembangunan kota yang terlalu bergantung pada kendaraan pribadi menuju pola yang lebih mengutamakan pejalan kaki dan transportasi umum massal. Konsep ini dikenal sebagai transit-oriented development atau TOD. (https://smartcity.jakarta.go.id/id/blog/mengenal-transit-oriented-development-di-jakarta)
Melalui pendekatan tersebut, stasiun dan jaringan transportasi tidak dipandang terpisah dari lingkungan tempat orang tinggal, bekerja, berbelanja, dan beraktivitas. Perencanaan kawasan diarahkan agar perjalanan dengan transportasi umum dapat terhubung dengan kegiatan di sekitarnya, sekaligus memberi ruang bagi berjalan kaki dan penggunaan ruang publik.
Prinsip itu penting bagi Jakarta karena transportasi yang baik tidak hanya memindahkan penumpang dari satu stasiun ke stasiun lain. Transportasi juga seharusnya membantu mengurangi kebutuhan perjalanan menggunakan kendaraan pribadi, memperluas akses terhadap pekerjaan, dan mendukung kawasan perkotaan yang lebih efisien.
Namun, manfaat TOD tidak muncul otomatis setelah stasiun berdiri. Kualitas trotoar, keamanan penyeberangan, kesinambungan jalur pejalan kaki, ketersediaan ruang publik, serta keterjangkauan tempat tinggal di sekitar simpul transit turut menentukan siapa yang memperoleh manfaat dari pengembangan kawasan tersebut.
Jakarta memang membutuhkan transportasi yang mendukung kegiatan ekonomi, tetapi juga harus memastikan bahwa mobilitas tidak menjadi hak istimewa bagi kelompok tertentu. Kota global yang kuat adalah kota yang mampu menghubungkan pusat bisnis dengan permukiman, fasilitas pendidikan, layanan kesehatan, dan ruang kehidupan warga lainnya melalui sistem yang saling mendukung.
Salah satu persoalan paling nyata dalam transportasi perkotaan adalah perjalanan yang terputus-putus. Penumpang mungkin dapat menggunakan kereta dengan nyaman, tetapi masih harus menghadapi kesulitan ketika berpindah ke bus, mencari kendaraan pengumpan, atau berjalan kaki menuju tujuan akhir.
Karena itu, integrasi antarmoda menjadi bagian penting dari pengembangan MRT Jakarta. Integrasi bukan hanya tentang dua moda yang berada berdekatan, melainkan juga mengenai kemudahan perpindahan, keterhubungan jalur, informasi perjalanan, sistem pembayaran, dan pengalaman pengguna secara keseluruhan.
Kerjasama integrasi antarmoda yang dimaksud adalah kerja sama dengan operator lain, termasuk Transjakarta, serta upaya memperbaiki akses pejalan kaki dari dan menuju stasiun. Fasilitas pendukung yang dijelaskan mencakup titik naik-turun penumpang, halte bus, dan area parkir. (https://transjakarta.co.id/berita/perkuat-resiliensi-transportasi-publik-transjakarta-dan-operator-antarmoda-tingkatkan-kolaborasi-layanan-yang-terintegrasi)
Selain itu, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta juga mengembangkan hubungan antara berbagai moda transportasi, termasuk MRT, Transjakarta, LRT Jakarta, dan KRL Commuter Line. Jaringan tersebut menjadi dasar untuk membangun sistem perjalanan yang lebih terhubung bagi warga Jakarta maupun masyarakat dari wilayah penyangga. (https://www.jakarta.go.id/moda-transportasi-publik)
Bagi penumpang mungkin menilai kualitas integrasi justru sering ditentukan oleh hal-hal yang tampak sederhana. Apakah jalur menuju halte mudah ditemukan? Apakah penyeberangan aman? Apakah trotoar dapat digunakan tanpa harus menghindari kendaraan yang parkir? Apakah informasi perpindahan moda cukup jelas bagi orang yang baru pertama kali datang?
Pertanyaan-pertanyaan itu menunjukkan bahwa perjalanan dengan transportasi publik merupakan rangkaian pengalaman, bukan sekadar satu perjalanan kereta. Jika perpindahan antarmoda menyulitkan, sebagian orang akan kembali mempertimbangkan kendaraan pribadi meskipun layanan MRT di dalam jalurnya telah memenuhi standar yang baik.
Dengan perluasan menuju Thamrin dan Monas, integrasi menjadi semakin penting. Stasiun-stasiun tersebut perlu terhubung secara efektif dengan kawasan perkantoran, halte, trotoar, dan tujuan masyarakat di sekitarnya. Perencanaan yang baik akan membuat penumpang tidak hanya mudah memasuki stasiun, tetapi juga mudah melanjutkan perjalanan setelah keluar dari kereta.
Membangun konektivitas berarti mengurangi hambatan pada setiap tahap perjalanan. Kereta yang cepat merupakan satu bagian dari solusi disamping akses yang aman dan mudah menuju kereta merupakan bagian lain yang sama pentingnya.
Kualitas transportasi publik juga dapat diukur dari kemampuannya melayani orang-orang dengan kebutuhan yang berbeda. Penumpang lanjut usia, ibu hamil, orang tua yang membawa anak, penyandang disabilitas, dan warga yang sedang mengalami keterbatasan fisik membutuhkan fasilitas yang memungkinkan mereka melakukan perjalanan secara aman dan mandiri.
Pihak PT MRT Jakarta (Perseroda) menjelaskan bahwa pendekatan desain universal diterapkan untuk membantu pengguna dengan kebutuhan beragam. Fasilitas yang disebutkan mencakup lift, ubin pemandu bagi penyandang tunanetra, pintu penumpang yang lebih lebar, toilet aksesibel, kursi prioritas, informasi visual dan suara, serta bantuan petugas. (https://x.com/mrtjakarta/status/1659506230073896961)
Keberadaan fasilitas tersebut merupakan bagian penting dari layanan publik yang berorientasi pada manusia. Namun, inklusivitas tidak cukup dinilai berdasarkan jumlah fasilitas yang tersedia. Fasilitas harus berfungsi, jalur akses harus tersambung, informasi harus mudah dipahami, dan petugas harus mampu memberikan bantuan ketika dibutuhkan.
Bagi pengguna kursi roda, misalnya, keberadaan lift di dalam stasiun tidak banyak membantu jika trotoar menuju pintu masuk tidak dapat dilalui. Bagi penyandang tunanetra, ubin pemandu perlu terhubung secara konsisten dan tidak terhalang. Sementara itu, penumpang dengan keterbatasan pendengaran membutuhkan informasi visual yang jelas, terutama ketika terjadi perubahan layanan atau keadaan darurat.
MRT Jakarta juga menyediakan fasilitas Digital Intelligent Assistant (DINA) yaitu fasilitas layanan digital yang diciptakan untuk menunjang kenyamanan pada saat menggunakan MRT Jakarta dan fasilitas ini dapat digunakan seluruh pengguna MRT serta ramah disabilitas. Pemprov DKI bersama PT MRT meresmikan DINA pada Jumat, 3 Desember 2021. DINA dapat memberikan sejumlah informasi terkait jadwal keberangkatan, petunjuk arah & lokasi, laporan atau keluhan, serta bantuan kehadiran petugas. Layanan DINA baru diterapkan di tiga negara yaitu Amerika, Hongkong, dan Kanada.(https://aici-umg.com/article/digital-intelligent-assistant-mrt-fasilitas-digital-cerdas-yang-ramah-disabilitas)
Meski demikian, perluasan jaringan menuntut konsistensi. Standar aksesibilitas yang baik pada jaringan yang telah beroperasi harus tetap dipertahankan pada stasiun-stasiun baru, termasuk Thamrin dan Monas, hingga perjalanan lanjutan menuju ruang publik dan fasilitas di sekitarnya.
Transportasi publik yang inklusif pada akhirnya bukan sekadar layanan untuk kelompok tertentu. Infrastruktur yang ramah bagi pengguna kursi roda termasuk orang tua, penumpang yang membawa barang, dan warga yang sedang mengalami cedera dan sebagainya. Ketika desain kota memperhitungkan kebutuhan beragam pengguna, manfaatnya dapat dirasakan lebih luas.
Transformasi transportasi tidak hanya terjadi melalui pembangunan jalur dan stasiun. Perubahan juga berlangsung dalam kebiasaan masyarakat: bagaimana mereka merencanakan perjalanan, menunggu, berpindah moda, dan menggunakan ruang bersama.
MRT memperkenalkan pengalaman perjalanan yang mengandalkan jadwal, penanda arah, informasi penumpang, dan aturan penggunaan ruang di stasiun serta kereta. Bagi pengguna yang terbiasa berkendara sendiri, pengalaman ini menuntut penyesuaian terhadap pola perjalanan yang lebih kolektif.
Bagi sebuah kota seperti Jakarta, perubahan yang paling berarti adalah ketika transportasi publik menjadi pilihan yang wajar untuk berbagai keperluan, bukan hanya alternatif saat jalan macet. Orang menggunakan kereta karena dapat diandalkan, terhubung dengan moda lain, dan membantu mereka mencapai tujuan dengan pengalaman perjalanan yang lebih baik.
Kebiasaan tersebut memerlukan dukungan yang konsisten. Informasi layanan harus mudah diperoleh, fasilitas stasiun perlu dirawat, keselamatan harus dijaga, dan gangguan operasional harus ditangani secara transparan. Kepercayaan masyarakat dibangun melalui pengalaman sehari-hari yang berulang, bukan semata-mata melalui kampanye.
Ketika semakin banyak warga dapat mengandalkan angkutan umum, kota memiliki peluang untuk mengurangi kemacetan di jalan. Namun, perubahan tersebut baru akan berlangsung lebih luas jika sistem transportasi menawarkan kemudahan yang nyata dari awal hingga akhir perjalanan.
Stasiun dapat menjadi pintu masuk menuju perubahan lingkungan di sekitarnya. Ketika akses transportasi membaik, kawasan dapat memperoleh peluang baru bagi aktivitas perdagangan, jasa, ruang publik, dan pergerakan pengunjung.
Selain itu , MRT Jakarta juga mengembangkan mengembangkan konsep kawasan berorientasi transit atau transit oriented development (TOD) di beberapa stasiun yang ada di fase 1 koridor selatan – utara. (https://x.com/mrtjakarta/status/1663402153816514562)
Potensi ekonomi itu dapat muncul melalui bertambahnya arus pengunjung, kemudahan akses pekerja, dan peluang usaha yang melayani pengguna transportasi. Kawasan yang sebelumnya sulit dijangkau dengan berjalan kaki juga berpotensi menjadi lebih aktif jika konektivitas dan ruang publiknya ditata dengan baik.
Namun, potensi tidak sama dengan dampak yang telah terbukti. Untuk menilai pengaruh MRT terhadap perekonomian kawasan, diperlukan data mengenai aktivitas usaha, perubahan aksesibilitas, investasi, penggunaan ruang, dan perkembangan kondisi sosial masyarakat. Tanpa data pembanding, peningkatan aktivitas di sekitar stasiun tidak dapat seluruhnya dianggap sebagai akibat langsung dari keberadaan MRT.
Di sinilah pembangunan transportasi harus disertai perencanaan kota yang berpihak pada kualitas hidup. Trotoar yang aman, ruang terbuka yang nyaman, penyeberangan yang mudah digunakan, dan hubungan yang baik dengan bangunan di sekitarnya dapat membuat kawasan lebih hidup sekaligus lebih ramah bagi masyarakat.
Pembangunan yang berorientasi transit juga perlu memperhatikan dampaknya terhadap warga dan pelaku usaha yang sudah lebih dahulu tinggal atau bekerja di kawasan tersebut. Kenaikan nilai lahan dan perubahan fungsi ruang perlu dikelola agar pengembangan kawasan tidak hanya menguntungkan pemilik modal, tetapi juga memberi kesempatan bagi usaha kecil dan masyarakat setempat untuk berkembang.
Jika dirancang secara cermat, stasiun bukan hanya tempat orang turun dari kereta. Stasiun dapat menjadi simpul aktivitas yang menghubungkan perjalanan, pekerjaan, perdagangan, dan kehidupan publik.
Untuk itu, transportasi berbasis rel berkapasitas besar menawarkan peluang untuk mendukung perjalanan yang lebih efisien apabila mampu menarik perpindahan dari kendaraan pribadi dan terhubung dengan jaringan angkutan umum lainnya. Namun, dampak lingkungan bersihnya perlu dihitung dengan memperhatikan konsumsi listrik, emisi operasional, jumlah penumpang, dan perjalanan yang benar-benar beralih dari moda lain.
Keberlanjutan juga menyangkut pemanfaatan ruang. Sistem transportasi yang terhubung dengan jalur pejalan kaki dan kawasan berorientasi transit dapat membantu mengurangi kebutuhan perjalanan bermotor untuk sebagian aktivitas sehari-hari. Pada saat yang sama, ruang kota dapat ditata agar lebih nyaman bagi orang yang berjalan kaki dan menggunakan fasilitas publik.
Bagi Jakarta, pembangunan MRT menjadi peluang untuk menyatukan agenda transportasi, tata ruang, kualitas udara, dan kehidupan warga. Peluang tersebut akan lebih kuat jika didukung data yang terbuka, evaluasi berkala, serta kebijakan yang mendorong masyarakat berpindah ke transportasi publik tanpa mengabaikan kebutuhan kelompok yang belum terjangkau jaringan.
Perjalanan menuju kota global seperti Jakarta tidak dapat diukur hanya melalui panjang jalur rel, kecanggihan teknologi, atau kemegahan stasiun. Kota juga harus mampu menyediakan layanan yang konsisten, menghubungkan kawasan secara efektif, menjaga keselamatan, dan memastikan fasilitasnya dapat digunakan oleh masyarakat dengan kebutuhan berbeda.
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, dalam keterangan mengenai pelayanan publik pada forum internasional World Cities Summit 2026, menyebut penguatan transportasi sebagai bagian dari upaya Jakarta meningkatkan layanan dasar dan daya saing kota. Pemerintah juga menyampaikan rencana pengembangan jaringan MRT hingga 46,5 kilometer pada 2034. (https://www.jakarta.go.id/siaran-pers/6783-SP-HMS-06-2026)
Rencana perluasan tersebut menunjukkan bahwa MRT bukan sekadar proyek jangka pendek, melainkan bagian dari arah pembangunan transportasi perkotaan. Namun, pencapaian kota global tetap membutuhkan kesinambungan kebijakan, dukungan pembiayaan, pemeliharaan aset, pengembangan sumber daya manusia, dan integrasi antarmoda yang dapat diandalkan.
Dalam konteks ini, Stasiun baru Thamrin dan Monas nantinya berpotensi memperkuat akses ke kawasan penting Jakarta sekaligus menguji kemampuan pemerintah dan operator dalam menyelaraskan infrastruktur, ruang publik, keselamatan, dan kebutuhan pengguna.
MRT Jakarta telah menyediakan fondasi penting bagi sistem transportasi berbasis rel yang modern. Fase 2A menawarkan peluang untuk memperluas jangkauan ke kawasan pusat kota, sementara pengembangan integrasi dan kawasan berorientasi transit membuka kesempatan untuk menghubungkan transportasi dengan aktivitas ekonomi serta kehidupan masyarakat.
Karena itu, keberhasilan MRT Jakarta sebaiknya tidak hanya diukur melalui seberapa jauh kereta dapat melaju atau seberapa besar stasiun yang dibangun. Ukuran yang lebih bermakna adalah apakah masyarakat memiliki lebih banyak pilihan untuk mencapai tujuan, apakah perjalanan menjadi lebih mudah direncanakan, dan apakah ruang kota semakin nyaman untuk digunakan bersama.
Ketika Stasiun Thamrin dan Monas kelak beroperasi sesuai kesiapan teknis dan keselamatan, keduanya akan menambah pilihan perjalanan di jantung ibu kota Jakarta . Akan tetapi, makna terbesarnya baru terasa apabila stasiun itu terhubung dengan lingkungan sekitar dan menjadi bagian dari sistem transportasi yang dapat diandalkan setiap hari.
Dari bawah tanah, MRT Jakarta sedang ikut membentuk wajah baru mobilitas ibu kota. Masa depan itu tidak ditentukan oleh rel dan terowongan semata, melainkan oleh kemampuan seluruh sistem perkotaan menjadikan perjalanan sebagai bagian dari kehidupan yang lebih tertata, inklusif, dan berkelanjutan.#udi