Dari Karakoram hingga Kairo, Psikologi Perjalanan Diminati Lintas Generasi

9

LUBUKLINGGAU, BP – Literasi perjalanan ternyata mampu mempertemukan pembaca lintas generasi. Hal itu terlihat dalam bincang buku Psikologi Perjalanan: Perjalanan, Kejutan, dan Kesadaran Baru karya Benny Arnas yang digelar Rumah Kreatif Bernas di Lobi Benny Institute, Jumat (2/10) siang hingga sore.

Kegiatan yang dirancang dengan kapasitas sekitar 30 orang ini secara khusus diikuti para pembaca buku Psikologi Perjalanan. Komposisi pesertanya cukup beragam. Selain dosen, guru, mahasiswa, dan pegiat literasi, sekitar sepertiga peserta merupakan pelajar yang masih duduk di bangku SMP.

Baca Juga:  CPI Gelar Diskusi Peninggalan Jepang di Palembang

Keragaman tersebut membuat diskusi yang dimoderatori penulis Wendy Fermana berlangsung cair sekaligus penuh kejutan. Acara yang semula direncanakan hanya satu jam justru berkembang menjadi hampir dua jam.

Waktu tambahan itu pun belum sepenuhnya mampu mengakomodasi keinginan peserta untuk berbagi pengalaman membaca, mengonfirmasi sejumlah bagian dalam buku, ataupun mengajukan pertanyaan langsung kepada penulis.

Hadir sebagai pembicara, Duta Baca Indonesia Gol A Gong memberikan apresiasi terhadap keberanian Benny Arnas dalam menjadikan perjalanan sebagai bahan baku literasi. Ia secara khusus menyinggung sejumlah perjalanan Benny, termasuk ke Karakoram dan Kairo, yang menurutnya memperlihatkan keberanian untuk mengalami dunia secara langsung sebelum mengolahnya menjadi narasi.

Baca Juga:  Antusiasme Bikin Bincang Psikologi Perjalanan Molor hingga Dua Jam

Gol A Gong juga memberi perhatian pada sosok istri Benny yang, menurutnya, memiliki kelapangan jiwa untuk melepas sang suami melakukan perjalanan ke berbagai tempat.

Benny sendiri menjelaskan bahwa 11 kota atau negara yang hadir dalam buku tersebut tidak dipilih berdasarkan mana perjalanan yang dianggap paling berkualitas. Jumlah itu lebih merupakan konsekuensi dari kuota yang tersedia dalam buku. Ia membuka kemungkinan menghadirkan serial perjalanan berikutnya apabila proses kreatif dan penerbitannya mendapatkan kemudahan.

Baca Juga:  Eden, Pelukis Wajah SMB II  Tutup Usia

Kegiatan ini sekaligus memperlihatkan bahwa buku perjalanan dapat menjadi medium literasi yang dekat dengan berbagai kelompok usia. Ketika pembaca SMP dapat duduk dalam satu ruang bersama dosen, guru, mahasiswa, dan pegiat literasi untuk membicarakan sebuah buku, perjalanan tidak lagi sekadar persoalan berpindah tempat. Ia menjadi cara untuk mengenal dunia, menguji pengalaman, dan membangun percakapan antargenerasi. #rel

Komentar Anda
Loading...