Karding: Inovasi Tanpa Biosecurity Ciptakan Risiko, Biosecurity Tanpa Inovasi Akan Tertinggal

1

Indralaya,BP- Kepala Badan Karantina Indonesia (Barantin) Abdul Kadir Karding mengingatkan kemajuan teknologi pertanian harus berjalan beriringan dengan penguatan biosecurity untuk menghadapi ancaman hama, penyakit, hingga organisme asing invasif.

“Inovasi tanpa biosecurity menciptakan risiko, dan biosecurity tanpa inovasi akan tertinggal,” ujar Karding saat menyampaikan orasi ilmiah pada Dies Natalis ke-63 Fakultas Pertanian Universitas Sriwijaya (Unsri) di Kampus Indralaya, Kamis (24/9).

Menurut Karding, sektor pertanian kini menghadapi tantangan yang semakin kompleks. Perubahan iklim, penyebaran hama dan penyakit, serta tingginya mobilitas komoditas melalui perdagangan global meningkatkan risiko terhadap produksi dan keamanan pangan.

Karena itu, menurut dia, pembangunan pertanian tidak cukup hanya mengejar peningkatan produksi. Sistem pertanian juga harus mampu mengantisipasi risiko secara aman, efisien, inovatif, dan berkelanjutan.
Teknologi dinilai menjadi salah satu instrumen untuk menjawab tantangan tersebut.

Perkembangan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), Internet of Things (IoT), drone, sensor, citra satelit, big data, hingga bioteknologi membuka peluang untuk membangun sistem pertanian yang semakin presisi dan adaptif. Namun, Karding mengingatkan pemanfaatan berbagai teknologi tersebut harus berjalan beriringan dengan sistem biosecurity yang kuat.

Baca Juga:  Terkait Kasus Dugaan Korupsi Pengangkutan Batubara PT SMS,  Sarimuda Ditahan KPK

Dalam konteks perkarantinaan, biosecurity diarahkan untuk mengurangi risiko masuk dan tersebarnya organisme pengganggu tumbuhan, penyakit hewan, serta organisme asing invasif. Pengawasan dilakukan melalui pendekatan pre-border, border, hingga post-border yang perlu semakin diperkuat dengan manajemen berbasis risiko, surveilans, diagnostik, dan ketertelusuran.

Deteksi Dini Lebih Penting

Karding juga menyoroti pentingnya kemampuan mendeteksi ancaman sejak dini sebelum hama maupun penyakit menyebar lebih luas. Menurutnya, pencegahan dan pengendalian sejak awal akan lebih efektif dibandingkan menangani dampak ketika gangguan telah meluas.

Karena itu, sistem peringatan dini, surveilans, diagnostik, dan kemampuan merespons secara cepat menjadi bagian penting dalam melindungi sektor pertanian.
Perguruan tinggi, kata Karding, memiliki posisi strategis dalam sistem tersebut melalui pendidikan, penelitian, dan pengembangan teknologi.

Baca Juga:  Wakil Ketua Komisi V DPRD Sumsel Prihatin Angka Covid-19 di Sumsel Terus Naik

Fakultas Pertanian Unsri, misalnya, dapat berkontribusi menghasilkan riset dan inovasi yang dapat diterapkan untuk menjawab persoalan nyata di sektor pertanian.Kolaborasi perguruan tinggi dengan pemerintah, dunia usaha, petani, dan masyarakat juga dinilai diperlukan untuk membangun ekosistem pertanian yang lebih tangguh.

Pesan tersebut disampaikan Karding dalam rangkaian Goes to Campus memperingati Hari Karantina Indonesia ke-149 yang bertepatan dengan Dies Natalis ke-63 Fakultas Pertanian Unsri.

Kepala Karantina Sumatera Selatan Sri Endah Ekandari mengatakan, kegiatan Goes to Campus sekaligus menjadi momentum memperkuat kerja sama yang telah terjalin antara Karantina Sumatera Selatan dan Unsri.

Kolaborasi sebelumnya dilakukan melalui program praktisi mengajar dengan melibatkan pegawai Karantina untuk berbagi pengalaman mengenai perkarantinaan kepada mahasiswa Fakultas Pertanian Unsri.

Baca Juga:  Kalahkan China Taipei 2-1, Satu Kaki Lagi Indonesia Melangkah ke Kualifikasi Piala Asia 2023

“Melalui kegiatan seperti ini, kami ingin mahasiswa tidak hanya memahami pertanian dari sisi produksi, tetapi juga mengenal pentingnya perkarantinaan dalam melindungi sumber daya hayati,” ujar Sri Endah.

Menurut dia, pengenalan biosecurity kepada mahasiswa penting karena mereka akan menjadi bagian dari generasi yang melanjutkan pembangunan sektor pertanian.

“Mahasiswa adalah generasi yang akan melanjutkan pembangunan pertanian ke depan, sehingga pemahaman dan kepedulian terhadap kekarantinaan perlu mulai ditumbuhkan sejak di bangku kuliah,” katanya.

Menjelang Indonesia Emas 2045, Karding menilai pertanian akan memegang peranan strategis, bukan hanya dalam menjaga ketahanan pangan, tetapi juga dalam transformasi teknologi, regenerasi petani, hilirisasi, dan keberlanjutan lingkungan. Karena itu, inovasi dan biosecurity perlu berjalan dalam satu arah: mendorong pertanian semakin maju sekaligus memastikan sumber daya hayati Indonesia tetap terlindungi.#udi

 

Komentar Anda
Loading...