Palembang,BP- Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Sumatera Selatan resmi meluncurkan Buku Nahdlatul Ulama Sumatera Selatan dalam sebuah acara yang digelar di Gedung Asrama Haji Kota Palembang, Kamis (23/7/2026). Peluncuran buku tersebut menjadi tonggak penting dalam upaya mendokumentasikan perjalanan dan perkembangan Nahdlatul Ulama di Bumi Sriwijaya.
Buku yang diluncurkan memuat sejarah perjalanan Nahdlatul Ulama di seluruh 17 kabupaten/kota di Sumatera Selatan, sekaligus menjadi bentuk ikhtiar dalam menjaga warisan sejarah organisasi agar tetap dikenal oleh generasi mendatang.
Ketua PWNU Sumatera Selatan, KH. M. Hendra Zainuddin Al-Qodiri, mengatakan bahwa setelah peluncuran, buku tersebut akan didistribusikan sebagai referensi sejarah Nahdlatul Ulama di Sumatera Selatan.
“Setelah launching ini, akan kita bagikan Buku Nahdlatul Ulama yang berisi sejarah NU di 17 kabupaten/kota di Sumatera Selatan,” ujarnya.
Ia juga menyampaikan rasa syukur atas perjalanan kepengurusan PWNU Sumatera Selatan yang telah memasuki tahun pertama dengan berbagai capaian positif.
“Kepengurusan PWNU Sumatera Selatan sudah satu tahun. Alhamdulillah sudah mandiri, dan sampai saat ini kegiatan NU selalu berjalan dengan lancar,” katanya.
Menurutnya, berbagai kemajuan juga terus diwujudkan, termasuk pembenahan kantor PWNU Sumatera Selatan yang kini semakin representatif berkat dukungan para kiai.
“Kantor PWNU Alhamdulillah sudah dicat dan sudah bagus berkat dukungan para kiai,” tambahnya.
Dalam kesempatan tersebut, PWNU Sumatera Selatan juga memperkenalkan inovasi berupa kartu uang elektronik (e-Money) yang menampilkan identitas dan logo Nahdlatul Ulama Sumatera Selatan.
“Alhamdulillah hari ini NU Sumsel sudah memiliki e-Money atau kartu tol dengan identitas dan logo Nahdlatul Ulama Sumsel,” ungkap KH. M. Hendra Zainuddin Al-Qodiri.
Sementara itu, Bendahara Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Gus Gudfan Arif Ghofur, memberikan apresiasi tinggi terhadap langkah PWNU Sumatera Selatan yang dinilai menjadi pelopor dalam pendokumentasian sejarah organisasi di tingkat wilayah.
“Ini satu-satunya PWNU yang sudah melaunching Buku Nahdlatul Ulama dari daerahnya. Hal ini akan saya kabarkan kepada seluruh PWNU agar menjadi inspirasi,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa semangat menjaga sejarah organisasi merupakan bagian dari ikhtiar meneruskan perjuangan para ulama pendiri Nahdlatul Ulama.
“Kita bersyukur menjadi santri Mbah Hasyim yang menyambung kejayaan Nahdlatul Ulama dari abad pertama menuju abad kedua,” katanya.
Atas nama PBNU, Gus Gudfan juga menyampaikan penghargaan kepada seluruh jajaran PWNU Sumatera Selatan yang telah sukses menyelenggarakan peluncuran buku tersebut.
“Kami atas nama PBNU sangat mengapresiasi kegiatan Launching Buku Nahdlatul Ulama Sumsel dengan semangat para kiai yang luar biasa,” tuturnya.
Menurutnya, perkembangan Nahdlatul Ulama hingga saat ini tidak lepas dari peran besar pondok pesantren dan dedikasi para kiai yang terus mengabdikan diri kepada umat.
“Di luar nalar kita, NU semakin besar lewat pondok-pondok pesantren dan semangat para kiai,” ujarnya.
Menutup sambutannya, Gus Gudfan berjanji akan kembali berkunjung ke Sumatera Selatan untuk menghadiri agenda Nahdlatul Ulama yang lebih besar di masa mendatang.
“Saya janji akan kembali ke Sumsel dengan acara yang lebih besar,” pungkasnya.
Peluncuran Buku Nahdlatul Ulama Sumatera Selatan diharapkan menjadi pijakan penting dalam menjaga memori kolektif organisasi sekaligus memperkuat identitas Nahdlatul Ulama di Sumatera Selatan. Selain menjadi dokumentasi sejarah, buku tersebut juga diharapkan menjadi referensi bagi generasi muda NU untuk mengenal perjalanan, kontribusi, dan perjuangan para ulama dalam membangun organisasi hingga terus berkembang di berbagai daerah.#udi