Senafi III 2025 Kupas Sriwijaya Awal di Palembang ,  Prasasti Jadi Kunci Mengungkap Sejarah

52
Seminar Nasional Epigrafi (Senafi) III Tahun 2025 mengusung tema “Kedatuan Sriwijaya Awal: Kajian Epigrafi atas Ruang dan Kekuasaan di Pesisir Timur Sumatera” dan digelar di Kampus FKIP Universitas Sriwijaya (Unsri) KM 5 Palembang, Senin (8/12/2025). Acara ini menghadirkan para ahli epigrafi, peneliti, akademisi, serta pemerhati sejarah dari berbagai daerah.(BP/udi)

Palembang,BP- Seminar Nasional Epigrafi (Senafi) III Tahun 2025 mengusung tema “Kedatuan Sriwijaya Awal: Kajian Epigrafi atas Ruang dan Kekuasaan di Pesisir Timur Sumatera” dan digelar di Kampus FKIP Universitas Sriwijaya (Unsri) KM 5 Palembang, Senin (8/12/2025). Acara ini menghadirkan para ahli epigrafi, peneliti, akademisi, serta pemerhati sejarah dari berbagai daerah.

Ketua Panitia sekaligus Ketua Umum Perkumpulan Ahli Epigrafi Indonesia (PAEI), Dr. Wahyu Rizky Andhifani SS MM, menyampaikan bahwa kajian mengenai Sriwijaya awal semakin menemukan titik terang melalui bukti prasasti yang banyak ditemukan di Sumatera Selatan.

“Epigrafi adalah sumber primer sejarah Indonesia. Tanpa prasasti, Sriwijaya, Melayu, atau Singasari tidak akan ‘berbunyi’. Candi dan arca tidak dapat berbicara, tetapi prasasti berbicara langsung kepada kita,” tegasnya.

Baca Juga:  Aldila Kalahkan Petenis Thailand

Wahyu berharap Senafi III menjadi tonggak penting dalam memperkuat epigrafi sebagai disiplin ilmu dan memperbarui metode penelitian mengenai Sriwijaya. Ia juga mengapresiasi dukungan dari Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah VI Sumatera Selatan terhadap komunitas epigrafi, khususnya di Sumatera dan Kalimantan.

Sementara itu, Dekan FKIP Unsri yang diwakili Ketua Jurusan Pendidikan IPS, Dr. Hudaidah M.Pd., menyatakan kebanggaannya karena Unsri kembali dipercaya menjadi tuan rumah kegiatan ilmiah tersebut. Ia menegaskan bahwa epigrafi merupakan ilmu bantu penting bagi pembelajaran sejarah.

“Kami sangat berbangga menjadi penyelenggara. Semoga kerja sama antara Unsri dan PAEI terus berkembang, terutama dalam penelitian Sriwijaya,” ujarnya.

Baca Juga:  Pemerintah Tidak Serius Bongkar SIH

Kepala BPK Wilayah VI Sumsel, Kristanto Januardi, menyoroti pentingnya program fasilitasi kebudayaan dalam mendukung kegiatan ilmiah. Menurutnya, seminar ini menjadi ruang bagi para peneliti untuk menampilkan hasil kajian terbaru mengenai Sriwijaya.

Kristanto juga menekankan perlunya menjaga artefak dan prasasti peninggalan Sriwijaya agar tetap berada di Sumatera Selatan. Ia mengungkapkan rencana pembuatan replika beberapa prasasti untuk dipasang kembali di lokasi penemuannya (insitu).

“Jika Sriwijaya ada di Sumatera Selatan, maka bukti-buktinya harus kita pertahankan di sini. Replika akan membantu masyarakat melihat langsung lokasi sejarahnya, sementara benda aslinya tetap aman di museum,” jelasnya.

Ia menambahkan bahwa kajian mengenai Sriwijaya tidak akan pernah berhenti karena selalu muncul perspektif baru. “Polemik bukan masalah. Justru memicu semangat. Wilayah Sriwijaya bisa berkembang, berpindah, atau meluas. Di sinilah pentingnya kajian terbaru dari para ahli,” katanya.

Baca Juga:  Ada Mayat di SMKN 5

Seminar yang berlangsung selama dua hari ini juga diisi penandatanganan kerja sama antara FKIP Unsri dan PAEI, ditandatangani oleh Dr. Wahyu Rizky Andhifani SS MM dan Dr. Hudaidah M.Pd.

Sejumlah narasumber hadir dalam kegiatan ini, di antaranya Dr. Ery Sudewo MA, Dr. Eko Yulianto, Andhika Tubagus Dinata, Dido Zulkarnain, Asyhadi Mufsi Sadzali MA, Prof. Endang Rochmiatun M.Hum, dan Dr. Sultan Kurnia AB MA.#udi

Komentar Anda
Loading...