
Palembang, BP– Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Sumatera Selatan (Sumsel) menggelar Focus Group Discussion (FGD) untuk membahas pengusulan Jenderal TNI Purnawirawan (Kehormatan) Bambang Utoyo sebagai Pahlawan Nasional dari Provinsi Sumsel, di Hotel Swarna Dwipa, Palembang, Senin (22/9/2025).
Jenderal TNI Purnawirawan (Kehormatan) Bambang Utoyo adalah seorang perwira tinggi TNI Angkatan Darat yang dikenal sebagai pejuang kemerdekaan dari Sumatera Selatan dan pernah menjabat sebagai Kepala Staf TNI Angkatan Darat (KSAD) ke-4.
Ia lahir di Tuban, Jawa Timur, 20 Agustus 1920, dan wafat di Bonn, Jerman Barat, 4 Juli 1980. Pada tahun 1997, pemerintah Indonesia menganugerahkan kenaikan pangkat kehormatan, menjadikannya Jenderal.
Hadir diantaranya keluarga besar Bambang Utoyo, para sejarawan, akademisi, tokoh politik, tokoh masyarakat, dan aktivis kebangsaan, perwakilan Dinsos Sumsel serta jurnalis.
Diskusi ini dipandu sejumlah narasumber penting, yaitu tim penulis biografi Kasadke-4 Bambang Utoyo. Saat sekarang menjabat sebagai Sejarawan Lisbio Dinas Sejarah TNI AD , Kolonel TNI (Purn) Drs. Jeni Akmal, sejarawan dari Universitas Sriwijaya (Unsri) Prof. Dr. Farida R. Wargadalem dan Drs. Syafruddin Yusuf, M.Pd., Ph.D, KH Syarifuddin Yaqub selaku Rais Syuriah PWNU Sumsel dan KH. Hendra Zainuddin Al Qodiri selaku Ketua Tanfidziyah PWNU Sumsel.
Prof. Dr. Farida R. Wargadalem menekankan pentingnya merevisi dan memperkaya biografi Bambang Utoyo dengan detail-detail pribadi yang humanis agar generasi muda lebih mudah mengakses dan memahami perjuangannya. “Beliau ini pejuang yang sangat mengutamakan persatuan. Keikhlasannya mundur demi menjaga kesatuan bangsa adalah kebesaran jiwa yang luar biasa. Ini nilai penting yang harus diangkat,” ujarnya.
Sedangkan Drs. Syafruddin Yusuf, M.Pd., Ph.D memaparkan strategi-strategi militer Bambang Utoyo, termasuk peran sentralnya dalam Pertempuran Lima Hari Lima Malam di Palembang dari tanggal 1 sampai 5 Januari 1947 dan keberaniannya mencetak uang lokal saat Agresi Militer Belanda untuk menopang ekonomi Sumatera Selatan.
Ia juga menegaskan pentingnya dukungan pemerintah daerah dan Dinas Sosial dalam memfasilitasi proses pengajuan gelar Pahlawan Nasional.
Sedangkan Kolonel (Purn) Jeni Akmal menambahkan bahwa Bambang Utoyo tidak pernah berkhianat terhadap negara dan bahkan menolak mundur dari tanggung jawab di medan perang, meski kondisinya cacat akibat ledakan granat.
“Beliau adalah sosok pemimpin yang bertanggung jawab, rendah hati, dan pantas mendapat penghormatan tertinggi,” katanya.
KH. Hendra Zainuddin Al Qodiri selaku Ketua Tanfidziyah PWNU Sumsel menegaskan komitmennya mendukung penuh pengusulan Jenderal TNI (Hor) Bambang Utoyo sebagai Pahlawan Nasional.
“Saya dipertemukan dengan Pak Indra (putra Bambang Utoyo) melalui Pak Jeni. Dari pertemuan itu, lahirlah acara bersejarah hari ini,” ujarnya.
KH. Hendra mengungkapkan, dalam perspektif Nahdlatul Ulama, Bambang Utoyo adalah keturunan Sunan Bonang .
“Bagi kami, sembilan wali adalah teladan dalam perjuangan berbangsa dan bernegara. Mengetahui bahwa Bambang Utoyo memiliki garis keturunan itu, semakin menguatkan keyakinan kami untuk mendukung pengusulan ini,” tambahnya.
Ia juga menyoroti kiprah Bambang Utoyo dalam dunia pendidikan Islam. “Beliau adalah salah satu pendiri IAIN Raden Fatah (sekarang UIN Raden Fatah Palembang). Itu adalah kebanggaan besar bagi warga NU, karena lulusan IAIN dan UIN banyak berasal dari kalangan Nahdliyin,” tegas KH. Hendra.
Sebagai wujud dukungan nyata, PWNU Sumsel akan membentuk tim khusus yang dipimpin Kemas Khairul Muklis, staf khusus Gubernur Sumsel, untuk memperlancar jalur rekomendasi gubernur hingga tingkat kementerian.
KH. Hendra menegaskan, semangat nasionalisme Bambang Utoyo sejalan dengan prinsip dasar Nahdlatul Ulama.
“Salah satu syarat menjadi Pahlawan Nasional adalah nasionalisme yang tinggi. Dalam setiap cerita tentang Bambang Utoyo, kita melihat pengorbanan dan cinta tanah air yang luar biasa. Ungkapan ‘Cinta tanah air adalah bagian dari iman’ yang menjadi napas NU jelas tercermin dalam perjuangan beliau,” ungkapnya.
PWNU Sumsel berharap upaya ini akan segera membuahkan hasil, sehingga Bambang Utoyo yang merupakan sosok yang dikenal sebagai “Jenderal Bertangan Satu” lantaran kehilangan tangan kanan dalam masa perjuangan akan mendapatkan pengakuan resmi sebagai pahlawan nasional dari negara atas jasa-jasanya dalam mempertahankan kemerdekaan dan membangun bangsa.
Sedangkan Kemas Khairul Muklis, selaku panitia penyelenggara, menilai FGD ini merupakan langkah awal untuk memperkuat dokumen dan data sejarah perjuangan Bambang Utoyo sebagai syarat pengusulan gelar Pahlawan Nasional.
“Melalui forum ini, kita berharap mendapatkan informasi lebih lengkap, termasuk penuturan langsung dari pihak keluarga. Mudah-mudahan diskusi ini menghasilkan rekomendasi kuat untuk mengusulkan beliau sebagai Pahlawan Nasional,” katanya.
Sedangkan KH Syarifuddin Yaqub menegaskan, pengusulan ini bukan sekadar formalitas, tetapi bentuk penghormatan kepada pejuang asal Sumatera Selatan itu.
“Bambang Utoyo telah berjasa besar memperjuangkan kemerdekaan Republik Indonesia. Bahkan sebelum proklamasi, beliau sudah aktif melawan penjajah. Saya mendukung penuh pengusulan ini,” ujarnya.
Ia menambahkan, kiprah Bambang Utoyo tidak hanya di bidang militer. Pada 1967, sang jenderal turut menjadi salah satu kurator pendiri IAIN Palembang (kini UIN Raden Fatah). “Kontribusinya bagi pendidikan Islam di Sumatera Selatan juga patut diapresiasi,” tambahnya.
Sedangkan Indra Bambang Utoyo, yang merupakan putra Bambang Utoyo, mengungkapkan rasa terima kasih kepada PWNU Sumsel atas prakarsa ini.
“Atas nama keluarga besar, saya menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya. Usaha ini bukan hanya penghormatan untuk ayah kami, tetapi juga bagi seluruh pejuang Sumatera Selatan. Semoga pengusulan ini berjalan lancar dan negara mengakui jasa-jasa beliau,” kata Indra.
Indra juga mengingatkan generasi muda untuk meneladani semangat perjuangan ayahnya. “Ayah selalu mengajarkan bahwa kemerdekaan bukan hadiah, tetapi hasil pengorbanan darah dan air mata,” ucapnya.
FGD yang berlangsung lebih dari dua jam itu menghasilkan beberapa poin penting. PWNU Sumsel, para akademisi, tokoh masyarakat, dan keluarga sepakat menyusun rekomendasi resmi untuk diajukan kepada pemerintah. Mereka menyatakan bahwa Jenderal Bambang Utoyo, sosok yang dijuluki “Tangan yang Hilang” karena kehilangan tangan kanan saat pertempuran, layak mendapat pengakuan negara sebagai Pahlawan Nasional.#udi