DI kehidupan yang amat sebentar ini, seorang manusia lahir membawa amanat yang telah diterimanya di alam sebelumnya. Amanat itu rasionalitas. Akal. Nanun tetap ia pada potensi buruknya yakni zalim (dholuman) dan dungu (jahula). Ia terlahir ke muka bumi dalam kategori entitas Nafs Al Insaniah. Saudaranya ada yang termanivetasi sebagai Nafs Al Hayawaniah (binatang), Nafs Nabatiah (tumbuhan), dan Nafs Al Unsuriah (mineral).

Esensi manusia tergolong mahiyah substansi (jauhar) karena tak membutuhkan objek. Beda dengan esensi (mahiyah) panas misalnya, ia membutuhkan objek, makanya esensi seperti ini disebut mahiyah aksiden. Oleh sebab itu dalam Nafs Al Insaniah tersimpan seluruh potensi hingga rentang terbaik (para nabi dan para imam) dan makhluk terburuk (orang-orang kafir dan munafik). Makhluk terbaik adalah manusia dan makhluk terburuk pun juga manusia. Mizan atau timbangannya Akal-Wahyu itu.

Untuk mencegah munculnya potensi zalim dan dungu tadi, kepada rasionalitas ditambahkan juga wahyu dari Tuhan yang dibawa para Nabi dan Rasul utusan yang dipilih Tuhan secara otoritatif. Konon tercatat ada 124 ribu nabi yang diturunkan dalam rangka membimbing kehidupan manusia sejak Nabi Adam. Al Quran mengatakan, sebagian nabi dikisahkan dalam Al Quran dan sebagian lain tidak dikisahkan.

Kehidupan sosial masyarakat manusia bersama nabi telah selesai, usai wafatnya Kanjeng Nabi Muhamad. Periode nubuah yang dimulai sejak Kanjeng Nabi Adam dan diakhiri pada Nabi Penutup Muhamad, merentang ke belakang dalam episode yang bahkan tak terjangkau sejarah modern. Namun pasca nubuah masyarakat manusia beda tafsir tentang demisioner atau Fatroh. Sebagian menganggap pasca nubuah demisioner, sebagian menafsir Tuhan tak pernah membiarkan Tsaqalain (dua entitas berakal) kosong dari pemimpin pilihan otoritatif langit.

Baca Juga:  Hari Pers Dunia: Disrupsi Digital dan Merosotnya Idealisme

Pada dasarnya Tsaqalain atau entitas rasional, oleh karena adanya amanat akal dan diberikan juga pembimbing Wahyu, kepada keduanya diberikan pola kemerdekaan yang bertanggungjawab. Seseorang memilih mengesampingkan Wahyu, berarti dia kafir dan dia sendiri yang akan mempertanggung-jawabkan kekafiran itu dihadapan Tuhannya. Dan kafir punya dua model, ada yang tertutup ada yang terbuka (terang-terangan). Yang tertutup disebut munafik.

Sampai disini tidak ada masalah dengan kekafiran. Masing masing jalan sesuai pilihan dalam keadaan sadar, karena resiko ditanggung sendiri-sendiri. Sampai pada  masalah akan mulai muncul ketika dari kekafiran tadi berlanjut pada kezaliman membunuh, mengusir orang dari tanah haknya, merampas harta dan memerangi. Pada level inilah seorang mukmin harus mereaksi sesuai keadaannya. Hegemoni atas manusia oleh manusia inilah yang menjadi objek perhatian para nabi yang selalu muncul disetiap jaman.

Kita sekarang mencari solusi. Benang merah apa yang senantiasa tersambung dalam kehidupan manusia antar jaman ? Budaya jahiliah lebih tepatnya peradaban material yang memanipulasi ilmu pengetahuan atau sains sebagai andalannya, sehingga dipercaya manusia sekarang. Maka jawablah satu pertanyaan, sesuatu agung apa yang berbasis materi yang dapat menghubungkanmu dengan Rasulullah dan Allah ? Manusia. Seorang manusia. Dia yang wajib eksis diantara kita di jaman ini. Carilah di antara nyala lentera peradaban ini. Carilah dengan mata bashirahmu yang tajam.

Gabungkan diri dengan irama semesta. Dengan janji langit yang akan menjamin perkara kepemimpinan langit akan tegak sampai kiamat. Gabungkan dengan suara hawar-hawar yang mulai terdengar dari kejauhan. Suara dari balik hiruk pikuk layar sihir jaman, yang tak berhasil sepenuhnya dibungkam. Bergabung lewat pintu yang gagangnya telah kamu pegang, sebagai apapun dirimu. Hingga jika ada di tanganmu hanya ranting kayu sekalipun untuk menghajar musuh Tuhan, pukullah.

Baca Juga:  Membaca PGRI Dalam Kancah Politik Indonesia

Larutkan dirimu dalam satu celupan atau adonan, setelah menyala akalmu seperti lampu menerangi. Hidupkan dalam sanubari ilmu tentang Dia semata. Jika ada yang tersisa pelajarilah fisika kuantum untuk kesejahteraan manusia. Betapa mudahnya kesejahteraan sosial jika manusia mau dengar-dengaran menerima anugerah teragung langit berupa nabi dan imam. Tapi Saqifah dan manusia telah menolaknya.

Cahaya itu muncul dari air mata yang haru atas lautan manusia. Seraya dalam mata batinnya meluncur ke belakang, jauh di Madinah ketika pintu-pintu diketuk keluarga nabi namun mereka tak membukanya. Sejak itu api revolusi itu menyala dan panasnya kini membakar Barat yang sedang makar atas kekuasaan Tuhan.

Api yang menyucikan karat-karat jiwa yang ditimbulkan oleh hoax panjang hadist dan narasi palsu. Api itu ada dalam manusia yang dipilih secara otoritatif oleh yang punya Game Semesta ini. Kau mau melawan kau hilang. Dunia bukan tempat yang baik untuk menaruh namamu, sebab disana kelak kau akan dihujat atau dilupakan. Tinggalah dalam hati orang beriman bersama Tuhan.

Tembok baja yang kokoh kau bangun dalam dirimu itu justru menjadi masalah besar yang memisahkanmu dengan Dia satu-satunya pemilik eksistensi. Dirimu akan diolok dengan pertanyaan, “jika kau benar-benar ada, apa benar dirimu sendiri yang mengadakannya? ” Maka untuk itu hati-hati lah dengan perasaanmu yang selalu menipumu dengan mengajar kata Aku dengan dibubuhi segala aksiden halusinasi lainnya.

Glodak, pada akhirnya waktu berdiri seperti tembok besi. Kebelakang seakan tak bisa diterobos kembali. Kedepan semakin melemah tubuh ini. Setiap orang akhirnya tergeletak sebagai manusia dan kemanusiaannya untuk khawatir atas yang dicintainya. Untuk kasus Rasulullah nasib umatnya lah yang ia khawatirkan setelah pasca wafatnya. Seperti wartawan, Rasul buruh pena dan kertas untuk menulis kalimat terakhir yang akan berpacu dengan nafas terakhirnya. Umat Muhammad tak pernah punya dokumen kalimat terakhir nabinya itu. Karena penguburan Raga Nabi dan suksesi tak mungkin dikerjakan dalam waktu bersamaan.

Baca Juga:  Penggiringan Opini Jelang Pilkada Sumsel Makin Marak

Tapi percayalah, agenda Langit akan tetap jalan karena otoritasi mutlak disanalah tempatnya. Sementara peradaban manusia dan segala kisahnya tak ubah dari gelembung yang datang dan pergi silih berganti. Selalu berlalu atas sebuah janji tentang pewaris bumi ini adalah hamba yang saleh. Kezaliman tak pernah punya eksistensi. Sebab gelap itu kata itibar, yang hanya terbayangkan di benak. Di realita itu berupa intensitas cahaya yang sangat kurang.

Kemudian dari pada itu, untuk dapat membangun jiwa kita menuju Nafs Al Muthamainnah mulailah dari materi Sang Pemimpin. Ia pembimbing. Ia yang memiliki kualifikasi atas penerjemah wahyu Al Quran.

Tanpa itu hidupmu seperti dalam novel yang penuh cerita fiksi. Tolonglah orang teraniaya. Beri makan fakir miskin. Lawan entitas anti-Tuhan yang menyamar dalam topeng jubah-jubah. Dan bagi yang selalu waspada dalam perjalanan panjang ini, tentu para penipu tak akan dibiarkan merajalela membajak kesadaran manusia. Siapa entitas yang terbenci dan siapa yang disesatkannya, adalah entitas yang para waspada tak akan pergi kesana. Sa beja bejane wong kang lali luwih beja wong kang eling lan waspada. Kewarasan atau kesadaran identik dengan kewaspadaan.

)* Esais adalah Penanggung Jawab Harian Papuapos Nabire dan Papuapos TV.