Palembang Miliki Khazanah Naskah Kuno, Jadi Bukti Sejarah Keislaman Nusantara

26
Pascasarjana UIN Raden Fatah Palembang menggelar webinar Islam Melayu  Nusantara dalam Perspektif Studi Naskah , Rabu (6/8/2025) di Lantai III Ruang Seminar Pascasarjana UIN Raden Fatah Palembang. Webinar di gelar melalui Zoom dan Offline. (BP/udi)

Palembang, BP- Pascasarjana UIN Raden Fatah Palembang menggelar webinar Islam Melayu  Nusantara dalam Perspektif Studi Naskah , Rabu (6/8/2025) di Lantai III Ruang Seminar Pascasarjana UIN Raden Fatah Palembang. Webinar di gelar melalui Zoom dan Offline.

Hadir diantaranya Direktur Pascasarjana UIN Raden Fatah Palembang Prof. Dr. Hamidah, M.Ag dan jajaran, dosen dan ahli filologi UIN Raden Fatah,  Dr Nyimas Umi Kalsum Mhum, Ketua Pusat studi manuskrip UIN Sunan Kalijaga , Yogyakarta Dr Adib Sofia Mhum.
Direktur Pascasarjana Prof. Dr. Hamidah, M.Ag mengungkapkan kekayaan khazanah naskah Melayu yang dimiliki universitas tersebut. Menurutnya, distingsi UIN Raden Fatah adalah Melayu, dan pihaknya memiliki koleksi naskah Melayu yang sangat banyak, bahkan mencapai ratusan.
Prof. Hamidah bercerita bahwa ketika berdiskusi dengan perwakilan dari IDM (Institut Dunia Melayu), mereka mengaku memiliki 90 naskah Melayu. Dengan bangga, ia menyebutkan bahwa UIN Raden Fatah memiliki koleksi jauh lebih banyak, bahkan termasuk naskah langka seperti Kitab Injil versi lama yang telah menjadi bahan disertasi.
“Mereka kaget ketika saya ceritakan kami punya ratusan naskah. Bahkan, kami sudah mendigitalisasi banyak di antaranya,” ujarnya.
Prof. Hamidah menekankan bahwa menuntut ilmu tidak hanya sekadar membaca buku, tetapi juga aktif dalam seminar, konferensi, dan kegiatan akademik lainnya. Ia mengisahkan pengalamannya saat menjadi mahasiswa di UIN Syarif Hidayatullah, di mana dosennya bercerita tentang budaya literasi yang kuat di Iran.
“Di Iran, perpustakaan selalu penuh hingga sore. Mahasiswa dan dosen sibuk membaca dan menulis. Banyak karya hebat yang dihasilkan, sayangnya kurang terekspos karena lemahnya publikasi,” katanya.
Ia berharap, dengan kemajuan teknologi saat ini, akademisi Indonesia dapat lebih giat mempublikasikan karya mereka ke dunia internasional.
Prof. Hamidah mengutip pendapat almarhum Prof. Azyumardi Azra yang memprediksi bahwa kebangkitan dunia Islam berikutnya akan terjadi di Indonesia, bukan di Timur Tengah. Alasannya, di Indonesia, berbagai organisasi keagamaan seperti Muhammadiyah dan NU dapat hidup berdampingan secara damai, berbeda dengan konflik sektarian yang sering terjadi di negara-negara Arab.
“Kebangkitan Islam akan datang dari Indonesia, karena di sini ada harmoni, toleransi, dan tradisi keilmuan yang kuat,” tegasnya.
Prof. Hamidah berpesan agar sivitas akademika UIN Raden Fatah terus berkarya, meneliti, dan menulis untuk memajukan keilmuan Islam. Ia juga mengapresiasi para dosen dan peneliti yang telah menghasilkan banyak karya, menunjukkan bahwa SDM UIN Raden Fatah tidak kalah dengan perguruan tinggi lain.
“Kita sedang menuju renaissance kedua, di mana Indonesia akan menjadi pusat pencerahan Islam dunia,” ujarnya.
Dia berharap agar kolaborasi akademik terus ditingkatkan, serta naskah-naskah Melayu dapat dilestarikan dan dikaji lebih mendalam untuk memperkaya khazanah keilmuan Islam Nusantara.
Dosen dan ahli filologi  UIN Raden Fatah,  Dr Nyimas Umi Kalsum Mhum memaparkan hasil penelitiannya tentang Naskah Ratib Samman sebagai cerminan tradisi keislaman yang kaya akan nilai sufistik dan kearifan lokal di Palembang. Penelitian ini mengungkap bagaimana naskah tersebut menjadi bagian integral dari spiritualitas masyarakat setempat.
Ratib Samman merupakan wirid tarekat Sammaniyah yang tersebar luas di Nusantara, termasuk Palembang. Naskah ini tidak hanya berisi doa dan dzikir kolektif, tetapi juga mencerminkan integrasi antara Islam universal dengan tradisi lokal Melayu-Palembang. Ditulis dalam aksara Arab-Jawi, naskah ini menjadi media dakwah yang mudah dipahami masyarakat.
Menurutnya Naskah Ratib Samman ditemukan dalam dua karya utama yaitu Ai’ Urwah Wutsqa fi Silsilah al-Waliyyi al-Iqa karya Syekh Abdus Samad al-Palimbani dan Silsilah dan Tawassul karya Kemas Haji Ahmad Azhari bin Syekh Muhammad Azhari.
Kandungannya meliputi rantai transmisi keilmuan dari Nabi Muhammad hingga ulama lokal, menegaskan otoritas spiritual dan kesinambungan ajaran dan Praktik permohonan melalui perantara wali dan syekh, menunjukkan penghormatan terhadap leluhur spiritual.
Nyimas Umi Kalsum menekankan bahwa naskah ini memperlihatkan dinamika Islam lokal yang hidup dan dinamis. Beberapa poin kunci yang diangkat yaitu Penggunaan irama Melayu-Palembang dalam pembacaan Ratib Samman dan  konsep ma’rifat (mengenal Allah), tawadhu (rendah hati), dan cinta ilahi.
Dia juga melihat Ratib Samman menjadi pengikat identitas tarekat dan memori kolektif keagamaan.
Umi juga menyoroti pentingnya pelestarian dan digitalisasi naskah-naskah tradisional sebagai warisan budaya. Nyimas juga menyarankan pengkajian lebih mendalam terhadap naskah-naskah serupa untuk memahami khazanah keislaman Nusantara.
Sedangkan Ketua Pusat studi manuskrip UIN Sunan Kalijaga , Yogyakarta Dr Adib Sofia Mhum yang hadir melalui zoom mengkaji sosok ulama besar Nuruddin Ar-Raniri dan relevansinya dalam dinamika kehidupan beragama di Nusantara, khususnya di Aceh, telah diuraikan dalam sebuah presentasi komprehensif. Materi ini juga menyoroti potensi besar kajian Islam Melayu di Palembang melalui pendekatan filologi.
Nuruddin Ar-Raniri, salah satu dari empat tokoh berpengaruh dalam penyebaran Islam awal di Indonesia, dikenal sebagai ulama produktif yang menghasilkan 36 karya. Ia berperan penting dalam menjadikan Aceh sebagai benteng kekuatan Islam dan menjabat sebagai Syaikhul Islam Kerajaan. Namun, pemikirannya juga diwarnai kontroversi, terutama terkait pandangannya yang berbeda dengan Hamzah Fansuri (HF).
Ar-Raniri menganggap pandangan tasawuf Hamzah Fansuri sebagai ‘wujudiyyah mulchidah’, sebuah pandangan yang dianggap sesat pada masanya,” demikian dijelaskan dalam materi tersebut. Perbedaan pandangan ini mencerminkan dinamika kehidupan beragama di masa lalu yang tidak selalu harmonis.
Tiga naskah utama karya Ar-Raniri yang menjadi fokus kajian adalah Tibyan fi Ma’rifatil Adyan,  Chujjatush-Shiddiq li Daf’iz-Zindiq, dan Fatchul-Mubin ‘alal Mulchidin.
Naskah-naskah ini menjadi objek penting dalam memahami corak pemikiran dan praksis keagamaan pada abad ke-17.
Selain itu menurutnya pentingnya filologi sebagai metode ilmiah untuk mengungkap makna di balik teks-teks lama. Proses filologi meliputi pra-pengamatan, penentuan naskah, kajian teks awal (transkripsi, transliterasi, terjemah, dan interpretasi), hingga kajian teks akhir yang bertujuan membawa pemahaman teks ke konteks masa kini.
“Filologi memungkinkan kita untuk tidak hanya membaca teks, tetapi juga memahami struktur narasi dan fakta sosial yang terkandung di dalamnya,” ungkap presentasi tersebut. Aspek-aspek seperti kesastraan, akidah, perkembangan berpikir, dan pernaskahan menjadi fokus utama dalam kajian ini,”katanya.
Selain itu karya-karya Ar-Raniri menunjukkan adanya narasi yang cenderung intoleran. Teks-teks tersebut seringkali menampilkan pandangan “paling benar” yang menganggap pihak lain sesat, menggunakan kekerasan verbal, stereotipe negatif, dan bahkan pernyataan menghukum.
Dia juga menyoroti potensi besar kajian Islam Melayu di Palembang. Kota ini memiliki kelimpahan data manuskrip sejak masa Sriwijaya dan Kesultanan Palembang Darussalam, yang menyimpan koleksi besar di perpustakaan.
“Sultan Mahmud Badaruddin II bahkan mengimpikan Palembang sebagai Pusat Studi Islam dan Sastra,” disebutkan dalam presentasi. Selain data, Palembang juga memiliki kelimpahan ilmuwan dan akademisi di UIN Raden Fatah yang siap mengembangkan kajian ini.
Namun, tantangan yang ada adalah kecenderungan kajian naskah yang masih menekankan pada tahap kodikologis dan tekstologis awal. Disarankan untuk menggunakan pendekatan interpretatif yang lebih mendalam seperti resepsi, intertekstualitas, semiotika, dan hermeneutika.
Selain itu menurutnya kajian ini membuka peluang penelitian lanjutan, termasuk melihat hubungan antara pemikiran Nuruddin Ar-Raniri dengan corak tasawuf di Palembang pada abad-abad berikutnya.
Selain itu, ada kecenderungan untuk mengungkap pemikiran ulama abad ke-20 dan meneliti teks-teks lama dengan metode baru untuk relevansi masa kini.#udi
Baca Juga:  DKPP Sidang Lima Perkara di Palembang
Komentar Anda
Loading...