BKHIT Sumsel Perkuat Kerjasama dengan Media untuk Tingkatkan Komunikasi dan Edukasi Publik

Palembang, BP- Kepala Balai Karantina Hewan, Ikan dan Tumbuhan (BKHIT) Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) drh. Sri Endah Ekandari, M.Si mengatakan, pihaknya ingin memperkuat fungsi kehumasan dan mempererat hubungan antara lembaga karantina dengan para jurnalis.
“Kami menyadari pentingnya komunikasi yang kuat di era digital ini, terutama dalam mengelola isu-isu publik yang bersifat sensitif. Melalui kerja sama dengan media, kami ingin memastikan bahwa informasi yang disampaikan kepada masyarakat bersifat akurat, cepat, dan terpercaya,” katanya saat memberikan sambutan di kegiatan Coffee Morning bersama para jurnalis. Acara ini berlangsung di Aula BKHIT Sumsel, Jalan Kol. H. Burlian KM 6, Palembang, pada Jumat (11/7/2025) dengan tema “Crisis Communication & Digital Storytelling: Strategi Terpadu Media Relations untuk Karantina Era Digital.’’
Hadir diantaranya Ketua Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Palembang, Muhamad Fajar Wiko, Hj. L Weny Ramdiastuti, yang merupakan mantan Pimpinan Redaksi Tribun Sumsel (periode tahun 2012 sampai 2023) dan perwakilan jurnalis dan wartawan cetak, online dan radio di kota Palembang
Menurutnya tugas utama BKHIT bukan hanya dalam hal pencegahan dan pengawasan, tetapi juga edukasi publik.
Ia menjelaskan BKHIT Sumsel juga memiliki Buletin Karantina Kita, sebuah media informasi internal yang terbuka bagi Unit Pelaksana Teknis (UPT) lain untuk mengirimkan tulisan. “Rubrik-rubrik dalam buletin ini antara lain membahas potensi ekspor seperti produk kopi dan paha kodok, meskipun masih terkendala dengan kuota ekspor,” katanya.
Selain itu dia mengakui pihaknya tengah menjajaki untuk diekspor paha kodok.
“Paha kodok ini ada kemarin ke Belgia, ini lokasinya seberangnya Pulau Kemaro, hanya itu terkendala kuota tangkap.Karena kan kodok ya kan? Jadi kuota tangkap bukan di ranah kami, jadi nanti kalau memang seperti itu ya harusnya pemerintah daerah, provinsi juga mungkin mendorong budidaya,” katanya.
Sri Endah menambahkan bahwa pengawasan kesehatan kodok yang diekspor juga sangat penting, untuk memastikan bahwa produk tersebut bebas dari Hama dan Penyakit Ikan Karantina (HPIK), mengingat kodok termasuk dalam kategori produk ikan.
Selain itu dia menekankan pentingnya kolaborasi dalam sektor ekspor, termasuk ekspor kopi dari Sumatera Selatan.
“Kita harus kerjasama dengan dinas-dinas yang memindangi itu. Seperti Dinas Ketanaman Pangan, Dinas Peternakan, kemudian dinas Dinas Perkebunan , kemudian juga petani,”katanya.
Dan beberapa kali pihaknya kemarin sudah berkolaborasi dengan OJK juga, Dinas Koperasi, kemudian kemarin pihaknya menjadi narasumber bertemu langsung dengan 10 atau 11 petani , di Direktorat Jenderal Perbendaharaan (DJPb) Provinsi Sumsel.
“Kita berdialog dengan petani supaya ada tumbuh , eksportir-eksportir dan petani juga paham bagaimana untuk menghasilkan kopi yang berkualitas, yang bagus. Sebenarnya teman-teman, namanya ekspor itu tuh permasalahannya tentu saja tidak hanya sekedar masalah teknis, tapi masalah pembiayaan. Kemudian ekosistemnya yang mungkin belum lengkap. Seperti di Sumatera Selatan ini, mungkin kalau ekosistemnya lengkap itu di sana itu banyak gudang mungkin eksportirnya dan mungkin memang ditunjang oleh kapal yang cepat berangkat kan gitu,”katanya
Dia mencontohkan untuk ekspor dari Sumsel menurutnya untuk sampai ke Malaysia saja butuh waktu berjam-jam.
“Karena , misalnya nih katakanlah 300 kontainer, tetapi dari eksportir sendiri hanya bisa memenuhi katakanlah masih 3 kontainer. Kan enggak bisa berangkat langsung. Yang sebenarnya bisa langsung misalnya 2 hari katakanlah seperti itu, akhirnya jadi terhambat jadi 12 hari. Dan itu kan mempengaruhi kualitas daripada komoditas yang akan diekspor,”katanya.
Hal ini menurutnya perlu kolaborasi dengan dinas-dinas terkait supaya menumbuhkan ekosistem itu.
“Mungkin dari eksportir dapat dari 3 produsen gitu kan atau 3 petani yang sekarang ini bisa di ini kan jadi banyak dari petani,”katanya.
Selain itu menurutnya Kelapa Sumsel ini banyak peminatnya termasuk Cina.
“Dan nanti setelah kopi ini ya kita nanti bertahap ke kelapa. Jadi kita bangun ekosistem-ekosistem,”katanya.
Sampai pertengahan tahun ini pihaknya banyak mengawasi produk diantaranya Kelapa, Kopi, Kelapa Sawit, Karet, Produk-Produk Hewan
“Kita tidak hanya sekedar produk tumbuhan, tumbuhan dan produknya, tetapi juga hewan dan ikan. Jadi kalau kita misalnya mau mengeluarkan atau mau ekspor lalu tiba-tiba disitu setelah kita cek tidak memenuhi persyaratan maka itu kita kembalikan kepada pemiliknya dan tidak kita sertifikasi,”katanya.#udi
Selain itu, minggu depan pihaknya mengadakan kolaborasi dengan PT Angkasa Pura untuk melakukan pelatihan kepada petugas APSEK yang ada di Bandara SMB II sebanyak 130 orang petugas APSEK dan akan dibag menjadi tiga gelombang mulai tanggal 15, 16, 17.
“Karena tanggal 18 perdana ya, Air Asia terbang ke Malaysia. Nah kita menyelenggarakan kegiatan itu nanti di Angkasa Pura. Nah ini sedang kita bicarakan nanti, sepertinya ada beberapa yang akan kita undang untuk hadir di sana dan pengawasannya seluruhnya hewan-tumbuhan , Ikan dan tentu saja kita fokus apa komoditas-komoditas yang wajib diperiksa karantina , nanti ada simulasinya nanti lihat di X-Ray,”katanya.
Sedangkan Ketua Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Palembang, Muhamad Fajar Wiko, yang menjadi narasumber, menjelaskan pentingnya strategi media relations dalam menghadapi krisis komunikasi.
Menurutnya, di era digital, tantangan terbesar bukan lagi peluru atau senjata, melainkan persepsi publik.
“Dalam dunia digital, musuh kita bukanlah senjata, tapi persepsi. Satu klik bisa membuat berita menyebar luas dan mengubah opini. Inilah yang kita sebut sebagai ‘crisis communication’,” katanya
.Wiko melihat pengelolaan informasi layaknya permainan catur, di mana setiap langkah bisa menentukan kemenangan atau kehancuran. Dalam krisis komunikasi, kecepatan dan akurasi menjadi senjata utama.
Ia juga menjelaskan pentingnya strategi 4L (Listening, Lead, Layer, dan Leverage) dalam menghadapi krisis: mulai dari monitoring isu sejak awal, mengendalikan narasi, menciptakan konten di berbagai platform, hingga menggandeng jurnalis, warganet, dan akademisi.
Sedangkan Hj. L Weny Ramdiastuti yang merupakan mantan Pimpinan Redaksi Tribun Sumsel (periode tahun 2012 sampai 2023), menjelaskkan mengenai komunikasi krisis dan pentingnya digital storytelling dalam membangun kepercayaan publik.
Menurutnya krisis komunikasi sering terjadi karena budaya birokrasi yang tertutup, kurangnya sumber daya manusia di bidang komunikasi publik, serta kurangnya keterbukaan informasi.
“Kita perlu melakukan transformasi komunikasi yang fundamental — dari yang sebelumnya reaktif menjadi proaktif, dari komunikasi satu arah menjadi komunikasi dua arah, dan dari gaya formal menjadi pendekatan yang bersifat percakapan,” katanya.
Ia menambahkan, dampak dari kegagalan komunikasi publik dapat mengakibatkan turunnya kepercayaan masyarakat, kerugian ekonomi, hingga meningkatnya risiko kesehatan dan lingkungan — terutama jika menyangkut sektor karantina.
Dia juga juga mengingatkan pentingnya keterlibatan publik dalam membangun kepercayaan.
Salah satu caranya adalah dengan mengedepankan kisah-kisah nyata, transparansi data, serta penyampaian informasi yang humanis dan mudah dipahami.#udi