Masjid Al-Ahya Palembang, Pelopor Transisi Energi di Sumsel

50
Di tengah tantangan perubahan iklim dan naiknya biaya listrik rumah ibadah, Masjid Al-Ahya yang terletak di Jalan RA Abusamah, Palembang, kini memulai langkah besar menjadi pelopor transisi energi di Sumatera Selatan.(BP/ist)

Palembang, BP- Di tengah tantangan perubahan iklim dan naiknya biaya listrik rumah ibadah, Masjid Al-Ahya yang terletak di Jalan RA Abusamah, Palembang, kini memulai langkah besar menjadi pelopor transisi energi di Sumatera Selatan (Sumsel).

Masjid yang dibangun dari swadaya masyarakat ini menghadapi beban listrik cukup tinggi. Kapasitas listrik Masjid Al-Ahya saat ini sebesar 18.000 watt, sementara kebutuhan aktual mencapai 33.000 watt. Ketimpangan ini tidak hanya mengganggu aktivitas ibadah, tetapi juga berisiko terhadap keamanan lingkungan sekitar.
Hal ini terbukti dari kejadian pembegalan yang terjadi di depan masjid pada Februari lalu. Seorang pelaku begal mobil sempat dihajar warga setelah aksinya tertangkap. Kejadian ini memperkuat kebutuhan penerangan yang memadai demi keselamatan pengguna jalan dan jamaah.
Ketua Masjid Al-Ahya, H. Sukron Harahap, menyampaikan bahwa kondisi listrik yang tidak mencukupi kerap memaksa pihak masjid melakukan penghematan.
“Kami ingin masjid tetap terang dan aman, tapi biaya listrik sangat membebani. Kami butuh solusi jangka panjang,” katanya., Selasa (27/5/2025).
Berangkat dari kondisi ini, Suzan Oktaria, alumni Bengkel Hijrah Iklim 3.0 menggandeng Masjid Al-Ahya dalam program transisi energi bersih berbasis panel surya. Inisiatif ini didukung oleh MOSAIC (Movement of Sustainability and Climate Impact), Purpose, Enter Nusantara dan AktivAsia.
Suzan menjelaskan bahwa sebagian besar masjid di Indonesia, termasuk di Sumatera Selatan, masih menggunakan energi fosil yang mahal dan tidak ramah lingkungan. “Kita perlu dorong masjid untuk menjadi bagian dari solusi krisis iklim. Energi matahari melimpah dan bisa digunakan untuk mengurangi biaya listrik masjid,” jelasnya.
Melalui gerakan Sedekah Energi, masyarakat diajak untuk berdonasi dalam mewujudkan masjid ramah lingkungan dan hemat energi. Tidak hanya itu juga dilakukan sedekah sampah, masyarakat bisa bersedekah dengan sampah untuk mendukung hal ini. Dan dengan dukungan relawan untuk edukasi energi bersih di komunitas.
Program ini diharapkan menjadi inspirasi bagi masjid-masjid lain di Sumatera Selatan untuk bertransformasi menuju energi terbarukan. Dengan panel surya, masjid tidak hanya berfungsi sebagai pusat ibadah, tetapi juga sebagai simbol kepedulian terhadap lingkungan dan keamanan umat.
Transisi energi bukan sekadar soal teknologi, tapi juga niat baik untuk merawat bumi dan mengurangi beban umat. Masjid Al-Ahya telah memulainya, kini giliran kita mendukungnya.#udi

Baca Juga:  Kisah Bupati Muba Dua Tahun Berjuang Raih Program Replanting
Komentar Anda
Loading...