Eksistensi Wayang Kulit Palembang Mulai Dilupakan, Ini  Tanggapan Sultan Palembang

60
SMB IV dan para pangeran Kesultanan Palembang Darussalam usai mengikuti pembukaan  Festival Siguntang ke 4 Tahun 2023 di Bukit Siguntang.Festival Siguntang 2023 diadakan dari tanggal 7-9 November.(BP/udi)

Palembang, BP- Eksistensi wayang kulit Palembang saat ini sudah mulai dilupakan, kesenian wayang ini mulai hilang ditengah-tengah masyarakat serta kurangnya minat untuk mempelajari wayang Palembang

Wayang  Palembang salah satu kebudayaan yang ada di kota Palembang ini sejatinya perlu di lestarikan kembali karena  salah satu keunikan Palembang karena banyak budaya di Palembang.

“ Jadi budaya-budaya seperti ini jangan hilang , apalagi tujuannya bagus , karena setiap pertunjukan ada petuah-petuah, ada petunjuk-petunjuk sehingga masyarakat bisa menyampaikan pesan-pesan sosial kepada masyarakat untuk melakukan suatu kebaikan-kebaikan,” kata  Sultan Palembang Darussalam, Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) IV Jaya Wikrama RM Fauwaz Diradja SH M Kn disela-sela seminar dan lokakarya  Wayang Kulit Palembang di Komplek Walet Mas 2 di Jalan Sultan Muhammad Mansyur Palembang, Rabu (13/12).

Selain  menurutnya terjadinya alkulturasi  kebijakan yang tadinya menggunakan yang biasanya menggunakan wanita sebagai sinden kemudian ketika masuk di Wayang Kulit Palembang tidak ada sinden.

“ Jadi semua kembali ke dalang semua , jadi alkulturasi sehingga merubah tapi seninya masih ada  dengan syariat Islam, “katanya.

Selain itu menurut SMB IV , pihaknya akan selalu bersinergi dan bersama-sama mengadakan kegiatan-kegiatan melestarikan Wayang Kulit Palembang mulai dari seminar .

“ Mencoba kembali bagaimana kita meramu  supaya generasi muda tertarik , seperti  di film Upin dan Ipin ada wayang mereka tertarik dengan wayang, , anak sayappun tertarik  dengan wayang karena menonton film Upin dan Ipin , saya yakin anak-anak Palembang  tertarik cuma karena tidak tahu kita jadi sekarang ini kita perlu promosi yang gencar mengenai Wayang Kulit Palembang ini,” katanya.

Baca Juga:  Palembang Menjadi Kota Wisata Sungai Pertama

Dan kedepan menurut SMB IV anak-anak TK, SD di ajak dan ikut dalam kegiatan Wayang Kulit Palembang ini .

Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah VI Sumsel Kristanto Januardi mengaku salut dengan usaha dan perjuangan Dalang Wayang Kulit Palembang Ki Agus Wirawan yang konsisten  melestarikan Wayang Kulit Palembang.

” Mudah-mudahan kedepanya lebih mantap lagi  menampilan dan masukan teman-teman sekalian  tentunya sangat berguna untuk pemajuan  kebudayaan khususnya wayang Palembang,” katanya.

Kedepannya menurutnya agar dana abadi kebudayaan bisa di dapatkan  dan lebih besar lagi jumlahnya dan  seniman dan budayawan Sumsel bisa tampil dengan dukungan masyarakat dan dunia usaha .

” Bisa tampil  di hotel-hotel, cape-cape dan  kegiatan hajatan masyarakat dan sebagainya dan itu suport awal pemerintah, mari kita berkerjasama , berkerja keras  agar seni budaya di Sumsel bisa lestari,” katanya.

Sedangkan Dewan Pakar Sekretariat Nasional Wayang Indonesia Amin Prabowo mengajak masyarakat Sumsel untuk tak henti-hentinya berkarya di bidang kebudayaan  bangsa yang adiluhur ini agar wayang kulit Palembang dapat selalu menjadi sebuah tontonan tontonan yang menarik yang mengandung tuntunan .

Baca Juga:  Kunjungi Wartawan Senior Sekda Palembang Ingatkan Tetap Jaga Silaturahim

Sedangkan dalang Wayang Kulit Palembang Ki Agus Wirawan Rusdi menjelaskan pada tahun 1980 an Wayang Palembang cukup dikenal, di bawah naungan Abdul Rasyid (alm), yang merupakan Dalang Wayang Kulit Palembang.

Kemudian dilanjutkan anaknya yang bernama Rudi Rasyid (alm). Lalu wayang Palembang sempat mati suri.

Berpulangnya Rusdi Rasyid menjadi semacam titik balik bagi perjalanan wayang Palembang.

Akhirnya dalam sebuah pertemuan keluarga, Ki Agus Wirawan Rusdi atau yang sering disapa Wirawan yang merupakan anak sulung dari sembilan anak dalang Rusdi mengaku didaulat untuk menggantikan sang bapak sebagai dalang wayang Palembang

“Saya mempelajari wayang kulit Palembang sejak 2004 dan baru berani tampil ke publik sejak 2006,” kata Wirawan.

Berbekal sejumlah kaset rekaman saat sang bapak mendalang, sedikit demi sedikit Wirawan mulai belajar menirukan suara yang ada di pita kaset.

Akhirnya pada 2006 ia berani tampil untuk pertama kalinya, hingga saat ini.

Wirawan menceritakan, awal mula bangkitnya wayang Palembang di tahun 1950 an, ketika berdirinya Sangar Sri Wayang Kulit Palembang dan itu hanya satu-satunya di Palembang.

“Pada 1950 Wanda saya bercerita, didirikan Sangar melihat dari permainan anak-anak di 36 Ilir. Mereka main wayang-wayangan dari lidi. Bapak-bapak melihat anaknya main lidi tadi yang dibuat wayang-wayang dengan iringan gamelan berupa ember dan lain-lain. Dari situlah kakek berinisiatif untuk buat hiburan wayang,” ungkapnya

Baca Juga:  Sekitar Pertempuran Lima Hari Lima Malam di Palembang

Pria berusia 50 tahun ini mengatakan, dengan inisiatif tersebut kakek mengajak warga di kelurahan 36 Ilir patungan untuk beli alat-alat gamelan, ada saron, kenon dan bonang, serta gendang.

Dengan alat inilah berdirilah Sri Wayang Kulit Palembang. Setelah itu Wayang kulit jadi kegemaran warga 36 Ilir.

“Dulu masih ada 100 wayang, namun sejak 1986 terjadi kebakaran, apa terbakar atau seperti apa kurang tahu juga karena waktu itu saya masih SD,” katanya.

Menurutnya, kalau zaman dulu pagelaran wayang tidak dibayar uang tapi sembako, bisa beras dan lain-lain. Bahkan sering tidak dibayar, tapi diberi makan, minum dan kopi. Meskipun begitu mereka tetap senang.

“Untuk saat ini tinggal saya satu-satunya dalang Wayang Kulit Palembang,” katanya.

Budayawan Sumsel Vebri Al Lintani  menambahkan, Wayang Palembang sempat mati suri atau vakum dari 1990 an sampi 2000an. Pada 2004 inilah Wirawan kembali menghidupkan  Wayang Kulit  Palembang.#udi

 

 

 

 

Komentar Anda
Loading...