Oleh : Kgs. M. Ilham Akbar, S.H
(Cucu Almarhum Usman Bakar)
SETIAP bulan Agustus masyarakat Indonesia selalu antusias untuk memperingati Dirgahayu Hari Ulang Tahun (HUT) Republik Indonesia.
Namun bagi masyarakat Sumatera Selatan khususnya Musi Banyuasin ada beberapa tokoh yang sangat berjasa dalam meyakinkan masyarakat Pasca kemerdekaan Republik Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945. Pada awal kemerdekaan, Kabupaten Musi Banyuasin terdiri dari dua kewedanaan yang berada di bawah keresidenan Palembang.
Yaitu Kewedanaan Musi Ilir yang berkedudukan di Sekayu dan Kewedanaan Banyuasin yang berkedudukan di Talang Betutu. Salah satu sosok yang berjasa besar di dalam perjuangan Musi Banyuasin adalah putera daerah asal Sekayu yang bernama Usman Bakar.

Pria kelahiran Sekayu, 5 Juli 1922 ini merupakan lulusan Middelbare Handelsschool (Sekolah Menengah Dagang Hindia Belanda) sama seperti Sekolah Menengah Kejuruan dizaman sekarang.
Pada Tahun 1942 beliau bekerja sebagai Rikuyu Sokyoku (Dinas Kereta Api Jepang) dengan wilayah Seiubu Sumatora Tetsuda (Eksploitasi Sumatera Selatan). Setelah Jepang mulai banyak mengalamai kekalahan di perang Pasifik, maka Jepang membentuk Giyugun untuk wilayah Sumatera. Usman Bakar pun akhirnya mengikuti sekolah perwira Giyugun di Pagaralam, dengan lulus berpangkat letnan dua (shoi).
Setelah berita Jepang menyerah kepada sekutu diperoleh oleh para pemuda dan tokoh intelektual di Sumatera Selatan, maka mereka mulai menyiapkan langkah selanjutnya sembari masih menunggu tokoh-tokoh di Jakarta mengambil tindakan.
Puncaknya ketika kabar Indonesia telah merdeka melalui Proklamasi oleh Soekarno dan Hatta pada tanggal 17 Agustus 1945, yang dimana kabar tersebut baru sampai ke Palembang pada tanggal 24 Agustus 1945 melalui utusan PPKI yang terdiri dari Dr. Amir, Teuku Muhammad Hassan, dan Mr. Abbas yang langsung diterima oleh Dr. A.K Gani dirumahnya di Jalan Kepandean (saat ini bangunan rumah bersejarah tersebut berada di Jalan Merdeka dengan kondisi tidak terawat).
Puncaknya pada tanggal 25 Agustus terjadi sebuah peristiwa heroik di Kota Palembang , yakni menaikkan bendera Merah Putih di 4 tiang kantor ledeng (saat ini Kantor Walikota Palembang).
Ketika berita Proklamasi telah sampai ke tokoh-tokoh Sekayu dan sekitarnya, maka para sesepuh dari kalangan tokoh masyarakat dan alim ulama Sekayu (Ibukota Muba saat ini) mulai mengadakan pertemuan untuk memberikan keterangan kepada masyarakat di dusun-dusun bahwa Indonesia telah merdeka sepenuhnya dari penguasaan tantara Jepang.
Namun tidak semua orang percaya bahwa telah berdiri sebuah negara yang bernama Indonesia hal ini disebabkan aparat pemerintah Marga, Pangeran, Pasirah, dan Keria kala itu sebagian dari mereka justru kembali mengharapkan Belanda akan datang kembali untuk menjadi penguasa.
Tetapi tidak demikian bagi kalangan pemuda dan kaum intelektual yang pernah ikut menjadi tentara sukarelawan jepang seperti Gyugun, Heiho, dan Mantan Pegawai Pemerintah Militer Jepang. Mereka justru berjuang melepaskan diri dari cengkraman penjajah.
Bagi mereka setelah Soekarno-Hatta telah menyatakan memploklamirkan kemerdekaan Indonesia, maka sudah saatnya seluruh wilayah Hindia Belanda yang berada di bawah kekuasaan Jepang sudah memulai era baru. Maka peran para Ulama dan Tokoh masyarakat saat itulah yang sangat berpengaruh untuk meyakinkan mereka.
Sementara itu di Sekayu dibentuklah Badan Perjuangan Rakyat Indonesia (BPRI) yang diketuai oleh Dr. Slamet yang merupakan kepala rumah sakit di Sekayu. Beliau berasal dari pulau Jawa tetapi sangat intens memperhatikan perkembangan politik kala itu.
Dr. Slamet pun ditunjuk sebagai ketua Komite Nasional Indonesia (KNI) dengan melantik Badan Pemeliharaan Keamanan Rakyat (BPKR) pada tanggal 27 September 1945 yang merupakan embrio dari kekuatan bersenjata untuk wilayah Musi Ilir. Dengan susunan:
Pemimpin Umum : Usman Bakar
Wakil I : Munandar Wasyik
Wakil II : A. Kosim Dahayat dan Nawawi Gaffar
Mengapa Usman Bakar yang dipilih menjadi Pemimpin Umum ?
Hal ini dikarenakan sosok Usman Bakar yang saat itu baru berusia 23 tahun merupakan mantan prajurit Giyugun. Terlebih lagi sosok Usman Bakar menguasai beberapa Bahasa diantaranya, Bahasa Inggris dan Bahasa Belanda yang tentunya pada masa itu tidak semua orang dapat menguasainya.
Hal ini dikarenakan Usman Bakar merupakan lulusan Middlebare Handesschool, yang memang menguasai disiplin ilmu kurikulum pendidikan Kolonial kala itu.
Salah satu yang menonjol bagi Usman Bakar adalah beliau menguasai Bahasa Belanda, Bahasa Inggris, Bahasa Jepang dan tentunya juga sudah menguasai Bahasa Indonesia yang biasa digunakan oleh tokoh-tokoh pergerakan nasional pada era kolonial. Artinya Usman Bakar sendiri selain mempunyai pengetahuan umum melalui pendidikan pemerintah Kolonial Hindia Belanda juga mendapatkan pendidikan kemiliteran yang cukup dari Pemerintah Militer Dai Nippon (Jepang).
Sehingga sangat wajar jika pada Tahun 1961 beliau dipilih menjadi Bupati Musi Banyuasin pertama yang dipilih secara Demokratis melalui Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Gotong Royong (DPRD-GR). Namun pada kesempatan kali ini penulis tidak membahas Musi Banyuasin pada tahun tersebut.
Kembali ke topik utama, pada masa masa awal-awal kemerdekaan inilah sosok Kapten Usman Bakar bersama rekan-rekannya dengan dukungan para Ulama mengadakan konsolidasi dengan segenap kelompok masyarakat terutama kaum pemuda yang ada di Kewedanaan Musi Ilir dan Kewedanaan Banyuasin untuk membangun semangat Nasionalisme.
Tentunya hal seperti itu tidaklah mudah terlebih pada saat itu beberapa wilayah di Kewedanaan Musi Ilir dan Kewedanaan Banyuasin masih ada masyarakat yang justru kurang peduli untuk berjuang untuk mempertahankan Kemerdekaan Republik Indonesia atau tetap dengan Hindia Belanda.
Pada momentum inilah BPKR Wilayah Musi Ilir memulai pelatihan militer kepada Anggota-anggotanya dan segenap masyarakat yang tertarik untuk mati syahid demi mempertahankan Kemerdekaan Republik Indonesia. Mereka dilatih menggunakan bambu runcing dan senjata api.
Salah satu momen yang terkenal dari BPKR Musi Ilir kala itu adalah tatkala Pada Tanggal 29 September 1945 terjadi penghadangan terhadap pasukan Jepang yanng menuju Pendopo “ The First Gun Fight At Moesi Ilir People With Japan Army.” Akibatnya tentara Jepang berhasil dipukul mundur penghadangan ini dipimpin langsung pimpinan BPKR Usman Bakar.
Hal ini tentunya juga dapat dibilang jika tentara Jepang walaupun sudah menyerah dari pasukan sekutu tetapi masih saja bertindak semaunya seolah menganggap Republik Indonesia belum ada apa-apanya, tetapi hal semacam itu tidak mebuat Usman Bakar Cs gentar.
Tentunya keberhasilan tersebut merupakan cara Usman Bakar untuk membangkitkan ghiroh semangat juang pasukan BPKR Musi Ilir untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Bayangkan saja BPKR Musi Ilir baru terbentuk 4 hari tetapi sudah mampu unjuk gigi di medan juang.
Tentunya hal tersebut tidak terlepas dari sosok Usman Bakar yang terkenal dengan kharismanya dan wibawanya sehingga atas izin Allah Swt dengan mudah dapat memberikan semangat juang kepada para prajuritnya, walaupun boleh dibilang saat itu persenjataan milik pasukannya sangat minim.
Perjalanan waktu BPKR berubah menjadi Badan Keamanan Rakyat (BKR) yang kemudian berubah lagi menjadi Tentara Republik Indonesia (TRI). Meletusnya pertempuran Lima Hari Lima Malam yang memuncak pada 1 Januari 1947 pejuang harus mundur 20 Km. Belanda melancarkan agresi pertama yang berakhir pada tanggal 1 Agustus 1947 mengakibatkan wilayah dikuasai Belanda semakin meluas. Musi Banyuasin Area dibawah Komando Mayor Dani Effendi dan Wakilnya Kapten Usman Bakar dengan membawahi :
Kompi I. Kapten Makmun Murod,
Kompi II. Kapten Animan Achyat,
Kompi III. Letnan Dua a. Rozali dan
Kompi IV. Letnan Dua. Wahid Udin
Pada perang kemerdekaan II 1948 – 1949 Mayor. Dani Effendi ditugaskan sebagai Komandan Sektor Selatan, maka Sub Sektor Palembang Utara dan Musi Banyuasin area dipimpin oleh Kapten Usman Bakar. Demikian sebagian dari kisah Usman Bakar sang pejuang sejati asal Musi Banyuasin.
Di kesempatan yang lain penulis akan membahas mengenai kisah-kisah lainnya dari sosok beliau. Semoga tulisan ini dapat membuat kita semakin sadar akan pentingnya mengingat sejarah perjuangan bangsa agar semakin memupuk rasa nasionalisme dan tidak mengkhianati jerih payah para pahlawan dimasa lampau.#udi/rill