Tak Semua Juara POPDA 2022 Dipanggil POPNAS, Atlet Protes
PALEMBANG, BP – Atlet, orang tua atlet dan pelatih kecewa tidak semua juara Pekan Olahraga Pelajar Daerah (POPDA) Sumsel XVI 2022 lalu lolos dipanggil Pekan Olahraga Pelajar Nasional (POPNAS). Hasil seleksi POPNAS dipertanyakan diduga ada kejanggalan.
Keluhan para atlet ini diutarakan para atlet kepada orang tua atlet dan juga pelatih atlet, lalu disampaikan kepada media massa di GOR Bintang Kejora Jalan Jalan Abusamah, Rabu (15/3/2023).
Salah satunya disampaikan Pelatih PB Bintang Kejora yang juga pelatih kota Palembang, Yayan Iyan. Ia mengungkapkan, ada delapan atlet yang menjadi juara di POPDA 2022 lalu, rinciannya satu nomor tunggal putri, satu nomor tunggal putra, dua orang nomor ganda putri, dua orang nomor ganda putra, dan dua orang nomor mixed double. Namun tidak semuanya lolos seleksi POPNAS.
“Yang juara pertama semua ada delapan orang terdiri dari empat putra dan empat putri, sementara yang kita butuhkan untuk POPNAS lima putra dan lima putri jadi 10 orang atlet, nah seharusnya yang dicari dan diseleksi itu dua atlet lagi yang masih kurang bukan malah menyeleksi yang sudah menjadi juara,” kata Yayan.
Yayan menegaskan, seharusnya atlet yang berprestasi di POPDA dan juara dapat mengikuti kejuaraan POPNAS, namun fakta di lapangan atlet juara harus mengikuti seleksi lagi dengan alasan Binpres PBSI Sumsel ditunjuk sebagai penyeleksi untuk mengikuti seleksi di Kabupaten Musi Banyuasin (Muba).
Yayan menuturkan, dari beberapa seleksi POPNAS yang dilaksanakan di Muba, ada beberapa hal yang mungkin kurang berjalan baik, seperti cara penyeleksian atlet yang menuai protes orang tua atlet dan atlet itu sendiri.
“Yang dipanggil POPNAS itu bahkan ada yang tidak juara, itu pertanyaan bagi kami sekaligus orang tua atlet dan juga pembina. Anak kami yang juara tidak dipanggil ikut seleksi,” ucap pelatih yang bersertifikasi BWF ini.
Lebih lanjut dijelaskannya, cara penyeleksian POPNAS tidaklah relevan karena ada yang atlet nomor baik ganda campuran, ganda putra dan ganda putri, diseleksi secara single semua. Padahal, para atlet nomor ganda dipersiapkan khusus bertanding di nomor ganda.
“Kami dan para atlet keberatan karena penyeleksian tidak sesuai dengan kriteria yang kami inginkan. Seandainya penyeleksiannya itu yang juara 1, 2 dan 3 yang juara dipanggil mungkin tidak terjadi protes seperti ini. Yang lebih baik itu, juara POPDA ditindaklanjuti untuk ke POPNAS sebagai bahan pertimbangan,” ucap Yayan.
Pihaknya sudah menyampaikan keluhan ini kepada PBSI Palembang, dan PBSI Palembang meminta agar ada rembuk atlet dan orang tua atlet serta mengakomodir semua keluhan tersebut, lalu dibuatkan surat keberatan kemudian diserahkan ke PBSI Kota, selanjutnya PBSI kota akan menindaklanjutinya ke PBSI Sumsel.
Sementara itu, pemilik klub Bintang Kejora Palembang, H Taufik Hidayat yang anaknya juga menjuarai POPDA 2022 lalu menambahkan, sejatinya dasar POPDA itu adalah tiket untuk masuk POPNAS, sehingga para juara tidak perlu seleksi lagi untuk ke POPNAS. “Itu sudah mutlak, biasanya seperti itu,” kata Taufik.
Hanya saja, kenyataan saat ini para juara malah diseleksi lagi bahkan ada yang juara tidak diajak. “Jadi ini sangat janggal, karena ada kepentingan Binpres provinsi untuk memasukkan anaknya, jadi seleksi ini tidak layak dan ada kepentingan,” ia menegaskan.
Pihaknya meminta dan akan mengirimkan surat kepada pengurus PBSI Kota untuk menindaklanjuti masalah ini ke PBSI provinsi bahkan ke Diknas.
“Karena bagi atlet kota Palembang, ini sangat merugikan, atlet berharap minta bantuan PBSI Kota menyurati provinsi dan ke Diknas agar dievaluasi ulang,” Taufik menegaskan.
Taufik kembali mengutarakan ada yang aneh, jika ada atlet yang juara pertama dan kedua POPDA namun tidak dapat ikut POPNAS. “Kan aneh? sementara orang yang tidak juara bisa ikut POPNAS, dasarnya seperti apa?” ucapnya.
Taufik mengingatkan, jika hal ini tidak ditindaklanjuti maka masalah ini akan merusak motivasi atlet dan bulutangkis di Sumsel tidak akan pernah maju, jika masih ada pengurus yang melakukan tindakan seperti ini.
“Selaku orang tua, kami menyampaikan keluh kesah atlet, salah satu contohnya yang sudah dibina double tapi di tes single, itu sangat tidak sesuai,” kata pengusaha transportasi ini.
Untuk diketahui, dalam pernyataan sikap para atlet kepada media massa ini, juga hadiri para atlet dan orang tua dari atlet Zhanas Aulia Hidayat Putri dan Mahya Kaila Hidayat Putri. Juara Ganda putri perorangan dan beregu putri dan lainnya.#gus