Kapitan Bong Su We di Pulau Kemaro dan Pangeran Saudagar Kutjing Palembang (Pertengahan abad ke-17 M hgg Pertengahan Abad ke-19 M) (Bagian Terakhir)

313

Oleh : Abdul Azim Amin; (Ketua Yayasan Najahiyah Palembang)

 

IV . Makam Kapitan Bong Su We di Pulau Kemaro, dan Arsitek Keraton dan Masjid Agung

 

Tiga bersaudara, anak raja dari negeri Cina: Kapitan Bong Su We, Kapitan Bong Hu But, dan Kapitan Un A Sing. Dalam silsilah Babah Palembang disebut sebagai Kapitan Bung Suw, Kapitan Belo Minal Muslimin, dan Kapitan A Sing Minal Muslimin. Ketiga anak raja China didampingi para jenderal yang setia sebagai kepala rombongan keluarga besar dinasti Ming (1368-1644) ini meninggalkan istana Beijing, selain untuk berlindung dari kejaran dan usaha pembunuhan jenderal dinasti Ming yang membelot jadi pemberontak, juga hijrah ke Palembang, memperkuat pertahanan Kuto Gawang dari serangan pasukan V.O.C Holanda setelah diketahui, Belanda sudah mengusir Portugis dan menguasai Malaka th 1644.M.

Saat raja Palembang dijabat Kiyai Siding Rejeq, Belanda VOC dan sekutunya (Johor, Jambi, Banten, dls), datang menyerang, beliau berhijrah ke daerah pedalaman; dusun Saka Tiga;  Ogan Ilir; kemudian perlawanan dilakuka  oleh saudaranya: Kiyai Mas Hindi (Pangeran Ario Kesumo) bersama dua sahabatnya; Kapitan Bong Su We dan Daeng Mangika, meskipun salah seorang Panglimanya; Kapitan Bong Su  dan anak buahnya gugur tenggelam kapal di sungai Musi selaku syahid dan syuhacda`, dan negeri serta perkampungan penduduk hangus terbakar, Palembang mendapat kemenangan. Jenazah Kapitan Bong Su We dan anak buahnya dimakamkan di pulau Kemaro, pen); Adapun Kapitan Belo/ Bong Hu But,  wafat dan dikuburkan di Bangka, dan Kapitan A Sing/ Un A Sing,  wafat di Palembang, dimakamkan di negeri China.

Baca Juga:  Petugas Posko Lebaran Tengah Kota di Sumsel Diminta Ekstra Kerja 

Setelah negeri aman, Kiyai Mas Hindi / Pangeran Ario Kesumo mendirikan kesultanan Palembang lepas dari pengaruh kekuasan Mataram Islam dengan mendirikan keraton Beringin Janggut. Dalam hal ini, sumber Belanda seperti tercatat dalam buku resmi terbitan dinas budpar Palembang berjudul” Sejarah Kota Palembang, tanpa tahun; hal. 26, menyebutkan sbb:”pada tahun 1682 M ± 30 orang saudagar Cina dimanfaatkan oleh Sultan Palembang, 4 (empat) saudagar diantaranya dijadikan pengawas perdagangan dengan VOC. Semua pedagang Cina ini beragama Islam, juga seorang pedagang India yang beragama Islam”.

Pangeran Saudagar Ku Tjing digelari Sunan Palembang dan dipercaya sbg sahbandar Palembang. Nama julukan lainnya Babah Yaw Jian/ Yu Jin; adalah salah seorang putera Kapitan Belo, nama Melayunya Kiyai Mas Husin. Julukan saudagar Ku Tjing menjadi nama salah satu anak sungai Musi di kawasan Seberang Ulu. Merupakan pusat dan kantor perdagangan masa itu disebut kampong Gedong Batu. Namun hingga kini, istana/ rumah besar Pangeran Saudagar Ku Tjing belum diketahui. Sebab kampong Gedong Batu merupakan pelabuhan penes/ junk asal China. Situs dan lokasi pelauhan Gedong Batu kini terletak di Kelurahan 3-4 Ulu. Sdh terlembus oleh lumpur menjadi pemukiman penduduk, ditengahnya mengalir anak sungai Musi dengan namanya.

Baca Juga:  Sepakat Maju Di Pilkada Empatlawang

Ku Tjing dalam Bahasa Mandarin dapat berarti “Seberang Laut”.  Sebutan ini, bukan saja  telah menjadi nama sebuah kampung di Palembang, melainkan juga menjadi nama sebuah kota di Kalimantan Barat bagian Serawak. Gedong Batu, merupakan kantor pusat pencatatan bongkar muat barang dagangan dari dan ke berbagai negeri jauh. Bahkan sebagai tempat rehabilitasi kapal-kapal, khususnya junk samudera asal negeri Cina.  Luas pelabuhan Gedong Batu sepanjang pinggir sungai di kawasan seberang Ulu dari muara sungai Komering hingga muara sungai Ogan.

Babah Yau Jian selaku Arsitek pembangunan kerraton Kuto Besak, juga merancang pendirian bangunan masjid Agung Palembang. Hal ini dikemukakan seorang penulis sejarah J.C. Burril dalam artikelnya The Grand Mosque of Palembang,  arsitek masjid Agung adalah seorang mantan menteri dari kerajaan Tiongkok yg melarikan diri ke Palembang, kemudian disebut sebagai arsitektur Melayu dan Cina.Typa masjid ini sama dg bangunan masjid di masjid Agung di Ampel. Surabaya.Kudus dan Medan.Masjid ini didirikan bertalian dg perkembangan Islam di daerah tersebut (Republika, 5 desember 2005). Arsitek ini adalah Pangeran Saudagar Kutjing, merupakan generasi kedua dari Kapitan Belo Minal Muslimin. Sebagai anak raja Cina;  Chu Yu-Chin/ Zhu You-Jian, dan bertahta tahun 1628-1644.M.

Baca Juga:  Polda Sumsel Gelar Rapat Kesiapan Hadapi Idul Fitri 1445 H  , Ini Pesan Wakapolda 

 

V.  Kampung Penerbitan QuranulAzim dan Dala`ilul Khoirat.

Generasi ke-6 dari raja Zu Yaw Jian bernama Babah Muhammad Najib (1809-1849). Tahun 1826 berjuluk Kiyai Demang Jayalaksana, th 1836, sebagai Kepala Divisi di Ogan Komiring Ilir, masa ini negeri Palembang yg diserbu habis-habisan oleh Belanda dipimpin dua penguasa, Pangeran Kerama Jara, yakni Raden Abdulazim, selaku Perdana Menteri mewakili kepentingan rakyat umat Islam, dan residen mewakili kepentingan kolonial. Masa ini dapat disebut sebgai Darul ‘Ahdi (era pemerintahan diatur bersama atas dasar perjanjian). Sementara SMB II masih di asingkan Hollanda/ Belanda ke Ternate; Kepulauan Maluku nun jauh disana, penuh harapan, dapat kembali ke istananya. Tahun 1848.M. dikampung Jayalaksana (Kelurahan 3 Ulu) didirikan pusat pendidikan dan dakwah Islam. Menghadirkan para sastrawan dari Singapura, santri lolosan Buntet, Baba Abdullah, dan kerabat lulusan Hijaz (Makkah dan Madinah) Syekh Kemas Haji Muhammad Azhari bin Abdillah bin Ahmad. Zurriyat Sunan Kudus, sebagai Khotthoth/ penulisnya. Selain menerbitkan Quranul ‘azim sebanyak 105 exemplar, juga kitab Dalailul Khoirot pada tahun 1849. Wallahu a’lam bis showab. Semoga bermanfaat.

Komentar Anda
Loading...