
Palembang, BP- Gubernur Sumatera Selatan (Sumsel) H Herman Deru meresmikan dimulainya renovasi Monumen Perjuangan Rakyat Tanjung Sakti yang terletak di Desa Batu Rancing Kecamatan Tanjung Sakti Pumu , Kabupaten Lahat, Sabtu (17/12).
Bersamaan dengan itu Gubernur juga menandatangani prasasti Rumah Pembarap Amat sebagai salah satu bangunan bersejarah bagi masyarakat Tanjung Sakti.
Rumah Pembarap Amat dibangun pada tahun 1947 dan pernah digunakan sebagai Markas Residen Abdul Rozak selana mengungsi di Batu Rancing, Tanjung Sakti.
Diketahui, Tanjung Sakti pernah menjadi basis pertahanan TNI, yakni sebagai Markas Sub Teritorial Palembang (STP) yang dipimpin oleh Kolonel Bambang Utoyo dan menjadi Pusat Keresidenan Palembang yang dipimpin oleh Abdul Rozak.
Tokoh Masyarakat Tanjung Sakti yang juga sebagai Anggota DPRD Sumsel, Budiarto Marsul berharap monumen yang telah diresmikan menjadi motivasi bagi generasi selanjutnya.
“Kami bangga bahwa kecamatan Tanjung Sakti ini pernah menjadi tempat bersejarah, sebagai masyarakat kami akan menjaga dengan baik peninggalan ini,” tandasnya.
Budiarto Marsul menjelaskan kalau dirinya adalah cucu seorang pejuang sekaligus seorang Pasirah di daerah yang bernama Tanjung Sakti yang kini menjadi Kecamatan Tanjung Sakti, kota Pagaralam.
“ Nenek bapak saya itu namanya Amat adalah seorang Pembarat (wakil pasirah),” kata Budiarto.
Menurut politisi Partai Gerindra ini, pada masa Agresi Militer II. Agresi militer ke-II untuk wilayah keresidenan Palembang di mulai pada bulan Januari 1949.
Para pemimpin militer maupun sipil mengundurkan diri ke daerah yang aman dari serbun Belanda. Pusat pemerintahan sipil yang tadinya berada di Curup dipindahkan ke Tanjung Sakti. Abdul Rozak selaku Residen Palembang ikut berpindah ke Tanjung Sakti bersama staf pemerintahan sipil lainnya, diantaranya Bupati Amaluddin, Wedana Ibrahim, Wedana Wani, dll. Meskipun berada jauh dari kota Palembang, namun aktivitas pemerintahan sipil di keresidenan Palembang tetap dapat berjalan
“Aku dapat cerita ini dari nenek dan orangtua aku, tapi rumah tempat aku dilahirkan, jadi tempat pak Residen A Rozak Rasyad Nawawi tinggal,” kata mantan Wakil Walikota Pagaralam ini.
Budiarto ingat betul dari cerita orangtua dan neneknya selain Residen A Rozak, ada juga tokoh pejuang lain seperti Sidi Ading , Bambang Utoyo yang ikut mundur ke Tanjung Saksi, Pasemah Air Keruh.
Menurut Budiarto para pejuang ini hidupnya berpindah pindah dan kadang menetap antara 2 minggu hingga 1 bulan.
“Di Tanjung Sakti itu ada dua marga, Pumu (basis pertahanannya di Desa Batu Rancing dan ) dan Pumi (Simpang tiga), selain itu basis pejuang kita ada juga di Padang Petai, Tanjung Kurung. Pak Residen A Rozak itu yang memimpin pemerintahan sipil Sumsel itu langsung di rumah nenek saya,” kata politisi Partai Gerindra ini.
Selain itu menurut Budiarto, kawasan Tanjung Sakti dulu dikenal sebagai tempat persembunyian para pejuang , sedangkan lokasi konfrontasi dengan Belanda maju ke arah Bumi Agung wilayah Pagaralam.
Malahan di rumah neneknya tersebut, Budiarto menjelaskan , Residen Abdul Rozak memerintahkan pembuatan/pencetakan uang kertas darurat, yang dikenal dengan nama OERIP (Oeang Kertas Republik Indonesia Palembang). Uang kertas yang dicetak ini dikenal sebagai DPDP (Dewan Pertimbangan Daerah Palembang).
“Tanjung sakti adaah kecamatan yang istimewa di Sumsel, karena jika kita lihat dari sejarah disini Tanjung Sakti pernah menjadi pengendalian pusat pemerintahan pada saat itu,” kata kata Gubernur Sumsel H Herman Deru.
Lebih jauh Herman Deru menuturkan sudah seharusnya monumen perjuangan yang ada di Desa Batu Rancing itu dijadikan sebagai monumen sakral dalam mengenang para jasa para tokoh setempat yang telah berupaya menjalankan pemerintahan sementara di daerahnya pada masa zaman penjajahan Belanda.
“Monumen ini sebagai saksi, dimana para tokoh berjuang kita pernah menjalankan roda pemerintahan disaat Kota Palembang diduduki Belanda. Karena itu sudah sepantasnya kita lakukan renovasi sebagai bentuk penghormatan kita pada mereka,” imbuhnya.
Lebih jauh Herman Deru berharap Tanjung Sakti menjadi motivasi bagi warga Sumsel dalam melanjutkan perjuangan dalam membangun daerah. Terlebih warga asal Tanjung Sakti telah banyak menorehkan prestasi dikancah nasional sehingga menjadikan daerah itukian dikenal di luar Sumsel.
“Tidak heran jika warga Tanjung Sakti banyak yang menduduki posisi penting baik dilevel di daerah maupun di kancah nasional,” katanya.
Sebelum peresmian Renovasi Monumen Perjuangan Rakyat Tanjung Sakti, Gubernur Herman Deru meninjau SMA Negeri 1 Desa Batu Rancing Pumu yang sempat mengalamj kerusakan akibat banjir.
Dalam tinjauannya Herman Deru berjanji akan memperbaiki kerusakan yang terjadi melalui Dinas Pendidikan.
Masih dalam lawatannya di Kabupaten Lahat, Herman Deru menandatangani. #udi