
Palembang, BP- Kesatuan Organisasi Serbaguna Gotong Royong (Kosgoro) Sumatera Selatan (Sumsel) mulai menyusun strategi untuk memenangkan Pemilihan Presiden (Pilpres) 2024.
Ketua DPD Partai Golkar Sumsel Bobby Adhityo Rizaldi mengatakan, Kosgoro Sumsel memiliki tugas dalam merekrut kader muda untuk mengisi perjuangan salah satu kelompok induk organisasi Partai Golkar.
“Saya kira Kosgoro jangan monoton saja, tetapi harus solid dan melakukan pengabdian yang nyata kepada masyarakat untuk pemenangan nanti (Pilpres 2024),” kata Bobby didampingi Ketua Harian DPD Partai Golkar Sumsel Hj RA Anita Noeringhati disela-sela pelaksanaan Musyawarah Daerah (Musda) IV Pimpinan Daerah Kolektif Kosgoro 1957 Sumsel di Hotel Swarna Dwipa Palembang, Minggu ,(6/11).
Sekretaris Jendral PPK Kosgoro 1957, M Sabil Rachman mengatakan, penguatan basis Kosgoro harus dilakukan agar mampu menyerap aspiran dan pikiran rakyat.
“Kalau tidak solid bagaimana bisa memperjuangkan rakyat,” ujarnya.
Untuk itulah, sambung Sabil, Kosgoro Sumsel memiliki strategi dalam pemenangan Pilpres 2024 nanti.
Salah satunya dengan menggerakkan semua potensi seperti penguatan kelembagaan responsivitas terhadap kepentingan publik dan kepentingan anggota.
“Tujuan akhirnya untuk melahirkan kepentingan politik,” tegasnya.
Lebih jauh kata dia, pihaknya memiliki kepentingan politik yang menggurita di seluruh Indonesia mulai dari kemenangan Pemilihan Legislatif di semua tingkatan, Pemilihan Gubernur Sumsel dan Pemilihan Presiden
“Golkar sudah punya calon Presiden yakni Airlangga Hartanto,” katanya.
Dalam catatan sejarah, sambung Sabil, Kosgoro memiliki peran yang besar dalam pembangunan Indonesia.
Hal ini dibuktikan dengan kehadiran 17 kabupaten kota dalam gerakan yang ada pada Kosgoro 1952.
“Kosgoro itu besar makanya punya ruang untuk lebih luas untuk menyerap aspirasi dan mengedepankan agenda-agenda pro rakyat,” jelasnya.
Saat ini, jumlah kepengurusan Kosgoro di Indonesia mencapai 2,4 juta orang.
Jumlah ini dinilai sangat besar untuk memberikan warna dalam setiap pengambilan kebijakan politik.
“Tradisi Kosgoro itu musyawarah mufakat. Kita tidak mau pasca pemilihan nanti ada yang seperti anak kecil. Kultur demokrasi kita memang belum sehat, tidak siap beda pendapat hingga terjadi perpecahan. Tapi jika dilihat hari ini, saya rasa kesolidan Kosgoro Sumsel sangat kuat, bahkan seorang perempuan juga bisa menggerakkan Kosgoro di masa yang akan datang,” katanya.#osk