Ternyata Kisah Perang Lima Hari Lima Malam Tidak Masuk Kurikulum

193
Memperingati Perang 5 Hari 5 Malam yang terjadi di Kota Palembang pada 5 Januari 1947 yang silam tepatnya Sabtu (1/1) . Komunitas  Sahabat Cagar Budaya  (SCB) menggelar kegiatan mengheningkan cipta , bincang pusaka dan Heritage Walk Palembang di Taman Tentara Pelajar di Jalan Merdeka, Palembang.(BP/IST)

Palembang, BP- Memperingati Perang 5 Hari 5 Malam yang terjadi di Kota Palembang pada 5 Januari 1947 yang silam tepatnya Sabtu (1/1) . Komunitas  Sahabat Cagar Budaya  (SCB) menggelar kegiatan mengheningkan cipta , bincang pusaka dan Heritage Walk Palembang bertemakan Meet The Heroes  di Taman Tentara Pelajar di Jalan Merdeka, Palembang.

Dengan pemateri sejarawan dari Universitas Sriwijaya (Unsri) Syafruddin Yusuf .Juga hadir Sultan Palembang Darussalam Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) IV Jaya Wikrama R M Fauwaz Diradja SH Mkn dan anggota SCB dan masyarakat umum.

Syafruddin Yusuf  menjelaskan perang lima hari lima malam di Palembang sangat penting  dan harus diperingati karena perang lima hari  lima malam ini merupakan wujud dari  masyarakat di Palembang dan  Sumatera Selatan (Sumsel) secara umum punya tekad untuk melaksanakan proklamasi kemerdekaan.

“Kalau generasi tua pasti tahu perang lima hari lima malam cuma generasi  muda ini yang umur 20 tahunan kurang, karena mata pelajaran sejarah yang membahas perang lima hari lima malam  tidak ada dalam kurikulum, “ katanya.

Baca Juga:  Andika Cabuli Anak di Bawah Umur di Dekat WC Umum

Repotnya menurutnya guru-guru tidak berani menyampaikan materi lokal diluar kurikulum yang ada.

“ Mestinya sasaran pertama kalau mau perang ini dikenal masyarakat khususnya  generasi muda sekarang di lembaga pendidikan  ini nanti kaitannya nanti Dinas Pendidikan  yang mewajibkan memberikan  materi tentang perang lima hari lima malam itu,” katanya.

Selain itu menurutnya ada  beberapa  faktor kenapa Belanda ingin menguasai Palembang dalam perang lima hari lima malam, yaitu faktor ekonomi di mana Palembang kaya dan banyak penghasilan sumber daya alam.

Lalu faktor politik dimana Palembang adalah pusat pemerintahan wilayah Sumatera Bagian Selatan dimana secara politik menguasai Palembang berarti  bisa menaklukkan daerah lain di luar kota Palembang.

Baca Juga:  Warga IT II Pertanyakan Pasar Tumpah Di IT II

“ Faktor militer, Palembang  juga pusat kekuatan militer untuk Sumatera Bagian Selatan dan dari sisi sosial dimana waktu zaman Jepang , orang Belanda ditahan dan disiksa oleh Jepang , oleh karena itu Belanda ingin mengembalikan  citra Belanda adalah bangsa yang besar dan kuat , satu-satunya jalan dia ingin mengembalikan citra itu dengan menguasai Palembang,” katanya.

Untuk titik perang lima hari lima malam paling sengit menurutnya diantaranya di Charitas , Bagus Kuning Plaju, Gedung Handlezaken, Talang Semut dan pusat kekuatan Belanda di Benteng Kuto Besak dan Charitas.

“ Ini sifatnya perang kota ,”  katanya.

Menurutnya  kalau sampai generasi muda tidak tahu perang lima hari lima malam di Palembang ini dinilainya sangat berbahaya sekali.

Baca Juga:  Gelar Deklarasi Pemilu Damai 2024, Polrestabes Palembang Harapkan Tercapainya Situasi Keamanan 

“ Nanti nilai-nilai dia untuk  menghargai kepahlawanan itu  sangat kurang, sebab didalam perang lima hari lima malam itu khan dihilangkan faktor agama, faktor kesukuan yang penting sama-sama mempertahankan kemerdekaan,” katanya.

Menurut Penggagas Komunitas Cagar Budaya Robby Sunata menjelaskan kalau perang lima hari lima malam di kota Palembang menurutnya perang besar yang juga mendapatkan perhatian dari pemerintah pusat .

“ Dari situ saja jelas kalau perang ini penting, perang ini diperhatikan oleh pemerintah pusat yang ada di Yogyakarta, karena Palembang waktu itu ada dua kilang minyak  terbesar di Asia Tenggara jadi  sekitar 70 persen penghasil minyak  di Indonesia ada di Palembang, jadi secara ekonomi dan politik Palembang penting ,” katanya.#osk

 

 

 

Komentar Anda
Loading...