Songket di Klaim Malaysia, Herman Deru:  “Harus di Lihat dari Perspektif Kompetisi”

330
Gubernur Sumsel Herman Deru saat memberikan sambutan dalam pementasan Dul Muluk dengan judul Sultan Abdul Moeloek , Sabtu (18/12) di Ballroom Hotel Swarnadwipa, Palembang.(BP/IST)

Palembang, BP- Songket Malaysia mendapatkan pengakuan dari United Nations Educational, Scientific, and Cultural Organization (Unesco) sebagai Warisan Budaya tak Benda Kemanusiaan, berita ini sempat viral di Media Sosial (Medsos).

Gubernur Sumatera Selatan (Sumsel) Herman Deru menilai justru hal ini dilihat dari perspektif kompetisi .

 

“ Malaysia yang  songketnya sangat sederhana  itu saja  bisa mendaftakan ke Unesco, yang punya kita ini kualitasnya lebih , kuantitasnya lebih , kenapa kita tidak jadikan itu rival dan kita daftarkan  sebagai mutu yang lebih baik, bukan  kita menghujat, mengklaim,” kata Gubernur saat memberikan sambutan dalam pementasan Dul Muluk dengan judul Sultan Abdul Moeloek , Sabtu (18/12) di Ballroom Hotel Swarnadwipa, Palembang.

 

Menurutnya Songket  Sumsel harus dipelihara , ditingkatkan kualitasnya dan daftarkan juga  tapi Songket tidak bisa di daftarkan atas nama provinsi karena Unesco bagian dari organisasi dunia, maka pada tingkat pusat.

Baca Juga:  Polda Sumsel Amankan 4 Penyusup Demo Bersenjata Tajam dan Bom Molotov di Depan DPRD

 

“ Kita usulkan ke tingkat pusat, bahwa segala pernak pernik Songket dan sebagainya, boleh saja orang klaim datang dari mana tapi sebenarnya yang berkualitas baik dan berkuantitas banyak itu ada di Sumatera Selatan terkhusus di Palembang , saya analogikan dengan cerita lain  sate misalnya dimanapun kita ketemu sate  tapi Tegal itu mengklaim sate dari Tegal , emang kita harus emosi, Palembang bisa buat sate bahkan  lebih lezat , ya kita klaim sebagai sate Palembang,” katanya.

Artinya menurut Gubernur begitu berartinya  Songket ini  sampai di kompetisikan  orang untuk memperebutkan hak patennya.

 

“ Jangan kito emosi , jangan kito terus kebawa perasaan  justru ini menjadi pemacu kita untuk bersaing, sederhana sekali Songket Malaysia itu , tidak ada apa-apanya dengan songket  kita ini baik variannya , jenisnya kita ini  setiap gambar  itu mengandung arti misalnya pucuk rebung dan sebagainya, sama juga  dengan batik,” katanya.

Baca Juga:  Gubernur Sumsel Didemo, Terkait Kebijakan 29 SMA Boleh Lakukan Pungutan

 

Menurutnya ketika batik dulu di daftarkan  orang pada lembaga yang sama kita teriak-teriak  tapi ternyata motip batiknya beda.

 

“ Di Sumsel saja ada  batik durian, ada batik Pali, ada  batik Komering , ada macam-macam, jadi kita tidak perlu berdebat soal yang tidak produktif justru kita jadikan  ini sebagai alat kita terpacu  menjadi orang-orang bersemangat, termasuk Dul Muluk , kalau orang Argentina mengaku Dul Muluk dari dio lajulah, terima kasih namanya  yang penting ini memang dari kito,” katanya.

 

Sedangkan Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sumsel Aufa Syahrizal Sarkomi menilai Sumsel tidak perlu resah dengan klaim Malaysia atas Songket.

Baca Juga:  Kadispenad: Netralitas TNI AD Jangan Diragukan, Melanggar Ditindak Tegas !

 

“ Yang penting kita sudah berupaya  , Songket sendiri  sebagai warisan budaya  tak benda sudah kita daftarkan  di Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan dan sudah ada sertifikasi , untuk tindaklanjut apakah  diakui Unesco itu bukan tanggungjawab kita lagi tapi tanggungjawab nasional , tanggung jawab Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, tapi 2013 sudah sertifikasi,” katanya.

 

Apalagi untuk mendapatkan pengakuan Unesco menurutnya harus ada proses.

 

“ Yang penting mutu Songket kita pertahankan , kita bersaing dalam mutu, apalah arti sebuah nama  yang penting mutunya, bahwa orang tahu Songket Palembang lebih baik dari  Songket lain, apalagi Songket bangsa Melayu sudah jadi kebiasaan sehari-hari, mereka pakai baju melayu, itu mereka langsung pakai Songket jadi wajar-wajar saja kalau mereka mengklaim,” katanya.#osk

 

 

Komentar Anda
Loading...