Songket di Klaim Malaysia, Herman Deru: “Harus di Lihat dari Perspektif Kompetisi”

Palembang, BP- Songket Malaysia mendapatkan pengakuan dari United Nations Educational, Scientific, and Cultural Organization (Unesco) sebagai Warisan Budaya tak Benda Kemanusiaan, berita ini sempat viral di Media Sosial (Medsos).
Gubernur Sumatera Selatan (Sumsel) Herman Deru menilai justru hal ini dilihat dari perspektif kompetisi .
“ Malaysia yang songketnya sangat sederhana itu saja bisa mendaftakan ke Unesco, yang punya kita ini kualitasnya lebih , kuantitasnya lebih , kenapa kita tidak jadikan itu rival dan kita daftarkan sebagai mutu yang lebih baik, bukan kita menghujat, mengklaim,” kata Gubernur saat memberikan sambutan dalam pementasan Dul Muluk dengan judul Sultan Abdul Moeloek , Sabtu (18/12) di Ballroom Hotel Swarnadwipa, Palembang.
Menurutnya Songket Sumsel harus dipelihara , ditingkatkan kualitasnya dan daftarkan juga tapi Songket tidak bisa di daftarkan atas nama provinsi karena Unesco bagian dari organisasi dunia, maka pada tingkat pusat.
“ Kita usulkan ke tingkat pusat, bahwa segala pernak pernik Songket dan sebagainya, boleh saja orang klaim datang dari mana tapi sebenarnya yang berkualitas baik dan berkuantitas banyak itu ada di Sumatera Selatan terkhusus di Palembang , saya analogikan dengan cerita lain sate misalnya dimanapun kita ketemu sate tapi Tegal itu mengklaim sate dari Tegal , emang kita harus emosi, Palembang bisa buat sate bahkan lebih lezat , ya kita klaim sebagai sate Palembang,” katanya.
Artinya menurut Gubernur begitu berartinya Songket ini sampai di kompetisikan orang untuk memperebutkan hak patennya.
“ Jangan kito emosi , jangan kito terus kebawa perasaan justru ini menjadi pemacu kita untuk bersaing, sederhana sekali Songket Malaysia itu , tidak ada apa-apanya dengan songket kita ini baik variannya , jenisnya kita ini setiap gambar itu mengandung arti misalnya pucuk rebung dan sebagainya, sama juga dengan batik,” katanya.
Menurutnya ketika batik dulu di daftarkan orang pada lembaga yang sama kita teriak-teriak tapi ternyata motip batiknya beda.
“ Di Sumsel saja ada batik durian, ada batik Pali, ada batik Komering , ada macam-macam, jadi kita tidak perlu berdebat soal yang tidak produktif justru kita jadikan ini sebagai alat kita terpacu menjadi orang-orang bersemangat, termasuk Dul Muluk , kalau orang Argentina mengaku Dul Muluk dari dio lajulah, terima kasih namanya yang penting ini memang dari kito,” katanya.
Sedangkan Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sumsel Aufa Syahrizal Sarkomi menilai Sumsel tidak perlu resah dengan klaim Malaysia atas Songket.
“ Yang penting kita sudah berupaya , Songket sendiri sebagai warisan budaya tak benda sudah kita daftarkan di Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan dan sudah ada sertifikasi , untuk tindaklanjut apakah diakui Unesco itu bukan tanggungjawab kita lagi tapi tanggungjawab nasional , tanggung jawab Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, tapi 2013 sudah sertifikasi,” katanya.
Apalagi untuk mendapatkan pengakuan Unesco menurutnya harus ada proses.
“ Yang penting mutu Songket kita pertahankan , kita bersaing dalam mutu, apalah arti sebuah nama yang penting mutunya, bahwa orang tahu Songket Palembang lebih baik dari Songket lain, apalagi Songket bangsa Melayu sudah jadi kebiasaan sehari-hari, mereka pakai baju melayu, itu mereka langsung pakai Songket jadi wajar-wajar saja kalau mereka mengklaim,” katanya.#osk