Telusuri Jejak Tokoh Nahdlatul Ulama Masa Awal di Palembang

849

Oleh : Muhamad Setiawan, S.H.

(Tokoh Muda NU Sumsel)

Tidak lama lagi tepatnya tanggal 23-25 Desember 2021 ini akan di gelar acara perhelatan akbar nomor satu di Nahdlatul Ulama yaitu Muktamar Ke-34 yang akan diselenggarakan di Provinsi Lampung.

Berbicara terkait Nahdlatul Ulama maka yang akan terlintas di pikiran kita semua adalah sebuah organisasi masyarakat Islam terbesar di Indonesia, bahkan dalam versi lain di dunia, yang bersifat sosial keagamaan serta berhaluan Islam Ahlussunnah Wal Jamaah An-Nahdliyyah. Sesuai dengan namanya maka ormas NU ini sebagai ormas yang sangat tua di Nusantara yakni berdiri pada 1926 M dan akan menyongsong ultahnya yang ke-100 pada 2026 mendatang adalah ormas yang berisi para alim ulama aswaja yang berjumlah puluhan ribu bahkan jutaan di Nusantara dan bahkan berbagai penjuru dunia.

Tak terkecuali Provinsi Sumatera Selatan ini yang pada masa awal awal berdirinya NU disebut daerah Palembang, menurut penuturan para alim ulama sesepuh di Palembang yakni KH. Mal An Abdullah yang kini beliau menjadi Ketua Tim Penghimpun dan Penulis Buku Sejarah NU di Sumsel, bahwa NU di Palembang sudah ada sejak tahun-tahun awal NU didirikan dan alim ulama Palembang sudah ada yang mengikuti muktamar NU di jawa kala itu.

Setelah mendengar banyak cerita dan data dari Kyai Mal An, Muhamad Setiawan atau sering akrab disapa cek wan, yang merupakan Ketua Umum Komunitas Pecinta Ziarah Palembang Darussalam dan Sumatera Selatan (KOPZIPS) sekaligus Tokoh NU muda juga yang saat ini menjabat sebagai Katib Syuriyah PRNU Bukit Sangkal melakukan penelusuran terhadap seorang tokoh Ulama NU tempo dulu yang berperan besar terhadap NU di Palembang Sumsel pada masa itu yakni Asy-Syekh Al-Habib As-Sayyid Muhammad bin Salim Al-Kaf.

Baca Juga:  Anggota DPRD Kota Lubuk Linggau Fraksi Gerindra Ini Gelar Safari Ramadan

Saya membaca buku 101 Ulama Sumsel buah karya Kyai Kms Andi Syarifuddin dan Kyai Hendra Zainuddin itu, di dalamnya disebut bahwa ketika KH. M. Zen Syukri yang merupakan tokoh Ulama besar NU di Palembang pada sekitaran tahun 1930 an, ketika itu beliau masih muda dan beliau belajar kepada Habib Muhammad bin Salim Al-Kaf tersebut, yang mana Habib Muhammad bin Salim Al-Kaf tersebut merupakan Rois Syuriyah NU Cabang Palembang dan salah seorang pendiri NU cabang Palembang. Dari gurunya tersebut lah abah Zen Syukri di arahkan untuk nyantri di Pondok Pesantren Tebuireng Jombang Jawa Timur yang dipimpin oleh Rois Akbar Nahdlatul Ulama yakni Hadratusy Syekh KH. M. Hasyim Asy’ari.

Salah satu makan kuno di Palembang (BP/IST)

Dalam literatur lain yakni buku Kiswah Habaib Palembang juga dijelaskan kalau Al-Habib Muhammad bin Hamid BSA yang biasa disapa dengan sebutan Ust Ak yang merupakan seorang Ulama besar Aswaja di Palembang juga pernah belajar kepada Al-Habib Muhammad bin Salim Al-Kaf tersebut.

Kalau kita lihat biografi Kyai Zen Syukri dan Habib Muhammad BSA beliau memang hidup dalam kurun waktu yang sama dari sisi umurnya beliau, dan beliau juga memiliki guru guru yang sama, baik dari kalangan Habaib maupun dari kalangan Kyai, dan keduanya adalah Ulama besar Aswaja di Palembang serta sama sama pernah belajar kepada Al-Habib Muhammad bin Salim Al-Kaf tersebut.

Lalu kalau kita perkirakan masa belajar beliau kepada Al-Habib Muhammad bin Salim Al-Kaf adalah lebih kurang sekitar tahun 1930 an, dimana NU memang awal awal berdiri.

Baca Juga:  Firdaus Hasbullah  Ingatkan  Pelaku Usaha Agar Patuh dengan Regulasi yang Berlaku

Ketika saya menelusuri jejak beliau Al-Habib Muhammad bin Salim Al-Kaf tersebut maka belum ada yang ditemukan titik terangnya baik keturunan beliau, rumah beliau, foto beliau, dan data-data beliau lainnya termasuk data-data beliau sewaktu berkiprah di NU belum ditemukan, baik ketika ditelusuri di tokoh tokoh Ulama sepuh NU Sumsel dari kalangan Kyai maupun keluarga besar Alawiyyin Palembang dari kalangan Habaib, juga belum ditemukan banyak data-data tentang beliau.

Satu-satunya data yang saat ini ditemukan adalah makam yang kemungkinan besar adalah makam beliau. Ketika saya berziarah ke Gubah Habib Ahmad bin Syekh bin Syahab atau Gubah Duku yang terletak di kampung seberang ilir Palembang, dan saya bertanya dengan Habib yang merawat komplek pemakaman itu, di gubah yang besar ini ada satu makam seorang Habib yang bernama Al-Habib Muhammad bin Salim Al-Kaf yang mana makam tersebut sudah cukup tua dilihat dari nisannya yang sudah mulai lapuk dan sayangnya tulisan arab melayu di kedua nisan tersebut sudah tidak terbaca lagi karena sudah dimakan zaman, namun sang Habib yang merawat Gubah duku ini yakin bahwa makam ini adalah milik Al-Habib Muhammad bin Salim Al-Kaf yang dulu tinggal di kampung Al-Kaf Yusrain seberang ilir Palembang. Dari nisan beliau bertipe demak troloyo persis mirip dengan nisan milik Syekh Kms Muhammad Azhari bin Abdullah Al-Falimbani yang terletak di gubah kepandean yang mana Habib Muhammad bin Salim Al-Kaf hidup sezaman dengan Syekh Kms Muhammad Azhari. Dari penelusuran saya terhadap makam beliau ini baik dari segi arkeologi makam beliau yang sama dengan makam Syekh Kms Muhammad Azhari yang notabenenya hidup sezaman dan dari segi umur makam yang sudah sangat lama kisaran tahun 1930 an, serta kurun waktu dua Ulama besar Palembang yakni abah Zen dan Ust Ak berguru kepada beliau di tahun tahun itu ketika beliau berdua masih berusia muda.

Baca Juga:  Re-Aktualisasi “Wayang Palembang” Sebagai Upaya Penguatan Pendidikan Karakter

Saya yakin inilah makam tokoh yang dimaksud yakni Al-Habib Muhammad bin Salim Al-Kaf Rois Syuriyah Nahdlatul Ulama pertama cabang Palembang sekaligus salah seorang pendiri Nahdlatul Ulama cabang Palembang di tahun 1934.

Mengapa saya yakin makam beliau ini digubah duku karena Laqob Habaib dengan nama Ibni Salim Al-Kaf itu terdapat di Kambang Koci pada masa Kesultanan Palembang Darussalam, namun ketika masa kolonial Belanda putra-putra Habib Salim Al-Kaf dimakamkan di gubah duku, tidak lagi di kambang koci, jadi dapat ditelusuri bahwa makam beliau ini memang benar Insya Allah ada di gubah duku seberang ilir, bukan lagi digubah kambang koci karena sudah banyak yang dimakamkan di gubah duku pada masa itu dan bukan juga di gubah Habaib telaga sewidak seberang ulu.

Semoga data-data beliau yang lebih lengkap lagi dapat kita telusuri lebih lanjut dan dapat diabadikan oleh Tim Penghimpun dan Penulis Sejarah Nahdlatul Ulama (NU) di Sumatera Selatan dalam bukunya nanti. Karena Sejarah kebesaran Ulama Sumsel sangat perlu untuk kita angkat dan kita dokumentasikan agar generasi yang akan datang mengetahui Sejarah masa lalunya.#osk

Komentar Anda
Loading...