Nasabin bercerita tentang pertempuran di Desa Kuba bersama kakak kandungnya yang telah gugur demi tanah air tercinta. Hingga kini setiap peringatan Kemerdekaan Republik Indonesia di bulan Agustus dan Hari Pahlawan 10 November di area makam Letda Abdul Karim masih dilangsungkan upacara yang dihadiri unsur TNI, Polri, Tripika dan lainnya untuk menghormati jasa-jasa Letda Abdul Karim.
Selain pejuang kemerdekaan Letda Abdul Karim di Tanjung Sakti Pumi juga ada tokoh yang berjuang di masa kemerdekaan, yaitu Kolonel Barlian. Nama tokoh Kolonel Barlian diabadikan dengan membuat monumen patung Kolonel Barlian yang ada di Desa Masam Bulau Kecamatan Tanjung Sakti Pumi dan simpang tiga perkantoran Pemkab Lahat juga menjadi nama jalan, seperti di Lahat ada Palembang.
Baik Letda Abdul Karim maupun Kolonel Barlian keduanya merupakan keluarga dari Pangeran Kenawas yang merupakan seorang Pesirah di Marga Pumi dan tidak heran bila darah kepemimpinan mengalir kepada kedua pemimpin berikutnya.
Barlian beserta para pemuda dari Sumatra Selatan yang telah lulus seleksi pendaftaran Giyogun di daerah masing-masing dikirim ke Kota Pagaralam, Sumatra Selatan untuk mengikuti pendidikan militer di Giyogun Kanbu Kyoiku dari tanggal 12 Desember 1943 sampai dengan bulan April 1944. Selulusnya dari sana, Barlian memperoleh pangkat Giyu-Shoi (Letnan Dua) dan bertugas menjadi Komandan Seksi Mortir hingga Indonesia memproklamirkan kemerdekaannya.
Pasca proklamasi kemerdekaan, Barlian bergabung kedalam BKR (Badan Keamanan Rakyat) yang kelak menjadi TNI (Tentara Nasional Indonesia) sebagai Ketua BKR di Bengkulu, dan tidak lama kemudian saat BKR berganti nama menjadi TKR (Tentara Keamanan Rakyat) maka Barlian menjadi Komandan TKR Karesidenan Bengkulu dengan pangkat Mayor hingga pada puncaknya menjadi Panglima T&T II/Sriwijaya periode 1956-1958 dengan pangkat Kolonel serta pensiun pada tanggal 31 Desember 1958.#osk