
“Sekarang ini kita tidak open house , takunnya nanti jadi ada kerumuman jadi kluster baru, kita menghormati keputusan pemerintah, karena bagaimana juga kita tidak tahu penyakit ini seperti apa merajalelanya,” katanya.
Dia berharap cukup yang terakhir memimpin shalat Idul Fitri di rumah dan berharap tahun depan bisa melaksanakan shalat Idul Fitri di Masjid.
“Semua juga pasti rindu shalat berjamaah di Masjid, Cuma karena pandemi ini kita jangan sampai , jangan turut menyebarkan juga, takutnya orang tidak ada, tapi kita yang ikut menyebarkan, karena kita banyak ketemu orang, takutnya gitu, lebih baik berikhtiar masing-masing sajalah, “ katanya.
Untuk makanan khas saat Idul Fitri, pria yang berprofesi sebagai notaris dan PPAT ini menyebut ketupat , opor ayam.
“Semua bikin tapi karena kita tidak open house maka porsinya kita kurangi, untuk kue-kue lama ada semua ,” katanya,
Untuk kue , SMB IV mengatakan, kalau keluarganya membuat
kue-kue lama khas Palembang seperti kue maksuba, kue delapan jam , lapis kojo ketan, kue lapis prun.
“ Biasanya kita buat berapa loyang , sekarang kita buat secukupnya saja,” katanya.
Dia mengakui tidak semua rumah-rumah di Palembang saat lebaran menghidangkan makanan lama khas Palembang.
Padahal makanan makanan lama khas Palembang sudah ada sejak zaman Kesultanan Palembang.
“ Kita berharap tahun depan kita bisa open house, sanjo-sanjoan dn bisa kumpul lagi dan mudik tidak dilarang,” katanya.
Untuk silaturahmi di Idul Fitri kali walaupun tidak menggelar open house SMB IV melakukan silaturahmi baik melalui keluarga dan temannya melalui telepon dan pesan di What Apps serta video call.#osk