Agar Tidak Hilang, Obat-Obat Tradisional Bisa Dikemas  Menjadi Obat Moderen

28

Poto:

Museum  Negeri Sumatera Selatan (Sumsel)  menggelar seminar hasil  kajian koleksi “ Pengobatan Tradisional Sumsel”, Kamis (17/9) di Gedung Auditorium Museum Negeri Sumsel, Palembang.

Palembang, BP

Museum  Negeri Sumatera Selatan (Sumsel)  menggelar seminar hasil  kajian koleksi “ Pengobatan Tradisional Sumsel”, Kamis (17/9) di Gedung Auditorium Museum Negeri Sumsel, Palembang.

Acara di buka oleh Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Sumsel Aufa Syahrizal Sarkomi didampingi  Kepala UPTD Museum Negeri Sumatera Selatan H Chandra Amprayadi SH.

Turut hadir para undangan dari berbagai elemen masyarakat baik dari komunitas, akademisi, budayawan dan masyarakat umum.

Sedangkan nara sumber adalah Dr Wahyu Rizki Andhifani  dari Balai Arkeologi Sumsel,  budayawan Sumsel, Drs Yudhy Syarofie dan Diajeng Kartika Sari SH (praktisi) .

Dr Wahyu Rizki Andhifani  dari Balai Arkeologi Sumsel menjelaskan kalau dalam prasasti –prasasti peninggalan Sriwijaya tidak ditemukan masalah pengobatan tradisional .

Baca Juga:  Dua Tersangka Kasus Dugaan Korupsi Masjid Sriwijaya Belum Ditahan

“Terbersit aja  mungkin di Prasasti Talang Tuo, kayak ada kata-kata enau, sagu dan segala macam, larinya kesitu nanti, apakah dipakai untuk dimakan atau dijadikan untuk obat-obatan,” katanya.

Namun kalau di daerah uluan di Sumsel menurutnya malah banyak masyarakat mempraktekkan pengobatan tradisional ini.

“ kalau dikatakannya orang di uluan sehat-sehat semua , saya enggak tahu karena perlu kajian tentang obat,” katanya.

Budayawan Sumsel, Drs Yudhy Syarofie menilai kalau pengobatan tradisional adalah kearipan lokal Sumsel yang mulai terkikis, orang lebih banyak menggunakan obat moderen berbahan kimia daripada menggunakan obat tradisional.

Baca Juga:  Kain Batik Milik Hj RA Masturah Ak Gani Buatan Ibu Soed Dihibahkan Ke Museum Negeri Sumsel Balaputra Dewa

“ Tapi seperti dukun urut masih lho, seperti yang patah kaki, itu urutnya dari jauh , itu manjur , sekarang sudah susah cari orangnya,  keahlian khusus seperti itu khan tidak diturunkan ,” katanya.

Menurut mantan wartawan Sripo ini sebenarnya obat-obat tradisional ini bisa di hidupkan lagi dengan melakukan pengemasan secara moderen dan alami.

“ Dulu orang makan mengkudu , minta ampun rasanya, sekarang  sudah ada dalam bentuk kapsul, “ katanya.

Untuk itu menurutnya peran masyarakat sangat penting untuk menghidupkan kembali pengobatan dan obat-obat tradisional agar bisa di olah secara moderen dan alami.

“ Kalau anak pilek waktu masih bayi , dulu dikasih getah gambir, itu berawal dari keluarga, karena entah teruji atau tidak , kita yang biasa mengkomsumsi obat-obat farmasi  kebal makan obat herbal, ketika kita bicara herbal untuk pencegahan dan perawatan bukan untuk pengobatan, untuk hal yang banyak ya,  tapi kalau hal-hal tertentu masih pakai ,” katanya.

Baca Juga:  Dinas Kebudayaan Kota Palembang Genjot Target Kunjungan 12 Ribu Pengunjung ke Museum SMB II

Diajeng Kartika Sari SH menilai sehat bukan dari manusia saja tapi juga dari alam semesta.

“ Manusia itu diolah jiwa kita, pikiran kita , tubuh kita, kalau kita tidak sehat, enggak nyaman, kita harus lihat dulu apakah salah makan, apakah lingkungan yang kotor,”katanya.#osk

Komentar Anda
Loading...