Kearifan Lokal di Sumsel Dinilai mampu Membendung Berkembangnya Paham Kekerasan Dan Terorisme

Suasana acara Diseminasi “ Hasil Survey Nasional dan Penelitian Eksplorasi Kearifan Lokal Melalui Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme Provinsi Sumsel” , Rabu (11/9) di lantai V Hotel Santika, Palembang .
Palembang, BP
Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) RI dan Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) menggelar acara Diseminasi “ Hasil Survey Nasional dan Penelitian Eksplorasi Kearifan Lokal Melalui Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme Provinsi Sumsel” , Rabu (11/9) di lantai V Hotel Santika, Palembang .
Menurut Ketua Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Provinsi Sumsel, Dr. Periansyah berdasarkan hasil penelitian eksplorasi kearipan lokal dan survey nasional efektivitas pola pendidikan keluarga pada anak dan diseminasi media sosial terhadap penanaman nilai-nilai keagamaan, moral, kebhinekaan dan kearifan lokal untuk data Sumsel diumumkan dalam acara hari ini.
“ Kemarin ada empat kabupaten di Sumsel yang menjadi objek penelitian dan hasilnya Sumsel tidak masuk dalam katagori provinsi terpapar paham kekerasan dan terorisme, bahkan sebelumnya itu Lampung tidak sekarang Lampung masuk ,” katanya.
Menurutnya, kearifan lokal di Sumsel dinilainya sangat luar biasa dan masih sangat tinggi sehingga bisa membendung paham kekerasan dan terorisme tidak berkembang di Sumsel.
“Apalagi tokoh-tokoh adat lebih masive lagi bergerak menyadarkan masyarakat,” katanya.
Yang hadir dalam kegiatan ini menurutnya diantaranya dari kalangan akademisi, FKUB, Kementrian Agama, Bapeda.
“Kita berharap dari hasil penelitian ini bisa ada tindaklanjut dari pemerintah daerah,” katanya.

Suasana acara Diseminasi “ Hasil Survey Nasional dan Penelitian Eksplorasi Kearifan Lokal Melalui Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme Provinsi Sumsel” , Rabu (11/9) di lantai V Hotel Santika, Palembang .
Sedangkan Kabid Penelitian dan Evaluasi BNPT RI, Puput Agus Setiawan mengatakan, penelitian yang dilakukan ini berbasiskan kearifan lokal.
“ Jadi saat 2017, kami melakukan penelitian ada beberapa variabel yang kita ukur diantaranya variabel kesejahteraan, keamanan, Hankamnas, disini disinikita temukan kekuatan daya tangkal masyarakatdalam penyebaran paham radikal ini ada diposisi kearifan lokal dimana kearipan lokal ini tertinggi dari seluruh variabel yang ada, kedua diikuti kesejahteraan,” katanya.
Menurutnya masalah kesejahteraan ini menjadi faktor dan kunci orang menjadi radikal, termasuk faktor sosial,” Tidak ada faktor tunggal yang menjadikan mereka radikal, dalam survey yang tertinggi adalah idiologi yang menjadi faktor utama menjadikan orang radikal, “ katanya.
Karena itu perlu diperkuat empat konsesus yaitu NKRI, Pancasila, UUD 1945 dan Kebhinekaan .
“ Di 2018 kita juga melakukan penelitian , kita melihat potensi seputaran akademisi, mahasiswa, pelajar, dosen dan guru, kita melihat ada beberapa faktor mereka menjadi demikian, kita dalami terus, di 2019 ini juga kita dalami lagi dari faktor-faktor tersebut dari faktor yang mempengaruhi yaitu tulisan, bagaimana tulisan mempengaruhi keluarga dan masyarakat untuk mendapatkan pelajaran-pelajaran,” katanya.
Sedangkan Akademisi dari Universitas Ilmu Al Quran, Jakarta , Dr Saifuddin Zuhri menilai pentingnya pendidikan agama keluarga dalam menangkal paham terorisme, pendidikan agama yang dimaksud adalah pendidikan agama yang sesuai dengan sila ke I dalam Pancasila.
“ Kedepan kita ini sudah sibuk mengurusi seperti paham-paham radikal ini, kalau tokoh agama mulai itu juga lain lagi ceritanya,” katanya. #osk