Emoh Pakai Premium, Pengemudi Bentor Pilih Move On Pakai Pertamax
Palembang, BP
Brum… Brum,,, brum… Terdengar deru suara becak motor (bentor) Scorpio tahun 2015 yang dikendarai Anom Suroto (50) warga Jalan Nusantara RT 2 Kelurahan Timbangan Kecamatan Inderalaya Utara Kabupaten Ogan Ilir (OI) Provinsi Sumatera Selatan, yang melaju perlahan mendekati SPBU Romi Herton bernomor 24306137 dan terletak di pinggir Jalinsum Inderalaya-Prabumulih Kecamatan Inderalaya Utara, untuk mengisi pertamax sebagai bahan bakar khusus (bbk) bentornya.
Pagi Minggu (8/9), kakek 2orang cucu ini terlihat sibuk usai mengantarkan pelanggan bentornya ke Pasar Timbangan Kecamatan Inderalaya Utara . Menurutnya sudah 10 tahun terakhir, dia menekuni pekerjaan sebagai “tukang” bentor. Penghasilannya yang lumayan membuatnya serius menekuni pekerjaan ini. Meskipun pekerjaannya sebagai tukang bentor, namun soal urusan memilih bbk, pria beruban dan berbadan tegap ini lihai dan tidak bakal salah pilih untuk “minuman” mengisi tanki motornya. Ia lebih memilih pertamax yang ber-ron 92 dan berharga lebih mahal yaitu Rp10.050/liter, dibandingkan bensin Rp6450/liter yang ber-ron 88 masih disubsidi pemerintah pusat

Region Manager Communication, Relations & CSR
Pertamina Sumatera Bagian Selatan Rifky Rakhman Yusuf
“Sudah 10 tahun lalu sudah menekuni pekerjaan bentor, dulu pakai Motor Vega sekarang Motor Scorpio, tapi tetap pilih pertamax sebagai bahan bakar. Saya emoh pakai premium, move on dong harus pakai pertamax. Ya kita dukung program pemerintah, jangan membebani APBN untuk memperbanyak subsidi bahan bakar. Untuk 2hari sekali saya isi pertamax senilai Rp100ribu. Dengan rute perjalanan di OI, Palembang bahkan Prabumulih. Alhamdulillah menggunakan pertamax mesin motor jadi awet, tarikan mesin ringan, lebih irit, tidak pernah mogok, ya lancarlah, walaupun harganya lebih mahal tapi saya tidak masalah, kalau ke bengkel hanya sekedar servis perawatanlah. Kalau beli premium ron-nya rendah, pertalite selisinya sedikit dari pertamax, tapi mesin agak berkerak dan kotor, motor sering masuk bengkel ibaratnya batuk-batuk. Jadi saya tidak pernah menggunakan premium selalu pilih pertamax sebagai bahan bakar bentor. Meskipun harganya agak mahal namun kualitasnya lebih terjamin dan tidak perlu mengantre panjang untuk sekedar mendapatkan premium. Habis waktu, lebih baik antar penumpang daripada mengantre ber-jam-jam,”kata bapak tiga orang anak yang berpenghasilan Rp100-300ribu/hari ini
Senada Anom, Dedi (25) pengemudi bentor lainnya yang merupakan warga Desa Palem Raya Kecamatan Inderalaya Utara juga menggunakan pertamax untuk bbk bentornya. “Menggunakan pertamax tarikan mesinnya enteng dan lebih halus, jadi saat berkendara lebih nyaman dan aman. Kalau dulu pakai premium tarikan mesinnya agak berat, sementara pertalite jarang saya menggunakannya karena selisih harganya sedikit tapi kualitasnya jauh dibandingkan pertamax, “ujar suami Miftahul Jannah ini
Menurutnya rata-rata pengemudi bentor telah move on menggunakan pertamax untuk memenuhi kebutuhan bbk bagi kendaraannya, meskipun masih banyak juga yang tetap “teguh” menggunakan premium dan rela mengantre ber-jam-jam.
Disebutkan Dedi, setiap dua hari sekali ia mengisi bbk pertamax untuk bentornya Rp70ribu-90ribu, dengan rata-rata penghasilannya Rp100-150ribu/hari. “Jarak tempuh saya perhari paling hanya 10-15km, wilayahnya sekitar Kecamatan Inderalaya Utara dan Inderalaya Induk, kalau jauh-jauh belum pernah. Kebanyakan pelanggan mahasiswa Unsri. Iapun berkeinginan agar harga bbk diturunkan sehingga harganya lebih terjangkau dan bisa dibeli masyarakat dari berbagai kalangan,”ujarnya.
Iapun berseloroh, jika sudah banyak pengemudi bentor beralih ke pertamax, seharusnya kendaraan pribadi baik motor ataupun mobil juga menggunakan pertamax untuk mengurangi subsidi pemerintah. Jika beban APBN berkurang untuk subsidi bahan bakar, otomatis uang belanja negara bisa digunakan untuk pemenuhan kesejahteraan masyarakat.

Gubernur Sumsel dan Wagub Sumsel H Herman Deri-Mawardi Yahya
Petugas SPBU Romi Herton 24306137 Hafiz mengatakan dalam sehari SPBU tempat dirinya bekerja bisa menjual pertamax sebanyak 3ton/hari, sementara premium 8ton/hari dan pertalite 8-10ton/hari. Untuk harga jual sama seperti SPBU lainnya yaitu pertamax Rp 10.050/liter, premium Rp6450/liter, pertalite Rp7850/liter, solar 9800/liter. Menurutnya setiap hari SPBU tempatnya bekerja bisa menjual pertamax sebanyak 3ton, premium sebanyak 8ton dan pertalite sebanyak 8-10ton kepada masyarakat yang mengisi bahan bakar untuk kendaraannya.
“Rata-rata pendapatan per hari bisa puluhan juta, memang jumlah penjualan pertamax lebih sedikit namun makin hari pertambahan pengguna pertamax cukup signifikan. Banyak masyarakat yang menggunakan pertamax yang mengandung oktan 92 dan tanpa timbal ini. Pengguna pertamax memilih bahan bakar ini meskipun harga sedikit mahal, namun dipercaya lebih irit, mesin tidak mudah panas, lebih bersih dan lebih enteng tarikan mesinnya. Kita melayani pelanggan dari berbagai masyarakat OI. Tak jarang kalau ada warga lain yang melintas dan membutuhkan bahan bakar tentunya kita layani juga. Namun stok dipastikan cukup,”ujar Hafiz yang bergaji diatas Rp2juta ini
Region Manager Communication, Relations & CSR Pertamina Sumatera Bagian Selatan Rifky Rakhman Yusuf mengatakan rata-rata penjualan bahan bakar di 7 SPBU OI per hari yaitu untuk premium 8kilo liter, untuk pertalite 16kiloliter, pertamax 3kiloliter, sementara untuk SPBU di Sumsel per-harinya dibutuhan suplay ratusan kiloliter bahan bakar. Dikatakannya, kandungan oktan pertalite yaitu 90, kandungan oktan pertamax 92 dan kandungan oktan premium sebanyak 88.
” Sehingga bahan bakar ber-oktan tinggi menjadikan proses pembakaran lebih sempurna sehingga menghasilkan tenaga yang lebih besar. Untuk mesin injeksi perawatan akan lebih mudah karena lubang intake lebih bersih dibanding menggunakan premium. Kompresi yang sempurna akan membuat suara mesin menjadi lebih halus,”kata Rifky

Bupati Ogan Ilir, Ilyas Panji Alam
Menurutnya dalam menghasilkan pertamax ditambahkan zat aditif dalam proses pengolahannya, sehingga zat pembakaran dan proses pencampuran bahan bakar dan udara yang masuk ke ruang bakar lebih sempurna dapat menghasilkan tenaga yang lebih besar. Selain itu membuat ruang bakar lebih bersih, untuk mesin injeksi saat melakukan perawatan akan lebih mudah, karena lubang intake lebih bersih dibanding menggunakan premium, sehingga suara mesin lebih halus.
Dikatakan Rifky, meskipun harga pertamax lebih mahal namun mengandung oktan 92 dan tanpa timbal sehingga menghasilkan gas buang yang lebih ramah lingkungan, sementara bensin yaitu harga lebih murah, ber- oktan 88, mengandung timbal, gas buang masih mengandung CO2 dan sebagainya
Bupati Ogan Ilir H Ilyas Panji Alam mengatakan sangat mendukung masyarakat yang sudah lebih tertarik menggunakan bahan bakar non subsidi seperti pertalite dan pertamax. Bahkan untuk itu bupati mewajibkan semua kendaraan dinas di daerahnya menggunakan bahan bakar kendaraan nonsubsidi hal tersebut sesuai aturan Menteri ESDM No.1 Tahun 2013 tentang Pengendalian Penggunaan Bahan Bakar Minyak ini sudah dikeluarkan dan berlaku sejak 2 Januari 2013.
“Alhamdulillah di Pemkab OI kendaraan dinas memang dilarang menggunakan bensin ataupun solar yang disubsidi, jadi kita gunakan pertamax dan pertalite. Apalagi saat ini banyak masyarakat menggunakan bahan bakar non subsidi, jadi sangat mendukung karena mengurangi beban APBN untuk subsidi bahan bakar. Sehingga dananya bisa disalurkan untuk pembangunan infrastruktur dan fasilitas ekonomi, pendidikan, kesehatan lainnya, “ujarnya
Gubernur Sumsel H Herman Deru didampingi Wagub Sumsel H Mawardi Yahya mengatakan penggunaan bahan bakar non subsidi seperti pertamax dan pertalite sebagai wujud menahan laju subsidi BBM dengan mengurangi volume konsumsi. Sehingga Pemerintah Sumsel mengeluarkan aturan yang melarang mobil dinas PNS, BUMN/BUMD, serta TNI/Polri menggunakan BBM subsidi berupa premium dan solar. Kecuali empat jenis kendaraan yang masih diperbolehkan menggunakan bahan bakar subsidi yaitu pengangkut sampah, ambulans, pengangkut jenazah, dan pemadam kebakaran.
“Ini semua tujuannya untuk mensejahterakan masyarakat. Tukang bentor saja bisa menggunakan pertamax sebagai bahan bakar motornya, saya salut-lah ancung jempol. Jadi bisa move on dari penggunaan bahan bakar subsidi beralih ke non subsidi. Apalagi kita sebagai pemerintah yang menggunakan kendaraan dinas harus menjadi contoh untuk rakyatnya dengan menggunakan bahan bakar non subsidi,”jelasnya. #Ohenny primasari