Kerajaan Sriwijaya Fiktif, Yudi Syarofi: Penelitian Sriwijaya Sudah 100 tahun Masak Jadinya Dibatalkan Seseorang

165
BP/DUDY OSKANDAR
, Dinas Kebudayaan kota Palembang bersama sejumlah pihak menggelar diskusi terkait penyataan tersebut di ruang pertemuan Dinas Kebudayaan kota Palembang, Selasa (27/8).

Palembang, BP
Menanggapi pernyataan Budayawan Betawi Ridwan Saidi yang mengatakan bahwa Kerajaan Sriwijaya adalah palsu atau fiktif, hanyalah sekelompok bajak laut, Dinas Kebudayaan kota Palembang bersama sejumlah pihak menggelar diskusi terkait penyataan tersebut di ruang pertemuan Dinas Kebudayaan kota Palembang, Selasa (27/8).

Turut hadir diantaranya Kepala Bidang Kesenian Dinas Kebudayaan Kota Palembang, Lisa Surya Andika , Kasi Sejarah Dinas Kebudayaan Kota Palembang Iman Setiawan Mansetha, Ketua Masyarakat Sejarawan Indonesia (MSI) Cabang Sumsel Farida Wargadalem, arkeologi dari Balai Arkeologi Sumsel, Retno Purwati, budayawan Palembang Yudi Syarofi dan Erwan Suryanegara.

Menurut Yudi Syarofi, diskusi hari ini menyikapi penyataan Budayawan Betawi Ridwan Saidi yang mengatakan, bahwa Kerajaan Sriwijaya adalah palsu atau fiktif, hanyalah sekelompok bajak laut, apalagi menurutnya kalau penelitian tentang Kerajaan Sriwijaya bukan sehari, dua hari.

Baca Juga:  Vlekke Mengisahkan Kejayaan Sriwijaya

“ Tahun depan sudah 100 tahun sejak 1920 sudah ada penelitian tentang itu, dan penyebutan kata Palembang itu sudah ada, terutama setelah ditemukan prasati kedukan bukit, bukti-bukti prasasti jelas , kemudian di tahun 1983 aku masih kecil, ikut kaki waktu itu ada penemuan kanal di TPKS, pada saat itu belum ada kesimpulan, itu merupakan kawasan Sriwijaya, yang ada pada saat itu adalah bahwa orang yang bermukim disini luar biasa dia sudah membuat kanal baik untuk kebutuhan air maupun untuk transportasi terutama lagi untuk manuver, karena kanal itu begitu masuk dari sini orang mengejar bisa berbalik dikejar, dari sana makin sering dilakukan penelitian,” kata Yudi disela-sela diskusi.

Baca Juga:  Japanese Film Festival hadir kembali di Palembang!
BP/DUDY OSKANDAR
Yudi Syarofi

Setelah itu menurutnya puncaknya seringnya seminar internasional tentang kerajaan Sriwijaya dan hadir ahli-ahli dari Prancis berkesimpulan 1993 itu bahwa TPKS itulah pusat Kerajaan Sriwijaya dengan temuan-temuan yang ada disana terutama kanal tersebut terusan buatan yang luar biasa.

“ Jadi kesepakatan internasional, kalau ada daerah lain mengatakan dia daerah Sriwijaya mungkin saja benar tapi pusat awal Sriwijaya tetap di Palembang, kalau dia berpindah kemudian runtuh tempat lain itu persoalan lain,” katanya.
Menurutnya jika Ridwan Saidi mengatakan Kerajaan Sriwijaya adalah bajak laut menurutnya apakah kalau bajak laut yang mendirikan Sriwijaya apakah lantas jadi fiktip.

“ Jika raja-raja Sriwijaya itu memelihara dalam tanda kutip bajak laut, itu bagian dari strategi pemerintahan untuk menjaga kawasan, tapi penelitian sudah 100 tahun masak jadinya dibatalkan seseorang hanya dalam beberapa puluh menit,” katanya.

Baca Juga:  Sriwijaya .......

Atas pernyataan Ridwan Saidi menurutnya perlu di jawab saja tapi tidak ngotot menanggapinya .

“ Kita kalau pemerintah daerah itu selalu bilang selamat datang di Bumi Sriwijaya, Festival Sriwijaya setiap tahun, Pupuk Sriwijaya, Universitas Sriwijaya, kalau itu fiktip, apakah mungkin, “ katanya.
Menurutnya untuk ada temuan prasasti, struktur bata di Palembang , plus catatan asing dan penelitian dari luar, bisa kita baca di buku Antoni Reid, catatan wolter itu sudah cukup kita mengatakan kalau kita tidak fiktip.
“Positipnya kita jangan terlena bahwa kita diakui sebagai pusat Sriwijaya sehingga kita diam saja, harus lebih giat lagi, ini jadikan cambuk dari Ridwan Saidi,” katanya.#osk

Komentar Anda
Loading...