Tim Kelurahan Lebung Gajah dan Komunitas Pese UIN RF Teliti 8 Titik Landasan Meriam dan 1 Bunker Jepang

559
BP/DUDY OSKANDAR
Tim dari Kelurahan Lebung Gajah dipimpin oleh Lurah Lebong Gajah Chodijah Anggeraini SE dan Staf bersama Komunitas Pecinta Sejarah (Pese) UIN Raden Fatah (RF) Palembang dipimpin Kemas Ar Panji S. Pd, MSi melakukan peninjauan dan penelitian ke lokasi peninggalan masa pendudukan Jepang di Kelurahan Lebong Gajah, Kecamatan Sematang Borang, Palembang, Senin (29/7).

Palembang, BP

Setelah pasukan Sekutu memblokade pasukan minyak untuk Jepang, maka Instalasi minyak di Palembang adalah target penting bagi Jepang.  Pada 14 Februari 1942, sekitar 600 penerjun payung Jepang mendarat di dekat salah satu dari dua lapangan udara Palembang di sekitar dua kompleks kilang minyak di kota Palembang tersebut.
Pasukan KNIL Belanda sempat mengusir Jepang dari salah satu kilang di Plaju, apalagi sejumlah besar tentara Jepang juga ada yang tiba melalui sungai Musi, komandan KNIL setempat diperintahkan untuk menarik pasukannya dan menghancurkan instalasi minyak tersebut.
Kehancuran hanya berhasil sebagian kilang. Sebagian besar KNIL Belanda, pasukan Inggris dan Australia akhirnya melarikan diri ke Jawa, bersama wanita dan anak-anak Eropa.
Untuk mempertahankan Palembang, pasukan Jepang membuat sejumlah lokasi-lokasi pertahanan atau instalasi militer apakah bentuknya bungker, dan pertahanan lainnya.
Instalasi militer pada masa pendudukan Jepang berbentuk bunker yang dibangun berkelompok di suatu kawasan secara tersebar di kota palembang.
Berdasarkan posisi atau letaknya bunker di kota Palembang di kelompokkan menjadi dua kelompok yaitu bunker di daerah perbukitan dan bunker di daerah pertambangan minyak.
Bunker yang berlokasi di wilayah perbukitan berbentuk persegi dan bentuk huruf U mempunyai ruang di dalam sedangkan di wilayah pertambangan minyak berbentuk persegi dan mempunyai halaman terbuka di dalamnya dan terdapat kedudukan meriam di sekitar luar bunker.
Kondisi ini berdampak pada jenis bangunan pertahanan yang dipersiapkan dalam menghadapi serangan musuh, bangunan pertahanan pada masa itu dibangun menyebar tidak terpusat dan ditempatkan di lokasi yang stategis dan mampu mengamankan areal yang luas.Selain itu bunker juga dibangun untuk menghambat laju pergerakan musuh.

Baca Juga:  Korem 044/Gapo Bagikan Nasi Kotak Pada Momen Peringatan HUT ke-80 Republik Indonesia

 

BP/DUDY OSKANDAR
Tim dari Kelurahan Lebung Gajah dipimpin oleh Lurah Lebong Gajah Chodijah Anggeraini SE dan Staf bersama Komunitas Pecinta Sejarah (Pese) UIN Raden Fatah (RF) Palembang dipimpin Kemas Ar Panji S. Pd, MSi melakukan peninjauan dan penelitian ke lokasi peninggalan masa pendudukan Jepang di Kelurahan Lebong Gajah, Kecamatan Sematang Borang, Palembang, Senin (29/7).

MENINDAKLANJUTI laporan masyarakat tentang adanya peninggalan masa pendudukan Jepang di Kelurahan Lebong Gajah, kota Palembang yang selama ini tidak pernah terangkat dipermukaan, maka tim dari Kelurahan Lebung Gajah dipimpin oleh Lurah Lebong Gajah Chodijah Anggeraini SE dan Staf bersama Komunitas Pecinta Sejarah (Pese) UIN Raden Fatah (RF) Palembang dipimpin Kemas Ar Panji S. Pd, MSi melakukan peninjauan dan penelitian ke lokasi peninggalan masa pendudukan Jepang di Kelurahan Lebong Gajah, Kecamatan Sematang Borang, Palembang, Senin (29/7).

Hasilnya tim ini mendapati ada 4 titik Landasan Meriam Jepang (LMJ) yang terdapat dalam areal Komplek Sekolah Xavarius di Lebong Gajah dengan kondisi ada yang masih utuh dan ada sudah disemen.
Lalu 4 titik LMJ lagi Jalan Karya Jaya III, RT 23, Rw 6, Kelurahan Lebong Gajah, 1 Bunker (Rumah Jepang) di Jalan Betawi Raya, Rt 49, Rw 12, No 1396 Kelurahan Lebong Gajah, Kecamatan Sematang Borang.
Lurah Lebong Gajah Chodijah Anggeraini SE mengatakan, kalau dia mendapatkan laporan warga dimana di Kelurahan Lebong Gajah ada 1 bungker dan 6 landasan meriam milik Jepang.
Berdasarkan laporan masyarakat, dirinya termotivasi untuk melakukan penelitian bungker dan landasan milik Jepang dengan melibatkan Komunitas Pecinta Sejarah (Pese) UIN Raden Fatah Palembang dipimpin Kemas Ar Panji S. Pd, Msi.
“Kedepan akan kita sosialisasikan hasil penelitian ini dalam bentuk seminar dan kedepan lokasi bungker dan landasan meriam Jepang ini bisa dikembangkan menjadi lokasi objek pariwisata sejarah di kota Palembang,” katanya.
Sedangkan pemilik 1 Bunker (Rumah Jepang) di Jalan Betawi Raya, Kelurahan Lebong Gajah, Marcel mengatakan, kalau kediamannya ini milik orangtuanya R Sudiro Pranoto yang telah meninggal dunia dan dimakamkan di depan rumahnya.

Baca Juga:  Idul Adha  Momentum Berbagi
BP/DUDY OSKANDAR
Tim dari Kelurahan Lebung Gajah dipimpin oleh Lurah Lebong Gajah Chodijah Anggeraini SE dan Staf bersama Komunitas Pecinta Sejarah (Pese) UIN Raden Fatah (RF) Palembang dipimpin Kemas Ar Panji S. Pd, MSi melakukan peninjauan dan penelitian ke lokasi peninggalan masa pendudukan Jepang di Kelurahan Lebong Gajah, Kecamatan Sematang Borang, Palembang, Senin (29/7).

“ Disini dulu masih hutan, kawasan ini dibeli Prof Juaini Mukti SH , bapak saya dulu pejabat pemerintahan di Palembang dari Jakarta ditempatkan di Palembang kenal baik dengan Prof ini , tanahnya ini dulu dibuat untuk bangsal batubata, dari semua lobang-lobang tanahnya ini, bapak belinya dari Prof itu,” katanya.
Bungker tersebut menurut Marcel memang kondisinya saat dibeli atapnya sudah dibongkar oleh penduduk setempat, karena warga habis dari revolusi dan kemerdekaan sehingga susah makan, jadi atap bungkernya dibongkar dan warga mengambil besi-besinya untuk di jual.
“ Waktu itu saya sudah kerja di Rumah Sakit Charitas, bungker ini dibangun jadi rumah antara tahun 1976-1978, dibawah bungker ada dua tingkat dibawahnya, yang atapnya dibongkar bentuknya seperti topi baja tertelungkup,” katanya sembari mengatakan kalau bungker tersebut kini ditempati anaknya
Sedangkan Yuni (48) menantu Marcel yang menempati bungker tersebut mengaku menempati bungker ini sejak tahun 1995.
” Saya disini menantu, ini katanya ini benteng Jepang, ini bangunan baru saya bangun , bangunan asli masih ada didalamnya, yang segi empat yang tembok 1 meter ini, kalau suami saya tinggal disini masih rawa-rawa semua, jalan setapak dulu,” katanya.
Sedangkan Ismail (46) yang merupakan warga Jalan Karya Jaya III, RT 23, Rw 6 , Lr Salak, Nomor 1464, Kelurahan Lebong Gajah yang rumahnya terdapat landasan meriam milik Jepang mengaku awalnya dia membeli tanah dan memang landasan meriam ini sudah ada.
“ Landasan meriam ini yang lubang tengahnya dijadikan tempat pelihara ikan saja, aku nempati disini sejak 1990 dan setahu aku ada lima landasan meriam di RT 23 ini , yang kelihatan empat landasan meriam satu sudah ditimbun warga, uwong nyebut landasan meriam ini benteng kemarin pipa landasan meriam ini panjang, ganggu jalan lalu aku potong,” katanya.

Baca Juga:  Rizal Kenedy Minta OPD Tidak Diwakili Saat Pembahasan Anggaran
BP/DUDY OSKANDAR
Tim dari Kelurahan Lebung Gajah dipimpin oleh Lurah Lebong Gajah Chodijah Anggeraini SE dan Staf bersama Komunitas Pecinta Sejarah (Pese) UIN Raden Fatah (RF) Palembang dipimpin Kemas Ar Panji S. Pd, MSi melakukan peninjauan dan penelitian ke lokasi peninggalan masa pendudukan Jepang di Kelurahan Lebong Gajah, Kecamatan Sematang Borang, Palembang, Senin (29/7).

Sedangkan Kemas Ar Panji S. Pd, Msi mengatakan, berdasarkan keterangan Lurah Lebong Gajah Chodijah Anggeraini SE di Kelurahan Lebong Gajah ada 1 bungker dan 6 landasan meriam.
“ Kita sudah mengunjungi ke lokasi ,”katanya.
Menurutnya bungker dan landasan meriam dibangun di tahun 1942 saat pendudukan Jepang di Palembang.
“Kami sebagai peneliti , ini akan menjadi sebuah penelitian tahap awal dan menjadi penelitian lanjutan, menjadi tulisan dan sebagainya yang hasilnya dibagikan kepada masyarakat dan guru-guru atau penikmat sejarah, bahwa ini informasi, bahwa betul disini saksi dan peninggalan-peninggalan Jepang, tapi bagi pemerintahan setempat, bagi ibu Lurah Kelurahan Lebong Gajah atau masyarakat setempat ini bisa dijadikan potensi pariwisata, tentu berkerjasama dengan berbagai pihak kalau sampai ke pengembangan pariwisata,” katanya

Masih dalam laporan penelitiannya, Kemas Ari Panji mengatakan, bahwa penemuan ini terbagi menjadi 3 zonasi, yakni Pertama; ada 4 titik LMJLG di komplek Yayasan Xaverius, Kedua; 4 titik LMJLG lagi di RT. 23, dan yang Ketiga; 1 rumah/bunker di Jalan Betawi Raya.#Dudy Oskandar

Komentar Anda
Loading...