Masyarakat Muslim di Sriwijaya dan Surat Raja Sriwijaya Untuk Khalifah Umar bin Abdul Azis

Wakil Ketua Majelis Syuro DPP PKS yang juga cendikiawan Islam, Ustad Dr H M Hidayat Nurwahid MA usai acara Halal Bi Halal dan Silaturahmi Tokoh PKS Sumsel, Sabtu (6/7) di ruang Sriwijaya Hotel Swarnadwipa, Palembang.
#Di Bumi Sriwijaya Agama dan Umat Beragama
Miliki Hubungan Erat Dengan Kekuasaan
Palembang, BP
Beberapa catatan juga menyebutkan duta-duta Muslim juga mengunjungi Zabaj atau Sribuza atau yang lebih kita kenal dengan Kerajaan Sriwijaya. Hal ini sangat bisa diterima karena zaman itu adalah masa-masa keemasan Kerajaan Sriwijaya. Tidak ada satu ekspedisi yang akan menuju ke China tanpa melawat terlebih dahulu ke Sriwijaya.
Sebuah literatur kuno Arab berjudul “Aja’ib Al Hind” yang ditulis oleh Buzurg bin Shahriyar al Ramhurmuzi pada tahun 1.000 memberikan gambaran bahwa ada perkampungan Muslim yang terbangun di wilayah Kerajaan Sriwijaya. Hubungan Sriwijaya dengan kekhalifahan Islam di Timur Tengah berlanjut hingga di masa khalifah Umar bin Abdul Azis. Ibn Abd Al Rabbih dalam karyanya al Iqd al Farid yang dikutip oleh Azyumardi Azra dalam karyanya menyebutkan ada korespondensi yang berlangsung antara raja Sriwijaya kala itu Sri Indravarman dengan khalifah yang masyhur karena adilnya itu.
“Dari Raja di Raja (Malik al Amlak) yang adalah seribu raja; yang istrinya juga cucu seribu raja yang di dalam kandang binatangnya terdapat seribu gajah yang di wilayahnya terdapat dua sungai yang mengairi pohon gaharu, bumbu wewangian, pala dan kapur barus yang semerbak wanginya hingga menjangkau jarak 12 mil kepada Raja Arab yang tidak menyekutukan tuhan-tuhan lain dengan Tuhan.
Saya telah mengirimkan kepada Anda hadiah, yang sebenarnya merupakan hadiah yang tak begitu banyak tetapi sekadar tanda persahabatan. Saya ingin Anda mengirimkan kepada saya seseorang yang dapat mengajarkan Islam kepada saya dan menjelaskan kepada saya tentang hukum-hukumnya.”
Begitulah bunyi surat Raja Sriwijaya Sri Indravarman kepada khalifah Umar bin Abdul Aziz. Hubungan diplomatik tersebut diperkirakan berlangsung pada tahun 918 masehi. Tak dapat diketahui apakah Raja memeluk Islam atau tidak setelah itu. Tapi hubungan Sriwijaya dan pemerintahan Islam di Arab menjadi babak baru Islam di Nusantara.
Sejarah tersebut, diceritakan kembali oleh ,Wakil Ketua Majelis Syuro DPP PKS yang juga cendikiawan Islam, Ustad Dr H M Hidayat Nurwahid MA, dia menceritakan saat dirinya melakukan kunjungan Museum Nasional New Delhi, India masih ada prasasti , tentang bagaimana dari Kerajaan Sriwijaya dikirimkanlah bantuan-bantuan logistik maupun santri santri untuk belajar agama Budha di India.
“Dari Sriwijaya ini dari dulunya sudah membuat dan mempunyai peran yang sangat luar biasa bukan hanya pada tingkat nasional tapi pada tingkat internasional ,” katanya saat memberikan sambutan dalam acara Halal Bi Halal dan Silaturahmi Tokoh PKS Sumsel, Sabtu (6/7) di ruang Sriwijaya Hotel Swarnadwipa, Palembang.
Turut hadir Wakil Ketua Majelis Syuro DPP PKS, Ustad Dr H M Hidayat Nurwahid MA , Ketua DPW PKS Sumsel Muhammad Toha Sag, Sekjen DPP PKS yang juga anggota DPR RI dari PKS Mustapa Kamal, Anggota DPR RI dari PKS M Iqbal Romzi dan pengurus dan jajaran DPW PKS Sumsel dan pengurus DPD PKS kabupaten kota di Sumsel, Caleg anggota DPR RI, DPRD Provinsi dan DPRD kabupaten kota terpilih.
Selain itu berdasarkan disertasi Dr Azumardi Azra berjudul “Jaringan Ulama Islam Nusantara abad 17” berdasarkan rujukannya ke naskah-naskah dari bahasa arab dan bahasa China didapatkan di palembanglah Islam pertama kali tersebar.
“Saat itu raja Sriwijaya mengirimkan surat kepada khalifah Umar bin Abdul Azis meminta agar dikirimkanlah ke Bumi Sriwijaya ini para juru dakwah yang mengajarkan agama Islam karena sebagian masyarakat Sriwijaya , sudah seagama dengan anda, khilafah umayah,” katanya.
Hidayat juga menceritakan umat Islam dari Palembang adalah umat islam yang hijrah dari Quang Zho dimana saat itu Quang Zho terjadi kebakaran besar sehingga masyarakat Quang Zho pergi ke Sriwijaya dan menjadi penduduk Sriwijaya.
“ Dan Raja Sriwijaya yang mengirimkan warganya belajar agama Budha di India, beliau juga yang mengirimkan surat ke khalifah Umar bin Abdul Azis agar dikirimkan juru dakwah ke Palembang,” katanya.
Menurutnya, inilah Bumi Sriwijaya sejarah dimana kemudian agama dan umat beragama mempunyai hubungan saat erat dengan kekuasaan tetapi juga menghadirkan keterpihakan yang luar biasa agar beragama itu bisa menghadirkan keunggulan-keunggulan ,” katanya.
Karena itu menurutnya PKS sudah seharusnya memaksimalkan potensi kerberadaan di Bumi Sriwijaya untuk selanjutnya melanjutkan peran serta membawa keunggulan-keunggulan beragama ditengah upaya untuk mengkriminalisasi agama, umat beragama ditengah upaya menghadirkan seolah-olah beragama artinya membawa masalah radikalisme dan pendidikan agama adalah layak menjadi masalah yang di curigai.#osk