Pemprov Sumsel Dan Pemkot Palembang Harus Melestarikan Tradisi Rebu Kasan

Suasana talk show Radio BP Trijaya mengenai Rebu Kasan, Selasa (30/10).
Palembang, BP
Kota Palembang dengan sejarah gemilangnya yang panjang pada masa lampaunya yaitu pada masa kebesaran Kerajaan Sriwijaya dan Kesultanan Palembang Darussalam yang merupakan warisan budaya yang mempunyai arti tinggi , salah satu kebesaran kedua masa tersebut berupa adat istiadat, sayang karena perkembangan zaman banyak tradisi dan adat istiadat tersebut yang sudah hampir menghilang bahkan nyaris punah karena tidak pernah dilaksanakan dan dilestarikan lagi oleh masyarakat setempat, tradisi tersebut diantaranya Rebu Kasan atau tradisi yang berisi rangkaian shalat sunat safar, bekela, mandi safar yang hanya dilaksanakan pada hari rabu terakhir pada bulan safar.
Dimana tujuannya untuk menolak bala atau malapetaka dengan cara melakukan shalat sunat di masjid, masjid, mushola, langgar atau surau sekaligus berdoa memohon perlindungan dari Allah SWT.
Bagi orang Palembang yang menyakini bulan safar merupakan bulan naas, bulan penuh cobaan dari Allah SWT tidak akan melakukan upacara perkawinan, khitanan, syukuran, pindah rumah dan lain-lain.
Salah satu warga Palembang yang merupakan pelestari budaya Palembang Darussalam , Hj Anna Kumari terus melaksanakan tradisi Rebu Kasan tersebut walaupun dengan menggunakan dana sendiri.
Rencananya Hj Anna Kumari bersama keluarga, warga seberang Ulu dan kota Palembang yang melakukan shalat sunat tersebut, Rabu (7/11 ) mendatang atau tradisi Rebu Kasan namun di masjid mana dan akan melakukan makan bersama di mana, masih ditentukan lebih lanjut.
Kemudian di lanjutkan dengan , tradisi bekelah. Tradisi ini berkumpul di pinggir sungai dengan membawa makanan dan alat music dan terakhir mandi safar.
“Siang ini, kami melaksanakan Bekelah. Bawa makanan untuk makan bersama disini. Terus bawak alat musik, untuk tarian dan bersenang-senang,” kata Hj Anna Kumari, maestro tari Sumsel yang setiap tahun mengadakan tradisi ini saat menjadi nara sumber dalam talk show Radio BP Trijaya mengenai Rebu Kasan, Selasa (30/10).
Menurut Anna Kumari, dibulan safar yang banyak musibah yang didatangkan oleh Allah SWT.
“Kita sudah lihat dimana-mana ada banjir, kebakaran, yang sakit, ada tanah longsor dan macam –macam musibah yang datang bulan safar, karena itulah kami ada tradisi shalat sunat safar empat rakaat dan tidak berimam , jadi acara ini sudah hampir punah dan saya berusaha untuk menghidupkan kembali yang telah hampir punah ini ,” kata Hj Anna Kumari.
Menurut wanita kelahiran Palembang, 10 November 1945 ini , rangkaian kegiatan Rebu Kasan tersebut dimulai dengan shalat sunat safar dengan membaca doa tolak balak dan baca yasin dan sebagainya dilanjutkan dengan bekelah ditepi sungai, danau atau ditempat yang sepi sambil makan-makan.
“ Bagus lagi kalau acara dilaksanakan di Masjid Agung Palembang, kalau bisa tahun ini tapi lihat dulu , menghubungi Masjid Agung dulu, jadi sembahyang di masjid masing-masing tetap kalau bisa di Masjid Agung, saya mau lihat sambutan dulu pihak Masjid Agung , “ katanya.
Dan terakhir adalah mandi safar tapi saat ini susah dilaksanakan , karena tempat mandinya susah saat ini karena sungai-sungai di Palembang sudah kering dan kotor.
“Kadang bawa air sendiri seperti dari shalat sunat safar tadi bawa air lalu di minum , habis shalat safar dan dimandikan atau membersihkan diri, “ kata peraih Penghargaan Upakarti dari Presiden Soeharto (1993), Penghargaan Perkumpulan seni Singapura (1991), Penghargaan seni dari Gubernur Sumatera Selatan (2001),
Panghargaan Kebudayaan Kategori Pelestari (2015) ini.
Anna menyayangkan, tradisi ini hampir punah dan sebagian masyarakat Palembang tidak tahu dengan tradisi ini .
“Jadi maksud saya mengadakan kegiatan ini setiap tahun mulai beberapa tahun lalu , agar masyarakat tahu , anak muda sekarang tidak tahu apa itu Rebu Kasan, enggak ngerti, jadi tujuan saya untuk memperkenalkan kepada mereka yang belum tahu , memberitahukan, kita angkat kembali tradisi yang hampir punah ini, karena ada hubungannya dengan agama,” katanya.
Anna mengaku, berusaha sekuat tenaga dengan keluarganya untuk tetap dan terus melestarikan tradisi ini dengan dana sendiri.
“ Umur saya sudah di ujung senja tapi saya masih mau berbuat mengangkat tradisi yang hampir punah ini,” kata pencipta Tari Tepak Keraton tahun 1966 .
Anna berharap, agar agar tradisi Rebu Kasan dapat dilestarikan di kota Palembang dan berharap pemerintah dalam melestarikan tradisi ini agar bisa lestari di kota Palembang.
Malahan menurut Anna, tradisi ini dapat menjadi agenda wisata di kota Palembang yang bisa menarik wisatawan baik dari dalam dan luar negara sendiri.
Sedangkan Ustad HM Amin Wahid mengatakan, kalau respon kaum muda dengan rebu kasan sangat bagus.
“ Ini khan ibadah cara kita mendekatkan diri dengan tuhan, nambah waktu , dari lima waktu ada rebu kasan , “ katanya.
Sedangkan anak Anna Kumari, Indah Kumari menilai respon positip dari Dinas Pariwisata dan Dinas Kebudayaan kota Palembang terkait rebu kasan .
“Untuk kejenjang jadi agenda tahunan , butuh proses, kita harapkan pemimpin sekarang kegiatan ini lebih diperhatikan, bisa di bayangkan kalau Walikota, Gubernur dan masyarakat bisa shalat bareng, bayangkan ada bekelah, di BKB makan sama-sama,” katanya.
Pihaknya berharap Pemprov Sumsel dan Pemkot Palembang bisa melestarikan rebu kasan ini.#osk