Berjuang Dengan Menghilangkan Perbedaan Di Perang Lima Hari Lima Malam

Dosen Program Studi Pendidikan Sejarah FKIP Universitas Sriwijaya (Unsri) yang juga sejarawan Sumsel, Syafruddin Yusuf
Palembang, BP
Dosen Program Studi Pendidikan Sejarah FKIP Universitas Sriwijaya (Unsri) yang juga sejarawan Sumsel, Syafruddin Yusuf melihat di luar Jawa hanya Palembang dan Medan yang melakukan perlawanan terhadap Belanda di awal-awal kemerdekaan Indonesia dimana Medan di kenal perlawanannya dengan nama Perang Medan Area tahun 9 Oktober 1945, sedangkan Palembang di kenal dengan nama Perang Lima Hari Lima Malam tahun 1947 dari tanggal 1 sampai 5 Januari 1947.
“Dari perang lima hari lima malam itu unsur persatuan dan unsur solidaritas sesama pejuang sangat kuat, kalau kita lihat dalam perang lima hari lima malam itu tidak memandang suku, etnis dan agama, semua menghadapi Belanda , seperti Panglima Subkoss Simbolon orang Kristen orang Batak sementara komandan Divisi II Bambang Utoyo orang Jawa bukan orang Palembang tapi pemerintahannya Dr Ak Gani orang Padang dan yang mengepung markas Belanda di Charitas itu Dhani Effendi orang Palembang , dihilangkan semua perbedaan bersatu untuk sama-sama mengusir Belanda,” katanya usai talk show sejarah di Radio BP Trijaya Palembang, Selasa (16/10) dengan judul Perang Lima Hari Lima Malam Dalam Perspektif Kekinian
Untuk itu dia mengharapkan pemerintah daerah untuk memberikan informasi ini terutama menjelaskan nama-nama tokoh-tokoh yang di pakai nama-nama jalan di Palembang.
“ Kenapa diberi nama Jalan Merdeka , banyak tidak tahu apakah di Jakarta ada nama Jalan Medan Merdeka, ternyata kalau ditelusuri dari sejarah itu dari tanggal 25 Agustus 1945 disitu pertama kali diumumkan kalau Indonesia merdeka di Palembang, itu muncul nama jalan Merdeka sebelum itu di pakai nama Belanda saya tidak tahu apa nama Belandanya,” katanya.
Selain itu pertempuran lima hari lima malam di Palembang merupakan perang tiga matra yang pertama kali kita alami, begitu pula pihak Belanda. Perang tersebut terjadi melibatkan kekuatan darat, laut, dan udara. Belanda sangat berkepentingan untuk menguasai Palembang secara total karena tinjauan Belanda terhadap Palembang dari aspek politik. ekonomi dan militer.
Dalam aspek politik, Belanda berusaha untuk menguasai Palembang karena ingin membuktikan kepada dunia internasional bahwa mereka benar-benar telah menguasai Jawa dan Sumatera. Ditinjau dari aspek ekonomi berarti jika Kota Palembang dikuasai sepenuhnya maka berarti juga dapat menguasai tempat penyulingan minyak di Plaju dan Sei Gerong.
Selain itu, dapat pula perdagangan karet dan hasil bumi lainnya untuk tujuan ekspor. Sedangkan jika ditinjau dari segi militer, sebenarnya Pasukan TRI dan pejuang yang dikonsentrasikan di Kota Palembang merupakan pasukan yang relatif mempunyai persenjataan yang terkuat, jika dibandingkan dengan pasukan-pasukan di luar kota. Selain itu korban yang tewas dalam perang tersebut sangat banyak.#osk