Perang Sungai Belanda di Kepulauan Indonesia 1945-1950 (Kembali ke Palembang)

486
Pasukan Belanda saat tiba di Palembang (BP/IST)

“Sebuah studi tentang operasi Angkatan Laut Kerajaan Belanda di sungai-sungai di Hindia Belanda pada periode setelah Perang Dunia Kedua hingga dekolonisasi Republik Indonesia. ”

Catatan peralihan kekuatan dari Sekutu ke Belanda di Palembang , sebelum perang lima hari lima malam dalam sebuah operasi di tulis Oleh Marlon Cremers, Juli 2012 dalam Tesis sejarah Masternya di Universitas Amsterdam dengan judul perang sungai Belanda di Kepulauan Indonesia 1945-1950.

Kisah peralihan kekuasaan dari Sekutu ke Belanda di Palembang ditulisnya dalam  bab Bab 6 dengan judul Kembali ke Palembang. Marlon Cremers merupakan seorang perwira berpangkat Letnan laut (ter-zee der tweede klasse oudste category).

Menurut Marlon Cremers, tesis ini ditulis untuk melengkapi program Master Militer Sejarah (Ilmu Militer)nya di Universitas Amsterdam mengenai gelar master adalah tindak lanjut dari penugasannya di Royal Marine Institute  untuk spesialisasi Studi Keamanan Internasional.

Tujuan dari tesis ini menurutnya adalah untuk memberikan wawasan ke Belanda keadaan sungai di Hindia Belanda selama periode 1945-1950.

Profesor Dr. Dr. G. Teitler telah membimbingnya selama penugasannya di Angkatan Laut Kerajaan pada tahun 2003 dan menginformasikan keberadaan Belanda di sungai-sungai di kepulauan Indonesia. Namun, pada saat itu, fokus dirinya masih ada keadaan sungai Perancis di Indocina (1945-1954) dan dari Amerika di Vietnam (1966-1969). Tapi dirinya tetap tinggal di pikiran saya penasaran dengan sejumlah kasus perang Belanda. Selama studi saya di universitas subjek ini lebih dipilih karena lulusnya lebih cepat.

Melalui Direktur Institut Belanda untuk Sejarah Militer
(NIMH), Mr. Dr. P. Kamphuis dirinya menerima informasi dari
Profesor Dr. P.M.H. Hijau tentang operasi Belanda di sungai-sungai
Indonesia.  Informasi ini telah membantu dalam menyelesaikan studinya ditambah dengan mencari data dari Arsip Nasional.

Pasukan Belanda saat tiba di Palembang (BP/IST)

Kembali Ke Palembang

Oleh Marlon Cremers

6.1 Pendahuluan
Dalam bab-bab berikut operasi dari Angkatan Laut Kerajaan Belanda di sungai-sungai Indonesia terpusat. Karena tidak hanya kapal yang lebih kecil dari operasi sungai angkatan laut yang dilakukan, tiba di berbagai jenis kapal dengan operasi khusus.

Baca Juga:  A Tribute To " Cek Ya Lena" Seniwati Legendaris Kota Palembang

Dalam uraian operasi maritim dapat dapat dibuat satu perbedaan antara operasi dalam konteks tugas patrol dan beberapa operasi (bersama) yang lebih besar, seperti kembalinya ke Palembang dan angka dalam konteks tindakan polisi (operasi polisionil) pertama dan kedua.

Perencanaan operasional dari dua jenis operasi sungai ini akan tidak diperlakukan secara terpisah untuk setiap tindakan atau operasi.

Secara umum, operasi dilakukan dengan cara yang sama dan itu juga diterapkan juga perencanaan operasional.

6.2 Kembali ke Sumatra: Operasi Paling-Biak

Palembang adalah salah satu pangkalan terdepan yang dikuasai pasukan Inggris setelah pembebasan Hindia Belanda. Kota ini berjarak lima puluh mil hulu dari Sungai Moesi.
Kota ini penting karena memiliki instalasi minyak dan kilang minyak dari Pladjoe dan Soengei Gerong yang berada di mulut Sungai Moesi.

Perairan Palembang berada di bawah kendali Republik. Kapten-Letnan KMROV Dobbenga bertanggung jawab atas persiapan dan pelaksanaan operasi Paling Biak. Operasi itu ditujukan mengangkut sekitar 4800 orang Y brigade dari KNIL ke Palembang. Untuk mengganti pasukan Inggris. Dobbenga menilai kalau nanti perlawanan di Sungai Musi perlu melibatkan banyak pasukan.

Pasukan akan diangkut dengan konvoi. Konvoi ini untuk mengantisipasi serangan musuh di Sungai Moesi, terutama demi keamanan kapal perang.

Dengan bantuan lima kapal pendarat (Mr. Ms. LT 101, 102, 104, 105 dan 106) pasukan, peralatan dan stock juga diangkut.

Ada kapal torpedo perusak Hr. Ms. Van Galen dengan tiga korvet (Mr. Ms. Abraham Crijnssen, Ceram dan Ternate), dan empat Peluncuran Mesin Pertahanan Pelabuhan (Mr. Ms. RP 101, 102, 104 dan 105). Dari Departemen Pengiriman ada dua Landing Ships Tanks (LST 2 dan LST 3), dua Landing Craft Infantry (Kingfisher dan Stormvogel) dan satu Landing Craft Tanks (N 209).

Baca Juga:  Rumah Tua Bersejarah di Kawasan 3-4 Ulu Harus Diselamatkan

Pada 10 Oktober, Dobbenga telah menyiapkan rencana operasinya. Ketika orang Inggris ingin meninggalkan Palembang sekitar 1 November.

Awal dari operasi gabungan ditentukan pada 29 Oktober. Semua kapal akan naik ke tempat pertemuan sebelum masuk ke mulut Moesidari sana di bawah perlindungan dukungan pasukan udara secara keseluruhan ke Palembang. Operasi itu awalnya akan dilakukan di bawah komando Belanda

Namun Panglima Angkatan Bersenjata Sekutu Jenderal Mansergh memutuskan operasi dilakukan secara berbeda setelah melihat rencananya.

Orang Inggris takut kekerasan dan konfrontasi antara Belanda dan orang Republik, yang bisa membahayakan situasi politik yang akan datang.

Komando operasional Sekutu konvoi berakhir dengan Petugas Angkatan Laut yang Bertanggung Jawab (NOIC) kapten Batavia E.T. Cooper diperbolehkan melakukan penembakan jika diserang. Tindakan ini seharusnya bisa dilakukan pasukan Belanda.

Selanjutnya, diputuskan untuk mengangkut pasukan menjadi tiga konvoi, yang terpisah pada periode 28 hingga 30 Oktober.

Pada 24 Oktober, prosesi panjang dilakukan, dua puluh kapal berangkat dari Tanjong Priok dipimpin oleh Dobbenga, yang bertindak sebagai komandan. Aksi Gabungan Skuadron telah dimulai di atas kapal Hr. Ms. Van Gaalen.

Selanjutnya, dibantu kekuatan lain dari Hr. Ms. Piet Hein (cadangan head quarter ship), ketiga korvet tersebut, lima LT, empat HDML, Kingfisher, Petrel, N 209, dua kapal tunda dan satu wadah pemulihan.

Pada tanggal 25 Oktober, skuadron tiba di tempat pertemuan dekat muara Moesi. Keesokan harinya, Kapten Cooper tiba dengan kapal markas besarnya HMS H-100, British Landing Craft Infantry (LCI).

Pada pagi hari 28 Oktober, boarding Pasukan dilakukan . Konvoi pertama menuju Palembang terdiri dari Inggris kepala quater, Hr. Ms. Abraham Crijnssen, Hr. Ms. RP 101 dan RP 102 sebagai pengawalan, Kingfisher, Hr. Ms. LT 105 dan LT 106, satu kapal tunda dan wadah pemulihan. Dengan konvoi ini seribu anggota KNIL ditambah dua ratus ton peralatan dibawa ke Palembang. Konvoi meninggalkan sungai pada pukul 6.20 pagi.

Baca Juga:  Walikota Palembang Gelar Open House 

Di awal perjalanan kabut yang cukup padat menggantung di atas sungai namun bisa di atasi dengan bantuan juru mudi sehingga tidak ada masalah navigasi lebih lanjut.

The Letnan-of-the-Sea C.J.M. Kretschmer de Wilde adalah seorang jurnalis saksi mata dari atas kapal angkatan laut Hr. Ms. Abraham Crijnssen. Dia menulis pengalaman perjalanannya ke Palembang yang berjalan dengan aman.

Mereka berlayar dengan iring-iringan selama beberapa waktu dan membawa orang-orang ke kapal sambil mengambil poto.

Di desa Soensang, sebuah kantor bea cukai Indonesia didirikan. Di sini berdiri beberapa pelaut angkatan laut Indonesia, para Angkatan Laut Repoeblik Indonesia (ARLI) di pos.

Lewat konvoi itu tidak ada respon dari penduduk. Di sebelah selatan garis pantai dekat pantai dekat Oepang terlihat, tapi insiden tidak terjadi.

Setelah konvoi lewat tanpa tembakan senjata di Mariane berlalu tanpa insiden, jelas bahwa tidak ada kesulitan lagi yang akan muncul. saat ke Palembang berlangsung mulus.
Pukul 1 siang, konvoi pertama tiba di Palembang dan didembarkasi dimulai. Dobbenga dan Cooper kembali ke tempat pertemuan dengan HMS H-100 untuk mengatur konvoi berikutnya. Juga konvoi kedua dan ketiga melangkah lebih jauh tanpa masalah.

Dengan kedatangan konvoi ketiga bagian terpenting dari operasi telah selesai. Operasi itu berakhir dengan baik. Dengan

keluarnya pasukan Inggris dimulai pada 31 Oktober.
Operasi Paling Biak sebenarnya dapat dilihat sebagai operasi transportasi besar masuk Palembang.#osk

Komentar Anda
Loading...