Gerakan Senyap Menangkap Kolonel Maludin Simbolon

Kol-Maludin-Simbolon-dalam-sebuah-rapat-dengan-petinggi-PRRI
MALAM perayaan Natal 1956 yang dilaksanakan kan pada 26 Desem ber, seperti malam per pisahan. Penuh gejolak batin, antara loyal kepada pimpinan dan loyal kepada bangsa dan negara. Itulah perasaan yang dialami Letnan Kolonel Jamin Gintings, Kepala Staf Tentara dan Teritorium (TT)- I Bukit Barisan.
Ia menghadiri undangan resepsi pesta di rumah atasannya, Panglima TT-I Bukit Barisan, Kolonel Maludin Simbolon. Hadir pula Letnan Kolonel Sugih Arto, Komandan Komando Militer Kota Besar (KMKB) Medan dan sejumlah pejabat sipil dan militer lainnya.
Dalam situasi yang serba salah, Jamin Gintings yang sedang menikmati hidangan, pada sekitar pukul 20.00, tiba-tiba di datangi Mayor Lahiraja Munthe dan me minta pembicaraan tidak didengar siapa pun.
“Lapor, malam ini akan dilakukan penangkapan terhadap Kolonel Maludin Simbolon. Bapak diminta Jakarta untuk secepatnya mengambilalih komando TTI dengan sandi operasi Sapta Marga.” Jamin menarik napas panjang. Ia pun segera mengendalikan dirinya.
Sebuah perintah untuk menangkap atasannya langsung. Atasan yang dikenalnya seperti saudara sendiri. “Laksanakan, tetapi jangan sampai timbul pertumpahan darah. Kolonel Maludin Simbolon, saudara kita juga. Jadi, tunggu perintah lanjutan dari saya.”
Satu jam setelah laporan tersebut, ia pamit sambil memberi hormat militer kepada tuan rumah, Kolonel Maludin Simbolon. Kastaf TT-I itu bergegas menuju Markas TT-I Bukit Barisan.
Sekitar pukul 23.00, Letkol Jamin Gintings langsung memanggil sejumlah perwira. Sebab, ia juga mendapatkan laporan bahwa Komandan Resimen 2 yang bermarkas di Pematang Siantar, Letkol Wahab Makmur sudah tidak sabar untuk menangkap Kolonel Maludin Simbolon.
Namun untuk operasi rahasia ini, ia memberikan perintah kepada Komandan KMKB Medan Letkol Sugih Arto, dibantu oleh Kastaf KMKB Mayor Ulung Sitepu, dan Mayor Lahiraja Munthe. Tujuannya, mengambilalih tanggung jawab Komando TT-I dari tangan Simbolon.
Operasi melibatkan Batalyon Infanteri 137, Batalyon Infanteri 139, Eskadron V Ka valeri, dan satu kompi Artileri La pang an II. Operasi direncanakan pada 27 Desember 1956, pukul 04.00, karena me nunggu kedatangan Yonif 137 dari Brastagi, kaerena harus menduduki pos polisi dan sentral telepon di Pancur Batu.
Operasi akhirnya bocor, karena Simbolon juga sudah merasa ada sesuatu yang aneh pada malam resepsi Natal itu. Apa lagi sebelumnya, Jamin Gintings tidak bersedia datang ke studio Radio Republik Indonesia Medan untuk memberikan pengumumaman atas nama Dewan Gajah atau Dewan Revolusi yang dipimpin Kolonel Maludin Simbolon. Simbolon merasa ada perubahan sikap dari diri Jamin.
Manuver Simbolon
Pemantik gonjang-ganjing yang hebat di Kota Medan itu diawali ketika pertemuan perwira lulusan Sekolah Staf dan Komando Angkatan Darat (SSKAD) yang ada di Kota Medan dan sekitarnya. Pertemuan yang dihadiri 48 perwira itu, menghasilkan sebuah ide yang disebut Idee 4 Desember 1956. Lalu berlanjut mem buat Ikrar Bersama 16 Desember 1956.
Mereka mengungkapkan ketidakpuas an dengan kondisi yang terjadi di Indonesia, selama 11 tahun merdeka. ” Ikrar itu hanya mengenai pembangunan daerah dan perbaikan kesejahteraan prajurit. Dukungan serta kesetiaan para penandatangan Ikrar bersama terbatas pada tindakan sekitar itu dan tidak termasuk pemutusan hubungan dengan pemerintah pusat,” kata Jamin Ginting.
Namun pada 22 Desember 1956, Kolonel Maludin Simbolon membelokkan Idee dan Ikrar Bersama itu dengan wujud memutuskan hubungan dengan pemerintah pusat. Hal inilah yang membuat terkejut perwira senior lainnya.
Alasan itu pula yang membuat Jamin Gintings tidak bersedia datang ke RRI Medan, karena merasa dijebak. Apalagi isinya teks pemutusan hubungan dengan Jakarta dalam kelanjutan pembentukan Dewan Gajah dan Dewan Revolusi.
Jamin berada dalam dilema, karena Simbolon adalah atasannya. Namun ia menganggap atasannya sudah menyimpang dari Sumpah Prajurit dan Sapta Marga. Sebagai kepala stafnya, tentu Jamin tidak bisa bersikap frontal, karena akan membahayakan keselataman jiwanya. Apalagi sebagai kepala staf, ia tidak memiliki pasukan langsung, seperti yang dimiliki Panglima, Komandan Resimen, Komandan KMKB, atau komandan batalyon.
“Suamiku tidak sepaham dengan Maludin Simbolon sebagai atasannya. Di satu sisi, sang atasan menggalang kekuatan untuk keluar dari NKRI, sedangkan suamiku berketetapan untuk mempertahankan NKRI yang berpusat di Jakarta. Dia melakukan perlawanan terselubung kepada Pak Simbolon,” kata Likas Tarigan, istri dari Jamin Gintings.
Sejak pengumuman Simbolon pada 22 Desember 1956 yang berafiliasi kepada Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI), Jakarta langsung bereaksi dan memutuskan Jamin Gintings sebagai pengganti Simbolon dan segera mengatasi keadaan yang mengancam terjadinya perang saudara.
Bocornya rahasia operasi untuk menangkap Simbolon, antara lain karena ke dekatanan emosional. Semua perwira dan tentara menjadi serba salah, karena merasa sudah menjadi bagian keluarga besar.
Usai pesta resepsi Natal di rumahnya, Kolonel Simbolon melarikan diri dan meminta perlindungan ke asrama Yonif 132 yang dikomandani Kapten Sinta Pohan di Kampung Durian.
Namun operasi terus dilanjutkan dengan melucuti tentara yang loyal kepada Simbolon dimulai dari Kompi Pengawal Simbolon dan sejumlah tentara lainnya sejak dini hari hingga subuh hari tanggal 27 Desember 1956. Jamin Gintings akhirnya muncul di studio RRI Medan dan mengumumkan situasi menghadapi pergolakan.
“Sejak 27 Desember 1956, pukul 06 Waktu Sumatra Utara, Jamin Gintings mengambilalih komando sebagai Panglima TT-I BB. Hubungan dengan pemerintah pusat dijalin kembali sebagaimana biasa.
Kepada anggota Angkatan perang, instansi sipil dan kepolisian serta masya rakat umum di wilayah TT-I, diminta agar tetap tenang dan yakin atas kebijak sanaan yang dilakukan oleh Komando TTI selanjutnya.”
Perdana Menteri (PM) Ali Sastro amijoyo dan Wakil PM Idham Khalid mendukung sepenuhnya tindakan Jamin Gintings. Begitu juga dengan Gubernur Sumatra Utara Kumala Pontas.
Jamin juga mengumumkan bahwa peraturan-peraturan yang dikeluarkan oleh Komando Revolusi dan Komando Gajah PRRI, tidak berlaku lagi. “Kolonel Simbolon telah melarikan diri dan mengajak untuk bertempur melawan Negara Republik Indonesia. Jangan bantu Simbolon yang sudah salah jalan itu….”
Melalui Operasi Sapta Marga, menurut Letnan Jenderal (Purnawirawan) Amir Sembiring, Jamin Gintings mampu meng ambilalih Komando TT-I tanpa pertum pahan darah. Jadi, pada akhir 1956 sam pai 1958, peran Jamin Gintings sangat penting dalam mengamputasi secara dini bersatunya ketiga Dewan (Dewan Gajah, Dewan Banteng dan Dewan Garuda) di Sumatera yang akan berdampak efek domino pada wilayah RI yang lain.
“Tidak ada yang kontroversial menge n ai Jamin Gintings sebagai mana yang disampaikan beberapa pihak, apalagi disebut sebagai pengkhianat,” kata Amir Sembiring, ketua tim pengusulan Jamin Gintings sebagai pahlawan nasional di Jakarta, Sabtu (7/6/2014).
Sejak Jamin Gintings ditetapkan secara resmi sebagai Panglima TT-I Bukit Barisan dan memberikan pengumumam di studio RRI Medan, suasana perlahanlahan mulai kondusif. Masyarakat yang awalnya pro kepada kelompok PRRI/ Permesta, akhirnya kembali kepangkuan RI yang puncaknya dilaksanakan pada 12 Agustus 1961 di Balige.
“Mengamati sepak terjangnya, masyarakat dan Pemerintah Provinsi Su matra Utara, kini kembali mengusulkan Jamin Gintings menjadi pahlawan nasional,’ kata Alimin Ginting, sekretaris Yayasan Jamin Gintings.#osk
Sumber : Republika .co.id