Pemprov Gelar Seminar Internasional ‘Pendekatan Lanskap Dalam Pembangunan Hijau’

21
Sejumlah awak media melakukan wawancara dengan beberapa narsum di sela-sela seminar bertajuk ‘Menerjemahkan Pendekatan Lanskap ke Dalam Praktik Pembangunan Hijau’, di Hotel Aryaduta, Selasa (24/7).

Palembang, BP — Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan telah mencanangkan pertumbuhan hijau sebagai salah satu visi pembangunan. Tentunya, hal itu dapat dicapai jika terjadi kemitraan antara pemerintah, swasta dan masyarakat dalam mendukung keseimbangan aspek produksi dan konservasi.

Koordinator KOLEGA Sumsel Dr Najib Asmani mengatakan, Provinsi Sumsel telah berhasil mengundang berbagai lembaga internasional dan donor untuk bersama pemerintah provinsi mengembangkan pendekatan lanskap. Mengingat, Sumsel merupakan percontohan bagaimana pendekatan lanskap dikembangkan berdasarkan prinsip-prinsip ilmiah.

“Sumatera Selatan adalah laboratorium lapangan bagi implementasi pendekatan lanskap di Indonesia,” kata Najib di sela-sela seminar bertajuk ‘Menerjemahkan Pendekatan Lanskap ke Dalam Praktik Pembangunan Hijau’, di Hotel Aryaduta Palembang, Selasa (24/7).

Dijelaskan dia, visi lingkungan hidup merupakan agenda jangka panjang yang harus dilakukan secara konsisten, sehingga diperlukan sebuah percontohan di lapangan dalam bentuk pengelolaan lanskap berkelanjutan.

Ia juga menambahkan, Pemrov Sumsel juga telah berupaya membangun praktik pembangunan hijau, dengan tersusunnya dokumen Green Growth Masterplan 2017-2030, yang juga telah diterjemahkan ke dalam Peraturan Gubernur (Pergub).

Baca Juga:  Pengerjaan Galian Perpipaan IPAL Disejumlah Jalan Utama Dimulai 2024

Di tempat sama, Direktur WRI Indonesia Nirarta Samadhi menjelaskan, sebagai salah satu upaya untuk mengumpulkan berbagai pembelajaran terkait pengelolaan lanskap di Sumsel, Pemrov dan KOLEGA mengumpulkan para pakar lingkungan dalam seminar yang bertajuk ‘Menerjemahkan Pendekatan Lanskap ke dalam Praktik Pembangunan Hijau.

“Seminar Internasional ini merupakan bagian rangkaian acara South Sumatera Landscape Festival 2018, WRI Indonesia, ICRAF, IDH dan KELOLA Sendang-ZSL yang merupakan Mitra Pembangunan KOLEGA Sumsel,” ungkap dia.

Selain itu, kata dia, seminar internasional ini juga dalam rangka menggagas pentingnya sains untuk mendukung pendekatan lanskap dalam rangka praktik pembangunan hijau, sekaligus menjadi wadah bagi para pakar lingkungan, akademisi, lembaga swadaya masyarakat dan pembuat kebijakan untuk membangun kemitraan dalam pengelolaan sumber daya lahan dan lingkungan hidup secara lestari.

Tak hanya itu, lanjutnya, pendekatan lanskap yang menitikberatkan pada kolaborasi dan komunikasi yang solid antara berbagai pihak, termasuk pemerintah daerah, pihak swasta, organisasi masyarakat sipil dan donor, tengah dicobakan di beberapa lanskap di Sumsel untuk mencapai praktik pembangunan hijau yang baik.

Baca Juga:  CSR PT Pertamina Geothermal Energy Tbk Area Lumut Balai Jangkau 31.000 Lebih Penerima Manfaat

“Kolaborasi kerja keras antar para pihak di Sumsel untuk mencegah kebakaran hutan dan lahan gambut, seperti restorasi gambut, patut mendapatkan apresiasi dan dukungan lebih. Misalnya, sekarang kita perlu memobilisasi pendanaan untuk mengimplementasikan Rencana Restorasi Ekosistem Gambut dan Rencana Tindakan Tahunan dan pengawasan yang efektif. Pendanaan dan pengawasan terkait restorasi gambut perlu mengacu pada pendekatan lanskap secara terpadu dan inklusif,” tuturnya.

Terkait implementasi pengelolaan lanskap di lapangan, Deputi Direktur Proyek KELOLA Sendang David Ardhian mengatakan, proyek KELOLA Sendang adalah bentuk kemitraan pengelolaan lanskap dalam praktik. KELOLA Sendang diharapkan menghasilkan bentuk-bentuk kemitraan aksi dalam pengelolaan lanskap dataran rendah di Sumsel dari kawasan Sembilang sampai dengan Dangku.

Masih dikatakannya, sains merupakan basis utama proyek KELOLA Sendang dalam mengembangan permodelan dalam pengelolaan lanskap di lapangan. Dimama, sains itu digunakan untuk membangun sistem, kelembagaan dan berbagai bentuk percontohan aksi kemitraan di tingkat tapak.

Baca Juga:  Pegiat dan Praktisi Deklarasikan Lanskap Nusantara

“Sebagai contoh sains konservasi dan keanekaragaman hayati, pengelolaan tata air terpadu di kawasan hidrologi gambut, pengelolaan konflik dan penguatan penghidupan masyarakat,” jelasnya.

Sementara itu, Dr Asep Adikerana dari ZSL Indonesia menjelaskan, pelestarian keanekaragaman hayati dan membangun koridor hutan di kawasan lanskap yang kompleks adalah tantangan penting dalam pengelolaan lanskap Sembilang Dangku.

Dia juga menuturkan, sains konservasi, data biofisik dan geospasial kawasan hutan tersisa, serta pemahaman terhadap sosio kultural masyarakat merupakan informasi-informasi penting yang kami gunakan untuk menganalisis kemungkinan untuk pengembangan koridor satwa di kawasan Dangku dan Hutan Harapan.

“Jika pendekatan berbasis sains ini konsisten diterapkan, maka proyek KELOLA Sendang potensial untuk menyumbangkan kajian, pemikiran dan praktik-praktik sains untuk lanskap berkelanjutan,” pungkasnya. #rio

Komentar Anda
Loading...