Jurnalistik lingkungan Sampaikan Informasi Dengan Strategi Komunikasi Lingkungan

Suasana Pembukaan Acara Seminar Jurnalistik Lingkungan dan Pelatihan Kehumasan sekaligus launcing media GLOBALPLANET.news di Hotel Horison Ultima Palembang, Senin (30/10).
Palembang, BP
DALAM upaya meningkatkan pengetahunan tentang restorasi gambut dan kerjasama di bidang kehumasan, Tim Restorasi Gambut Daerah (TRGD) Sumatera Selatan (Sumsel) menggelar acara Seminar Jurnalistik Lingkungan dan Pelatihan Kehumasan sekaligus launcing media GLOBALPLANET.news di Hotel Horison Ultima Palembang, Senin (30/10).
Acara yang dihadiri oleh 35 media baik cetak, elektronik maupun online yang eksis di Palembang ini bertujuan untuk mendiskusikan problema gambut dan lingkungan untuk meningkatkan pemahaman tentang pentingnya ekosistem tersebut bagi kehidupan makhluk. Dan juga media kedepannya diharapkan bisa mengkomunikasikan fenomena itu kepada masyarakat luas.
Sedangkan tiga nara sumber yang hadir , Dr Yenrizal Tarmizi dari Fisip UIN Raden Fatah Palembang, Yesi dari Kelola Sendang dan Nadia dari IDH (Inisiatip dagangan hijau) Indonesia.
Dr Yenrizal Tarmizi menyampaikan, dampak serta masalah lingkungan hidup terutama dalam hal kebakaran hutan dan lahan, banjir yang dihadapi saat ini.
Karena itu menurutnya, Jurnalistik lingkungan ketika menyebarkan informasi kepada publik haruslah akurat dengan strategi komunikasi lingkungan diutamakan terlebih dahulu maping, planing, produksi, aksi dan refleksi.
“Pesan-pesan yang kita sampaikan kepada publik tepat sasaran dengan bahasa populer dan juga berkelanjutan,” katanya.
Ia juga menyayangkan, para calon atau pemimpin terpilih yang tidak pernah mengangkat isu lingkungan sebagai bahan propaganda. Padahal ini merupakan masalah krusial yang perlu penyelesaian.
“Isu lingkungan itu tidak ‘seksi’, tidak mendulang massa, padahal itu sangat penting,” katanya.
kemiskinan, dan lain-lain. Sedangkan kemiskinan sendiri diakibatkan oleh lingkungan yang tidak diolah dengan baik. “Kenapa orang miskin, ya karena persoalan lingkungan. Tapi karena itu tidak menjual untuk popularitas akhirnya tidak masuk,” katanya.
Hal yang sama juga disampikan Yesi dari Kelola Sendang bahwa, informasi untuk lingkungan hidup (LH) ketika disampaikan kepada publik haruslah berkelanjutan. “Informasi untuk LH itu harus berkelanjutan biosentris, pro keadilan lingkungan dan juga profesional,” katanya.
Asisten II Bidang Ekonomi, Keuangan dan Pembangunan Provinsi Sumsel, Yohanes H. Toruan berharap, media bisa menjalankan fungsi jurnalistik dan menyampaikan informasi dengan baik.
“Anak zaman sekarang kalau tau makanan datang, bukannya langsung dimakan malah difoto dulu. Beda dengan kita dulu yang langsung mencari sendok,” katanya.
Begitupun dengan perbedaan budaya permainan zaman dulu dan sekarang. Ia mengatakan kepada audiens untuk bersyukur karena masih bisa menikmati permainan zaman dulu. “Berbanggalah bahwa kita masih menikmati permainan zaman dulu bukan ngejar Pokemon,” katanya.
Ia sendiri merasa miris, dengan kemajuan teknologi yang tidak diimbangi dengan perkembangan ilmu pengetahuan. Bahkan ia harus menceritakan ulang kisah pahlawan zaman dulu yang kebanyakan tidak dikenal lagi oleh anak zaman sekarang.
“Anak saya saja tidak tahu Sultan mahmud Badaruddin, sehingga saya harus menceritakan kisahnya. Kiranya media sosial sekarang ini bisa mengaktifkan dongeng dan sejarah,” katanya.
Juga hadir dalam acara tersebut Asisten II Kota Palembang, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Sumsel Edward Candra, Ketua DPRD OKU Zaplin Ipani SE, Kabid Humas Polda Sumsel Kombes Pol Slamet Widodo, Ketua APINDO Sumsel Sumarjono Saragih, Dir Reskrimsus Polda Sumsel Kombes Pol Rudi Setiawan, Ketua PWI Sumsel H Oktaf Riyadi, Kasubdit Regident Polda Sumsel AKBP Doni Eka Putra, Sultan Iskandar Mahmud Badarudi III, Kasi Kurikulum Disdik kota Palembang Achmad Kamil.#osk