Tak Patah Arang, Pratiwi Bertekad Jadi Dokter…

63
Pratiwi bersama ayahnya.

DISIPLIN belajar yang ditanamkan kedua orangtuanya membuat Pratiwi Karolina mampu menembus keterbatasan ekonomi keluarga. Tak patah arang, kini ia berhasil kuliah di Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya dan bertekad menjadi dokter untuk membantu sesama di bidang medis.

Pratiwi Karolina (17) merupakan anak pertama dari pasangan M Roni (43) dan Linda Ria (32) warga Desa Lebung Bandung Dusun Lebung Bandung Kecamatan Rantau Alay Kabupaten Ogan Ilir (OI).

Sejak kecil ia memang selalu meraih prestasi di bangku sekolah. Rajin belajar adalah modalnya sehingga bisa meraih rangking satu atau dua, hingga pada akhir kelas 12 tahun lalu ia berhasil meraih juara umum di MAN Sakatiga dan diterima tanpa tes di Fakultas Kedokteran Prodi Kedokteran Umum Unsri . Saat ini dia tengah duduk di semester 5.

Perempuan berhijab ini bukanlah anak orang kaya, karena lazimnya yang bersekolah di fakultas tersebut kebanyakan dari keluarga berekonomi mumpuni. Ayahnya hanya tenaga kerja sukarela (TKS) Satpol-PP DPRD OI sejak tahun 2005 dengan penghasilan Rp1 juta per bulan. Sementara ibunya penjual gado-gado dan gorengan yang setiap harinya mendapatkan keuntungan Rp50 ribu.

Boleh dikata dengan penghasilan tersebut, sangat tidak masuk akal untuk sekolah di fakultas yang terkenal berbiaya tinggi. Tapi Allah berkehendak lain, meski berliku namun akhirnya ia pun bisa mengenyam pendidikan di Fakultas Kedokteran Unsri

Ayahnya Roni selalu mengajarkan kesederhanaan dan optimisme tinggi dalam menghadapi hidup ini. Sejak kecil ia selalu dididik agar pandai bersyukur dalam menjalani hidup, banyak beribadah kepada Allah SWT dan pantang menyerah adalah kuncinya.  Sementara ibunya aktif mengajari anaknya ilmu berhitung meski sang ibu hanyalah tamatan SMP.

“Alhamdulillah ada saja jalan uangnya untuk menyekolahkan dia. Bahkan saat masuk Unsri uang UKT hanya Rp500 ribu, biasanya kalau kedokteran kan mahal minimal Rp25 juta, dari mana saya dapat uang sebesar itu. Semua saya serahkan sama Allah SWT saya tahajud minta kemudahan. Selain itu dia juga dapat beasiswa Bidik Misi Rp4,5 juta per semester itu sangat membantu,” kata M Roni, ayahanda Pratiwi Karolina.

Bahkan menurutnya untuk baju kuliah anaknya disuruh membeli di BJ (tempat penjualan baju bekas – red) karena harganya murah enam stel hanya Rp100 ribu, “Sepatunya pun karena sering dipakai selalu lepas solnya akhirnya saya lem saja,” tambah Linda saat Beritapagi di rumah batako sewa yang berukuran 6×6 meter, Senin (16/7/2018).

Menurutnya meski tak bisa membelikan anaknya susu secara terus menerus, namun ia selalu berusaha memenuhi gizi makanan anaknya dengan lauk ikan seperti Patin atau pun Sepat, sayur dan buah-buahan seperti pisang dan pepaya.

“Pokoknya sebelum pergi sekolah harus sarapan nasi dengan ikan dan sayur, kalau siang sering bawa bekal. Yang penting perut tidak lapar sehingga konsentrasi untuk belajar, saat pulang sekolah anaknya selalu mengulangi pelajaran saat malam hari ia pun belajar untuk mata pelajaran besok sehingga saat guru menerangkan bisa mudah menangkap. Untuk pendidikan agama sejak kecil setiap sore mengaji di masjid dekat rumah. Kalau kecil dulu jarang nonton televisi karena memang belum punya, kalau sekarang jam nonton dibatasi dibimbing maksimal nonton pukul 21.30 wib setelah itu wajib tidur,” katanya.

Disinggung soal disiplin belajar dan beribadah, dirinya selalu menerapkannya pada anak-anaknya. “Shalat lima waktu itu wajib jadi saya contohkan, bahkan saat ini khususnya anak yang besar saya terapkan agar rajin shalat tahajud. Artinya dalam mendidik anak itu perlu diberikan contoh baik agar anak bisa meniru selain itu disiplin belajar menjalankan ibadah agar seimbang, komunikasi antara anak dan orangtua harus dibina dengan baik, faktor lingkungan juga harus diperhatikan, mana lingkungan yang bagus mana yang jelek harus dibedakan, pergaulan wajib diawasi,” tuturnya.

“Saya tidak pernah memarahi anak dengan omongan kasar atau memukulnya, namun lebih kepada nasihat, alhamdulillah mereka menurut. Beasiswa sangat membantu anak kami untuk kuliah, namun ongkosnya per minggu Rp500 ribu lumayan tapi banyak juga keluarga yang memberi bantuan. Meski begitu perjuangan kami masih panjang, ekonomi memang susah tapi tidak patah semangat, ya berharap pertolongan bantuan beasiswa dari pihak lain guna membantu ongkos kuliah,” ujarnya lagi.

Pratiwi Karolina mengakui jika orangtuanya sangat disiplin menerapkan waktu belajar, waktu membantu orangtua dan waktu bermain. “Insya Allah saya bertekad ingin menjadi dokter, harus semangat karena memang cita-cita saya untuk membantu sesama manusia di bidang  medis. Alhamdulillah saya juga dapat beasiswa. Nilai mata kuliah saya A dan B kalau sejauh ini IPK 3,5, ya kalau belajar biasanya tidak disuruh kesadaran saja namun ayah selalu melarang kalau terlalu lama nonton televisi dan menggunakan waktu menganggur untuk bermain. Sering ngobrol minta doa dengan orangtua mempermudah jalan mengarungi hidup,” kata Pratiwi.

“Kita berharap supaya anak lain yang memiliki keinginan besar untuk kuliah jangan putus asa, walaupun ada kendala biaya jangan takut karena di kampus, kabupaten ada banyak beasiswa dan kampus siap membantu untuk mahasiswa berprestasi. Bagi semua siswa yang belum memiliki keinginan kuliah karena takut dengan keadaan keluarga, mulai sekarang tumbuhkan rasa gigih untuk sukses kalau bukan kita siapa lagi yang akan mengubah kehidupan kita, kalau bukan sekarang kapan lagi. Insya Allah pada akhirnya nanti saya bisa menjadi dokter kandungan karena itulah yang saya cita- citakan setelah menjadi dokter umum. Karena saya ingin menolong lebih banyak kaum ibu,” tegasnya.

Rektor Unsri Prof Dr H Anis Saggaff, MSCE mengaku sangat senang dengan mahasiswa yang semangat belajar, meski dengan keterbatasan ekonomi. “Kita berharap prestasinya terus naik tidak turun. Kuota beasiswa terus tersedia seperti Bidik Misi, PPA, BBM, BI, Pertamina dari bank maupun perusahaan swasta lainnya. Pendidikan anak sangat penting tidak memandang status sosial karena majunya suatu bangsa karena pendidikan, disinilah letak penting peranan keluarga plus guru atau dosen,”ujarnya

Kadisdikbud OI Islah Corie Spd Msi didampingi Kasi Kurikulum SMP Marsudi Spd MM mengatakan peran keluarga sangat penting dalam mendidik anak sebanyak 70 persen sisanya faktor lain. Menurutnya kebijakan mengenai pendidikan corong terdepan adalah guru, karena bukan hanya sekadar mengajar tapi berperan sebagai pendidik, sementara orangtua adalah basic dominan.

“Kalau mengajar lebih ke materi kalau mendidik menyangkut karakter antara lain agama, akhlak budi. Banyak juga orangtua mampu anaknya berhasil, orangtua tidak mampu anaknya sukses namun ada juga orangtua mampu dan tidak mampu tapi anaknya tidak berhasil. Itu semua banyak faktornya dari diri sendiri, keluarga, lingkungan dan sebagainya. Untuk itu didiklah dalam kebaikan anak sejak dini mulai dari rahim sampai ke liang lahat,” jelasnya.

Pengamat pendidikan Syamsuddin, Spd Mpd mengatakan orangtua sangat berperan penting dalam tumbuh kembang anak, memberikan motivasi dan pemikiran.

“Banyak juga orangtua yang tidak berpendidikan namun bisa mencetak anak yang sukses dalam pendidikan dan karir itu karena pemikiran bahwa cukup orangtua yang susah anaknya jangan. Akhirnya dia bertekad untuk mengupayakan segala daya agar anaknya tetap bisa bersekolah. Selain itu yang terpenting anaknya mau maju, lingkungan juga berperan aktif memberikan pengaruh. Misalnya ada tokoh diluar keluarga yang diidolakannya bisa paman, bibi atau tetangga yang sukses dan bisa ia contoh,” katanya.

Dikatakannya ada hal penting yang wajib dilakukan orangtua dalam mendidik anak yaitu menyediakan waktu untuk berinteraksi dan ber-edukasi dengan anak, menghindari tingkah laku menghina, meremehkan, memarahi, dan memerintah anak karena hal ini akan menimbulkan perilaku agresif dan tidak kooperatif.

Kemudian, mengusahakan ikut terlibat secara aktif dalam mentransfer nilai-nilai dan tindakan pengajaran yang baik bersama anak dilingkungan rumah dan sekitar, mengoptimalkan penerapan waktu sebaik mungkin dalam proses  pendampingan belajar di rumah, berhubungan antar sesama, memberi sanksi disertai motivasi yang bersifat pengajaran ketika anak melakukan kesalahan.

Selanjutnya menurut Syamsuddin, menanamkan sikap mandiri kepada anak, pemberian dasar pendidikan tidak hanya berfokus pada pembelajaran bersifat duniawi tapi pembelajaran bersifat spiritual dan mengupayakan diri sebagai figur idola bagi anak-anaknya. “Alhamdulillah Pratiwi semangat belajar meskipun ditengah keterbatasan ekonomi keluarga, apalagi dia mahasiswa pintar dan rajin beribadah. Insya Allah tercapai cita-citanya menjadi dokter untuk membantu masyarakat di bidang kesehatan,” ujarnya.

Terpisah Ketua MUI OI H Muhsin Qori menjelaskan, orangtua jangan sampai lupa, ada hal yang wajib menjadi dasar dalam mendidik yaitu memberikan pendidikan agama sejak dini harus berjalan lurus dengan pendidikan lainnya, agar dapat selamat dunia dan akhirat.  #henny primasari

 

Komentar Anda
Loading...