Sriwijaya Mengajarkan Kita Bertoleransi
Palembang, BP

“Dari maharaja yang juga keturunan maharaja, yang beristrikan cucu dari maharaja, yang memiliki kandang berisi seribu ekor gajah, yang di wilayahnya terdapat dua sungai yang mengairi taman gaharu, rempah-rempah, pala dan kamper yang semerbaknya tercium dari jarak 12 mil. Kepada Raja Arab yang tidak mengenal Tuhan lain selain Allah. Aku mengirimkan hadiah yang tak seberapa, sekedar perlambang persahabatan. Aku berharap engkau mengirimkan seseorang yang dapat mengajarkan ISLAM dan menjelaskan hukum-hukumnya kepadaku”.
Penggalan surat tersebut menohok dalam tulisan dari Reynold Sumayku di dalam majalah National Geographic Indonesia edisi Desember 2013 lalu.
Surat itu diungkapkan oleh SQ Fatimi, seorang cendekiawan Muslim dan diterbitkan oleh Islamic Research Institute, Inter¬national Islamic University di Islamabad, 1963.
Dalam surat terungkap bahwa Raja Sriwijaya itu menempatkan posisinya sederajat dengan Khalifah Umar bin Abdul Aziz di kekhalifahan Umayyah, di Damaskus. Hal ini bisa dilihat dari bagaimana ia merinci harta benda yang dimilikinya dan keturunannya serta hasil buminya yang begitu terkenal di seantero dunia.
Arkeologi dari Pusat Arkeologi Nasional, Jakarta, Bambang Budi Utomo mengatakan kapal Sriwijaya yang tenggelam di perairan Cirebon, di dalamnya ditemukan artefak seperti barang kaca dari Persia, tiontin yang berisi Asmaul Husna dengan ukuran setengah mili
dimana abad ke X Islam masuk ke Sriwijaya.
“ Raja Sriwijya pernah mengirimkan hadiah kepada penguasa Islam Umar Ibnu Abdul Aziz pada masa kepemimpinan Abasiyah sambil minta Umar Ibnu Abdul Aziz menyebarkan Islam di Sriwijaya,” katanya, Senin (4/9).
Artinya menurut Bambang kerukunan beragama di Sriwijaya terjaga walaupun kebanyakan penduduk Sriwijaya beragama Budha namun terbuka bagi umat beragama yang lain .
Selain itu ada bukti arkeologis yang ditemukan di Barus yang merupakan salah satu wilayah pelabuhan Sriwijaya disana berkembang
agama Kristen Sekte Nestorian dari Konstantinopel, pusat Kerajaan Byzantium Timur,.
Bambang mengaku, prihatin dengan konflik akibat perbedaan pilihan paham politik dan perbedaan pemahaman agama sekarang ini.
Menurutnya, era Kerajaan Sriwijaya yang beragama Budha semua pemeluk agama bisa berdampingan walau beda kepercayaan. Hal itu bisa dibuktikan dari Arca Boddhisattwa Awalokiteswara yang dibuat oleh seorang Pendeta Hindu yang dihadiahkan untuk Umat Budha.
“Menariknya di belakang Arca itu terdapat pahatan Aksara Jawa Kuno yang berbunyi ‘Dan Acaryya Syuta’, nama Pendeta Hindu itu,” katanya.
Dari bukti-bukti sejarah yang kian terkuak ini, menurutnya terlihat bahwa Kerajaan Sriwijaya memang dari dulunya adalah negara yang sangat menjunjung tinggi toleransi antar umat beragama.
Untuk itu menurut Bambang masyarakat Indonesia harus belajar dari Kerajaan Sriwijaya yang sangat toleran atas perbedaan-perbedaan yang ada dan selalu belajar dari sejarah.
“Toleransi adalah kunci menjadi Indonesia yang penuh dengan keberagaman dari kebudayaan, suku dan bahasa ini,” kata Bambang.
Berkaca dari aksi kekerasan terhadap etnis muslim Rohingya di negara bagian Rakhine, Myanmar sudah seharusnya pemerintah Myanmar untuk segera mengakhiri aksi-aksi kekerasan yang mengakibatkan jatuhnya korban tewas dari warga etnis Rohingya tersebut.
Pemerintah Indonesia sendiri , telah banyak juga membantu warga Rohingya. Diantaranya membantu untuk menampung para pengungsi yang kabur, pada aksi kekerasan pada tahun 2016 lalu.#osk