Polisi Bidik Grup Telegram Toni

12

Palembang, BP

Toni Rianda (24) telah ditetapkan sebagai tersangka kasus ujaran kebencian (hate speech). Kepolisian Daerah Sumatera Selatan membidik anggota grup Telegram Toni.

Untuk pengembangan penyelidikan, pihak yang berwajib akan memanggil seluruh anggota grup media sosial Telegram dari simpatisan ISIS yang Toni ikuti tersebut.

Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Sumsel Kombes Pol Prasetijo Utomo mengatakan, pihaknya akan mengecek satu per satu ujaran kebencian yang dilakukan anggota grup tersebut.

“Toni kan dikenakan pasal ujaran kebencian karena menyebut polisi thogut dan halal untuk dibunuh. Di grup Telegram tersebut, tidak hanya tersangka Toni melakukan ujaran kebencian, namun ada banyak member lain. Makanya kami akan melakukan pemanggilan grup tersebut dan dicek satu per satu,” ujarnya, Senin (10/7).

Terkait apakah Toni bisa dikenakan Undang-undang Terorisme atau tidak, pihaknya masih melakukan pendalaman penyidikan terhadap tersangka.

Pihaknya pun masih menelusuri apakah ada warga Sumsel lain yang bergabung dalam grup tersebut. “Masih didalami untuk pengembangan apakah ada warga Sumsel lain atau tidak,” kata Prasetijo.

Sementara terkait pengemudi ojek online yang sempat ditangkap oleh Polda Sumsel, pihaknya hanya mengenakan wajib lapor satu kali dua puluh empat jam saja terhadap yang bersangkutan, yang merupakan warga Jalan Bungaran, Kelurahan 8 Ulu, Kecamatan Seberang Ulu II, Palembang berinisial MS.

“Pengemudi ojek tersebut masuk ke Mako Brimob dan diduga melakukan pengambilan gambar menggunakan ponselnya. Namun rekaman video tersebut belum kami temukan,” ujarnya.

Baca Juga:  Akui Razia PSK di Palembang Tak Jalan

Seperti diberitakan sebelumnya setelah satu kali dua puluh empat jam ditangkap, Toni Rianda yang sebelumnya merupakan terduga simpatisan ISIS ditetapkan sebagai tersangka.

Penyidik mengenakan Pasal 28 ayat 2 UU ITE atau Pasal 207 KUHP tentang ujaran kebencian terhadap suatu golongan atau pemerintahan.

Hal tersebut terbukti bahwa benar tersangka mengakui bahwa unggahan di media sosial milik Toni merupakan benar atas perbuatan dirinya.

Berdasarkan informasi, Toni sudah berniat pergi ke Suriah untuk bergabung dengan ISIS setelah mengumpulkan uang dengan bekerja di salah satu perusahaan tambang di Kabupaten Muaraenim. Namun impian nya kandas karena ditangkap terlebih dahulu oleh Polda Sumsel.

Warga Jalan Sembilang, Gang Karet, Nomor 66, RT5/4, Pekanbaru, Riau ini dibekuk anggota Polda Sumsel di Jalan Raya Prabumulih-Palembang, pada 8 Juli.

Toni tengah menumpang bus Juwita jurusan Palembang-Tanjungenim BG 7713 AU dari Palembang menuju Tanjungenim. Saat itu, anggota Polsek Gelumbang tengah melaksanakan razia.

Polisi telah mendapatkan informasi awal terkait kedatangan tersangka menggunakan bus tersebut. Saat bus melintas, kepolisian memberhentikan bus tersebut.

Terduga pelaku duduk di bagian depan sebelah sopir langsung disuruh turun oleh petugas dan kemudian diamankan ke Mapolsek Gelumbang.

Dalam penangkapan ini polisi juga menyita barang bukti berupa laptop, pakaian, KTP, kartu ATM Bank Mandiri, SIM C, lisensi operator K3, ponsel, serta power bank.

Baca Juga:  Kemenkumham Sumsel Rangkul APH Bahas Diversi

Telegram Aplikasi ISIS

Toni adalah anggota dari media sosial bernama Telegram bentukan ISIS. Media sosial ini disinyalir sebagai sarana promosi dan media rekrutmen yang efektif bagi kelompok ISIS. Telegram dibangun oleh pendiri situs media sosial terpopuler di Rusia, VKontakte.

Meski baru dibangun dua tahun yang lalu, Telegram sudah dikenal di seluruh dunia sebagai salah satu sarana paling aman untuk mengunggah dan membagikan pesan teks, video, dan pesan suara. Saat ini, Telegram sudah memiliki 60 juta pengguna aktif.

Sebuah fitur yang diperkenalkan Telegram pada September 2015 menjadi metode andalan bagi ISIS untuk menyiarkan berita dan berbagi video tentang aksi maupun pertemuan. ISIS juga menggunakan Telegram untuk menyatakan diri sebagai dalang aksi teror Paris yang menewaskan 129 orang, serta pengeboman pesawat Metrojet Rusia yang menewaskan 224 orang.

Telegram jadi pilihan karena media sosial mainstream macam Twitter makin gencar melakukan penutupan akun yang berkaitan dengan ISIS. Analis anti-terorisme dari perusahaan intelijen swasta New York, Flashpoint, Alex Kassirer, mengatakan bahwa ISIS menggunakan kanal broadcast Telegram untuk mengirim rilis tentang perekrutan, inspirasi, dan motivasi.

Rita Katz, direktur Bethesda, layanan monitoring gerakan ekstrimisme SITE, ISIS kini memiliki 34 kanal di Telegram yang berfungsi sebagai layanan rilis pers. Beberapa kanal bahkan menarik hingga puluhan ribu pengikut.

Baca Juga:  Lawan ISIS, AS Bentuk Koalisi Kedua

Tidak seperti Twitter yang menutup ribuan akun terkait ISIS karena dinilai melanggar aturan perusahaan, sejauh ini Telegram masih membiarkan para simpatisan ISIS beroperasi tanpa khawatir ditutup, apalagi dilacak.

Hingga saat ini, belum ada keterangan resmi dari Telegram terkait isu tersebut. Namun, menyusul publikasi laporan ini, Telegram, lewat situs resminya, menyatakan akan memblokir kanal-kanal ISIS.

Telegram dibangun oleh Pavel (31) dan Nicolay Durov (34), kakak beradik asal Rusia yang membangun VKontakte, media sosial terkenal Rusia yang terinspirasi Facebook. Pada tahun 2014, VKontakte jatuh ke tangan sekelompok pengusaha yang memiliki kedekatan dengan Presiden Rusia Vladimir Putin, setelah melawan kebijakan pemerintah memblokir para petinggi oposisi Rusia.

Pavel dan Nicolay pindah ke Berlin, Jerman dan membuat Telegram dengan dana mereka sendiri. Telegram mengatakan, tidak akan semata-mata mengejar keuntungan. Jika kehabisan dana, mereka mengaku akan meminta donasi dan menjual aplikasi tambahan.

 

Keunggulan Telegram adalah kemampuannya untuk mengenkripsi pesan tanpa memungut bayaran, ke banyak gadget pengguna. Hal ini amat bermanfaat bagi orang-orang yang kerap bergonta-ganti perangkat komunikasi. Fitur pesannya juga memungkinkan pengguna berbagi video dan pesan suara berukuran besar tanpa perlu takut terdeteksi pihak ketiga. # idz/cit

 

Komentar Anda
Loading...