Gratifikasi Hindia-Belanda dari Harta Sultan

17

Kapal korvet Dolphijn segera diberangkatkan ke Palembang untuk memperkuat pertahanan.

Oleh FRIEDA AMRAN

Sultan Achmat Najam Oedin yang melarikan diri akhirnya diketemukan, bersembunyi di daerah yang termasuk wilayah Bengkulu. Tak ada lagi anak buah yang menyertainya. Sang Sultan dikepung sehingga mau-tak mau, ia akhirnya terpaksa mengangkat tangan, menyerah. Ia dibawa kembali ke Palembang. Dengan Keputusan tertanggal 6 September 1825, ia dicopot dari statusnya sebagai sultan dan segala hak istimewa yang pernah diberikan kepadanya, dibatalkan.

Beberapa bulan sebelumnya, tepatnya pada tanggal 21 Februari 1825, Sang Soesoehoenang–yang diberangkatkan ke Batavia setelah serangan yang gagal itu—menghembuskan nafasnya yang terakhir. Memang, setiba di Pulau Jawa, lelaki itu jatuh sakit dan kesehatannya tak pulih lagi.

Pada tanggal 10 Desember tahun itu, kabar yang sampai di Batavia memberitakan bahwa  Palembang sudah kembali aman dan tenteram.

Dengan Keputusan Gubernur-Jendral Hindia-Belanda tertanggal 13 November 1825 ditentukan bahwa sebagian harta yang disita dari Sultan Machmoed Badar Oedin dibagi-bagikan sebagai uang penghargaan (gratifikasi) untuk orang-orang yang berjasa dalam menaklukkan Palembang. Pembagian uang itu sebagai berikut:

  • Untuk Jendral de Kock, pemimpin ekspedisi Palembang: ƒ 12.000,-
  • Untuk semua perwira berpangkat Kolonel, Letnan-Kolonel, Kapten-Kolonel dan Letnan-Kapten: ƒ 2.200,-
  • Untuk semua yang berpangkat Mayor: ƒ 1.200,-
  • Untuk semua Kapten, Letnan dan Ahli Bedah (tenaga medik): ƒ 500,-
  • Untuk semua yang berpangkat Letnan-Satu, Letnan-Dua dan Ahli Bedah Kelas 2: ƒ 300,-
  • Untuk semua taruna, kadet, ahli bedah kelas tiga, penulis kelas dua, kelasi utama, nakhoda utama, Konstapel-Mayor dan ajudan perwira rendah: ƒ 150
  • Untuk tukang kayu utama, kelasi kelas dua, nakhoda kelas dua, tukang perahu, tukang temali, Sersan-Mayor, tukang layar utama, tukang gentong utama, pandai besi utama, dan tukang kayu kelas dua: ƒ 100
  • Untuk para Kopral dan serdadu, petugas kapal dan matros: ƒ 25
  • Untuk para anak buah kapal: ƒ 15
  • Untuk para perwira rendah pribumi: ƒ 25
  • Untuk para serdadu dan matros pribumi: ƒ 10
Baca Juga:  Wisata Religi Manaqib Qubro Istiqlal Diserbu Puluhan Ribu Jamaah

Gratifikasi juga diberikan kepada Asisten-Residen Du Bois sebesar ƒ 1.200,- (disamakan dengan Mayor) dan sebesar ƒ 500,- untuk Sekretaris keresidenan, de Sturler (disamakan dengan Kapten).

Leicher tidak mengungkapkan berapa jumlah total uang gratifikasi yang harus dibayarkan. Setidak-tidaknya jumlah itu melebihi ƒ 12.000,- (gratifikasi untuk Jendral de Kock). Namun demikian, sebetulnya uang yang ditemukan di kraton dan disita ketika Machmoed Badar Oedin ditangkap hanyalah sejumlah ƒ 10.759,-

Jumlah itu tentunya tak cukup untuk membayarkan gratifikasi itu. Gubernur-Jendral Hindia-Belanda menduga bahwa sebagian besar harta-kekayaan Sultan Machmoed Bara Oedin telah disembunyikannya. Akan tetapi, di mana tempat penyimpanan rahasia itu?

Ketika kapal fregat Dageraad, yang membawa Sultan Machmoed Badar Oedin tiba di Batavia, Baron van de Capellen memerintahkan anak buahnya untuk memeriksa setiap jengkal kapal itu. Barangkali saja Sang Sultan diam-diam membawa hartanya dan menyembunyikannya di atas kapal. Tetapi, tak seorang pun menemukan apa-apa. Pun segala pertanyaan yang diajukan kepada mantan-Sultan tidak membawa hasil. Machmoed Badar Oedin bersikeras bahwa ia tidak membawa apa pun ke atas kapal. Tak ada sesuatu pun yang dibawanya diam-diam dalam perjalanan menuju Batavia dan Ternate.

Baca Juga:  Kejarlah Ilmu Pariwisata Meski Sampai ke Banyuwangi

Setelah tiba di Pulau Ternate, sebagai tawanan Hindia-Belanda, Sultan Machmoed Badar Oedin menerima tunjangan sebesar ƒ 9.600,- per tahun. Sementara itu di Palembang, salah seorang pembantunya—yang tidak ikut ke Pulau Ternate—membuka rahasia Sang Sultan kepada Asisten-Residen Kepolisian Hindia-Belanda. Menurut lelaki itu, harta-kekayaan Machmoed Badar Oedin terutama berupa perhiasan, emas dan uang. Harta itu disimpan oleh bermacam-macam orang di Palembang, baik kerabat kesultanan maupun pribadi-pribadi yang dekat dengan mantan sultan.

Lelaki itu juga mendaftarkan nama-nama orang yang dipercaya menyimpan harta pusaka itu. Di Surabaya—jauh dari kota Palembang, beberapa orang pendukung mantan Sultan yang pindah ke kota itu membenarkan keterangan pembantu sultan tadi. Hal di atas menyebabkan Hindia-Belanda membentuk komisi khusus yang ditugaskan memeriksa rumah-rumah para kerabat dan pendukung mantan-Sultan. Pemeriksaan ini berhasil menemukan harta yang disembunyikan di rumah isteri-isteri mantan-Sultan di Palembang. Harta itu berupa emas, permata dan perhiasan yang diperkirakan bernilai sekitar bernilai ƒ 175.851,22.

Pemerintah Hindia-Belanda menyita semua temuan berharga itu dan mengumumkan bahwa segala harta yang telah dan akan ditemukan menjadi milik dan bagian dari kekayaan Hindia-Belanda dan bahwa sebagian dari harta itu akan digunakan untuk melunasi janji gratifikasi pemerintah kepada orang-orang yang berjasa dalam Ekspedisi Militer Palembang. Sebagian lagi dianggap sebagai pengganti anggaran yang terpaksa Hindia-Belanda untuk mengatasi segala kesulitan Hindia-Belanda oleh perbuatan mantan-Sultan menentang kehadiran mereka di kotanya.

Pada tanggal 18 Oktober 1822, Leicher—yang masih bertugas di Palembang—menerima kabar bahwa Raja Belanda teramat bergembira dengan keberhasilan ekspedisi militer itu. Sebagai tanda penghargaan bagi pemimpinnya, Raja Belanda mengangkat Jendral de Kock sebagai Letnan-Gubernur-Jendral Hindia-Belanda dan pimpinan tertinggi angkatan bersenjata di nusantara.

Baca Juga:  Ziarah Sejarah KOPZIPS Temukan  Makam Ulama Palembang yang Mulai Hilang

Leicher sendiri menderita di Palembang. Kesehatannya memburuk dan ia didera rasa sakit. Di matanya, Palembang jelas bukan negeri kahyangan. Setiap tahun hanya dua kapal (mancanegara) yang datang ke kota. Kedua kapal itulah yang biasanya membawa produk-produk Eropa yang diharapkan oleh anggota-anggota garnisun Hindia-Belanda yang bertugas di sana. Akan tetapi, semua produk itu dijual dengan harga yang jauh lebih mahal—bahkan dua atau tiga kali lipat–daripada harga produk yang sama di Batavia. Satu krat minuman anggur yang berharga ƒ 34,- di Batavia, dijual dengan harga ƒ 100,- di Palembang. Karena penjualan produk-produk itu hanya dua kali setahun (ketika kapal-kapal itu tiba) maka mau tak-mau, orang yang menginginkannya terpaksa merogoh kocek dalam-dalam.

Selama lebih dari tiga tahun tinggal di Palembang, Leicher dan isterinya betul-betul merasa kesepian. Selama tiga tahun, mereka hampir tak pernah mendengar kabar dari sanak-keluarga karena komunikasi di antara Batavia-Palembang dan Belanda-Palembang bukanlah hal yang mudah dilakukan. Di akhir masa tugasnya sebagai Asisten-Residen, Sevenhoven mengajak Leicher dan isterinya ikut ke Batavia. Tentu, ajakan itu tak ditolak.

Setiba di Batavia, Sevenhoven memberikan kabar yang lebih menggembirakan lagi. Gubernur-Jendral rupanya menyetujui usulan memberikan tugas baru kepada Leicher. Ia dipindahkan ke Pulau Jawa. Ia tak harus kembali ke Palembang.

Pustaka Acuan:

THS Leicher. Het Leven en de Lotgevallen van Wijlen FP Leicher, Oost Indische Pionnier. Groningen: S. Barghoorn. 1843 (hal. 1-345)

 

Komentar Anda
Loading...