Larangan Parlemen Eropa Soal Sawit Harus Dilawan

14
Wakil Ketua Komisi IV DPR Herman Khaeron

Jakarta, BP

Wakil Ketua Komisi IV DPR Herman Khaeron mengatakan, parlemen Eropa tidak pernah menjelaskan dengan transparan  melarang minyak sawit Indonesia masuk ke Eropa. Alasan Eropa yang menyebutkan perkebunan sawit Indonesia merusak lingkungan, mempekerjakan anak-anak, korupsi dan melanggar hak asasi manusia (HAM)  tidak masuk akal.
“Soal penggundulan hutan (deforestasi), korupsi, melanggar HAM dan mempekerjakan anak-anak yang dimaksud, yang mana? Itu tidak pernah dijelaskan,” ujar  Herman Khaeron di ruangan wartawan DPR, Jakarta, Kamis (4/5) dalam sebuah diskusi bertajuk  Lawan Parlemen Eropa.
 Menurut Herman,  pengalihan fungsi hutan dengan menanami kelapa sawit, kedelai, bunga matahari, atau jenis  pertanian lain sah-sah saja. Justru lebih menguntungkan petani karena lahan mereka lebih produktif dan subur.
“Namun,  yang disampaikan parlemen Eropa itu tidak mengikat karena bersifat imbauan. Saya melihat  hanya untuk melindungi komoditas pertanian Eropa  sendiri karena minyak sawit  sangat efisien dan ramah lingkungan, sehingga terjadi persaingan sangat ketat dan  ditarik ke ranah  politik. Ke dalam kita introspeksi terhadap eksploitasi alam dan keluar, kita lawan sikap parlemen Eropa,” tutur Herman.
  Herman menambahkan, sikap Eropa  sebagai standing point yang kuat untuk melindungi sawit Indonesia, karena sikap Eropa tersebut mengada-ada. Indonesia sudah komitmen  menjaga hutan sebagai paru-paru dunia, dan tidak  pertanian wajib dikembangkan untuk menyejahterakan rakyat sepanjang  tidak melanggar UU.
Anggota DPR  Hamdhani  menilai,   sikap Eropa  akibat  persaingan bisnis. Mereka akan menanam gandum untuk memenuhi kebutuhan rakyatnya sekitar 15 ribu hektar lahan, tapi tidak bisa. “Kalau alasannya pengalihan fungsi lahan ( deforestasi), Eropa menggunakan alat berat  yang justru merusak lingkungan,” kata Hamdani.
 Staf Ahli Bidang Diplomasi Perekonomian Kemelu Ridwan Hasan mengatakan,  minyak sawit Indoensia merupakan  peringkat satu dunia dan  telah menyumbang 14 jutaan tenaga kerja. Sawit sangat penting dalam perekonomian sehingga  sewajarnya dikembangkan untuk menghaslkan minyak nabati. “Produksi sawit kita  harus  terus ditingkatkan karena tidak merusak lingkungan,” tuturnya.
 Mantan Menteri Pertanian Bungaran Saragih menegaskan,   menghadapi Eropa  perlu strategi perang, bukan dengan emosi dan sikap reaktif. Apalagi sikap Eropa itu baru resolusi, belum dekrit. “Resolusi itu  wajar sebagai langkah mereka untuk melindungi, memproteksi kepentingan bisnis dan petani di negaranya,” jelas Bungaran.
 Dikatakan Bungaran, yang penting Indonesia  tidak melanggar UU perdagangan dunia (World Trade Organization/ WTO). Dan  pasar Eropa juga penting, karena menjadi barometer yang berpengaruh besar di pasar dunia. #duk
Baca Juga:  Hari Ini, Ketum PAN Turun Gunung Ke Sumsel
Komentar Anda
Loading...