Palembang Alami Deflasi 0,08

Palembang, BP
Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) merilis angka deflasi Kota Palembang sebesar -0,08 persen. Bahan makanan menyokong deflasi April tahun ini. Deflasi di Kota Palembang pada April 2017 terjadi karena adanya penurunan indeks harga pada tiga kelompok pengeluaran, yaitu kelompok bahan makanan sebesar (-1,46 persen). Sedangkan untuk kelompok makanan jadi, minuman, rokok & tembakau sebesar (-0,26 persen) dan kelompok pendidikan, rekreasi dan olahraga sebesar (-0,01 persen).
Kepala BPS Provinsi Sumatera Selatan Yos Rudiansyah menjelaskan, komoditas yang mengalami penurunan harga juga menyumbang andil deflasi terbesar di Kota Palembang. Komoditas yang dimaksud yakni, cabai merah, beras, bawang merah, gula pasir, daun katuk, sepat siam, dan telur ayam ras.
“Ada beberapa hal lain yang juga perlu perhatian ke depannya karena masih memberi sumbangan terhadap inflasi. Komoditas yang mengalami kenaikan harga antara lain, tarif listrik, udang basah, tomat sayur, angkutan udara, tarif
pulsa ponsel dan daging ayam ras,” kata dia.
Sedangkan untuk inflasi tahun kalender (kumulatif) Kota Palembang sampai April tahun 2017, BPS mencatat angka sebesar 0,44 persen. Dengan inflasi year on year (April 2017 terhadap April 2016) mencapai 3,88 persen.
“Jika dilihat ada tiga kelompok yang mengalami penurunan indeks harga yaitu kelompok bahan makanan sebesar (-1,46 persen); kelompok makanan jadi, minuman, rokok & tembakau sebesar (-0,26 persen); dan kelompok pendidikan, rekreasi dan olahraga sebesar (-0,01 persen),” jelas Yos dalam siaran pers yang diterima BeritaPagi.
Sementara itu, berdasarkan pemantauan harga selama April 2017 pada 82 Kota Indek Harga Kumulatif (IHK) di Indonesia, menunjukkan bahwa 53 kota IHK mengalami inflasi. Sedangkan di 29 kota, IHK terjadi deflasi. Inflasi tertinggi terjadi di Kota Pangkal Pinang sebesar (1,02 persen), terendah di Kota Cilacap sebesar (0,01 persen). Deflasi tertinggi terjadi di Kota Singaraja (-1,08 persen.#ren