Timah dan Minto

41

Ekspedisi militer dari Batavia (melalui Palembang) berhasil menangkap dan memencarkan orang-orang Bugis di Tajong Ular. Ekspedisi itu juga berhasil membuka jalur komunikasi di Banka, dari Banko-Kutto ke arah Paku.

Muntok dan pantai di antara Palembang dan Banka, 1888 (Eigen Haard)

Oleh FRIEDA AMRAN
frieda.amran@yahoo.com

EKSPEDISI itu sekaligus menyerang benteng Sultan Anom di Koba. Keberhasilan Belanda terbantukan oleh keengganan penduduk setempat untuk turun tangan membantu Sultan Anom mempertahankan benteng itu. Sultan Anom dan Raden Klip berhasil menyelematkan diri, tetapi benteng dan permukiman mereka hancur. Setelah terlepas dari kekuasaan Sultan Anom dan Raden Klip, pulau Banka kembali aman dan tenteram.

Setelah meninggalkan Banka, Sultan Anom—yang ditinggalkan oleh para pendukungnya—berlindung di Biliton. Tak lama kemudian, ia diam-diam kembali ke Palembang. Malang nasibnya. Di Palembang, Sultan Anom ditangkap, dikucilkan di daerah dataran tinggi Palembang, dan akhirnya, dihukum mati. Raden Klip, anaknya, berhasil melarikan diri ke Pulau Madura. Setelah lama bersembunyi di pulau ini, akhirnya ia disergap dan tewas terbunuh.

Pemerintahan Sultan Badar Udin didahului oleh dua peristiwa penting dalam sejarah Banka, yaitu penemuan timah dan berdirinya Minto (Muntok). Timah diketemukan secara tidak sengaja. Di banyak daerah di Banka, mineral itu hanya terkubur oleh lapisan tanah. Ketika petani-petani membuka hutan untuk ladang dan membakar pepohonan serta semak-belukar di lahan itu, timah yang tadinya terkubur tanah ikut terbakar dan berubah menjadi logam oleh panas api itu. Tanpa memahami makna logam itu, para petani tadi dengan jujur dan lugu melaporkan temuan mereka kepada para kepala kampungnya. Berita penemuan itu pun sampai ke sultan di Palembang.

Peristiwa ini terjadi di masa pemerintahan Sunan Ratu Tshandi Walang—sebelum terjadi perpecahan di dalam kerabat kesultanan. Laporan-laporan yang diketemukan oleh Horsfield di Batavia mencatat bahwa penemuan itu terjadi sekitar tahun 1711. Ini sejalan dengan cerita-cerita yang didengarnya di Palembang. Pada masa itu, timah masih diolah dengan cara yang sederhana. Sebelum masuknya pengaruh Cina dalam pengolahannya, batang-batang timah yang dibuat hanyalah berukuran kecil dan tidak dituang menjadi bentuk-bentuk yang baku.

Baca Juga:  Atoeran Doesoen 11-17; Atoeran Berladang dan Ambil Ikan 1-13

Berdirinya Minto pada masa ini memberikan arah yang jelas pada upaya pengolahan timah itu karena adanya permukiman baru itu membawa kedatangan orang-orang yang bermodal dan perusahaan-perusahaan. Awalnya, Minto sebetulnya didirikan sebagai permukiman untuk isteri Raden Lambu dan kerabat-kerabatnya, setelah pangeran itu kembali dari Sianten.

Pulau Sianten merupakan pulau yang berada di bawah kekuasaan Puteri Johore. Pulau itu terletak di sebelah selatan Semenanjung Malakka. Dalam penelitiannya, Horsfield tidak menemukan acuan dari orang Eropa mengenai pulau itu. Yang jelas, Pulau Sianten merupakan pulau besar di sebelah selatan bagian utara gugus Anambas).

Beberapa keluarga—nama kepala-kepala keluarga itu masih tercatat di antara penduduk Minto—merupakan cikal-bakal permukiman itu. Keluarga-keluarga itu dikepalai oleh mertua Raden Lambu. Keluarga-keluarga itu merupakan keturunan Cina, tetapi beberapa generasi nenek-moyang mereka telah memeluk agama Islam. Setelah keluarga-keluarga itu pindah ke Minto, banyak kerabat mereka dan petualang-petualang dari Pulau Siantan maupun pulau-pulau lain di sekitarnya menyusul pindah pula ke permukiman baru itu. Penduduk Minto kini masih menampakkan ciri-ciri wajah nenek-moyangnya yang keturunan Cina.

Tak banyak di antara orang-orang di atas yang menikah dengan orang-orang Melayu yang tinggal di dekat Minto; tak juga dengan orang asli Minto.  Ada anggapan bahwa Sultan Palembang wajib menikah dengan seorang puteri keturunan keluarga-keluarga pendiri Minto. Adat ini masih dipertahankan ketika Horsfield meneliti di lapangan. Ada pula larangan keras, bahkan tabu, bagi orang awam dari Palembang untuk menikahi anak-anak perempuan keturunan migran-migran pertama. Sultan Mahmud Badar Udin yang dinobatkan setelah Inggris mendapatkan hak atas Banka, mengajukan permohonan untuk meneruskan adat-kebiasaan nenek-moyangnya: memperisteri seorang perempuan keturunan migran pertama di Minto. Keinginannya tercapai: seorang perempuan yang memenuhi syarat-syarat adat itu dicari dan dibawa ke Palembang oleh seorang utusan Sultan.

Baca Juga:  2024, Peringatan Pertempuran  5 Hari 5 Malam Kembali DI Gelar, Dinas Kebudayaan Kota Palembang Siap Dukung

Minto didirikan di atas sebagian tanah milik seorang kepala adat bernama Pak Mento. Orang Inggris menyebutnya Minto. Orang Belanda menyebutnya Muntok. Keresahan di Banka dalam masa-masa pertama pendirian Minto banyak menghambat kemajuannya. Setelah ekspedisi militer Belanda berhasil mengusir Sultan Anom, penduduk Minto bertambah dengan banyak emigrant yang datang dari Minangkabau, Pontianak, Jawa dan pulau-pulau di sekitar Johore dan Lingga.

Tak ada yang mengetahui di distrik mana persisnya timah pertama kali diketemukan. Yang jelas, upaya pertama untuk menggarap logam itu dilakukan oleh penduduk Minto.

Setelah kekalahan Sultan Anom, penggarapan timah semakin marak. Hal ini dilakukan oleh penduduk Minto sendiri maupun oleh petualang-petualang Cina yang berdatangan ke Banka. Pendatang-pendatang Cina itu terutama tinggal di tepian sungai Teluk Rombiya yang memang kaya akan timah. Tak jarang terjadi pertikaian mengenai lahan timah atau penggunaan sumber air yang diperlukan untuk pengolahannya. Namun demikian, penduduk Minto-lah yang didahulukan oleh Sultan; bahkan menurut orang Minto,  timah yang dihasilkan oleh orang Minto dihargai lebih tinggi daripada harga yang dibayarkan kepada penggarap Cina, yaitu dengan tambahan ¼ dari harga.

Setelah Minto, permukiman berikutnya didirikan di Belo, kira-kira 12,87km kea rah timur, di pesisir yang sama. Belo didirikan oleh seorang pendatang Cina bernama Assing. Lelaki ini masyhur dan sangat dihormati di Pulau Banka. Sampai masa-masa terakhir (ketika Horsfield di sana), keturunannya masih memegang administrasi distrik-distrik pertambangan yang utama.

Baca Juga:  Orang Gunung di Banka

Oleh peran dan pengaruhnya yang besar, Assing diangkat sebagai Kapitan Cina. Dari Cina dan Kalimantan, didatangkannya orang-orang yang telah berpengalaman mengumpulkan timah dan piawai dalam proses pengolahan logam sesuai dengan yang biasa dilakukan di daerah asal masing-masing. Assing juga membangun alat-alat dan membuat mesin-mesin yang modelnya sama dengan peralatan dan mesin yang biasa digunakan di daerah-daerah itu. Ia juga mengajarkan system penggunaan air—dengan kanal atau terowongan air–yang diperlukan di berbagai tahapan proses pertambangan. Dan, ia pula yang menetapkan bentuk dan bobot baku bagi batang-batang timah Banka. Bentuk dan bobot baku inilah yang masih dipertahankan.

di masa ini, administrasi tambang-tambang—yang tadinya dipegang oleh pribadi-pribadi yang mengolahnya—kini diambil alih oleh Sultan. Pulau Banka dibagi ke dalam empat bagian. Seorang kerabat istana—penasehat yang membantunya naik tahta—merupakan orang pertama yang ditugaskan untuk mengawasi administrasi tambang-tambang itu. Sampai ketika laporan ini ditulis, keturunannya masih memegang tanggung jawab itu.

Catatan-catatan kesejarahan yang seharusnya dapat memberikan gambaran mengenai urut-urutan pembangunan permukiman di berbagai distrik tak ada lagi di Banka. Catatan-catatan itu mungkin masih disimpan di Palembang oleh keturunan para mantan-pengawas. Uraian Horsfield di atas, didasarkan atas cerita dari informan-informan berusia di Banka.

Pustaka Acuan:

Thomas Horsfield, M.D.  “Report on the Island of Banka,” dalam The Journal of the Indian Archipelago and Eastern Asia. Vol. 2. Tempat-tahun (hal. 299 – ..)

Komentar Anda
Loading...