Belajar Menjaga Toleransi Beragama dari Sebuah Film

39

Palembang, BP

BP/DUDY OSKANDAR
NOBAR-Suasana nonton bareng film Bid’ah Cinta 108 warga nahdhiyin dan masyarakat umum di CINEMAXX Palembang Icon, Sabtu (18/3) malam.

Keluarga besar NU yang ikut menyaksikan film ini, yakni Ansyor, Fatayat, Muslimat, IPNU, IPPNU dan PMII. Selain itu, yang diluar keluarga besar NU ada MPII, tokoh agama, masyarakat, pemuda dan Gerakan Ayo Kerja.

Wakil Ketua NU Sumsel Hernoe Roesprijadji, SIP, menyampaikan, cerita dalam film Bid’ah Cinta yang disutradarai Nurman Hakim ini, mengandung pesan yang harus disikapi dengan toleransi tinggi.

“Film ini menceritakan latar belakang percintaan, tapi di dalamnya ada nilai nilai yang bisa ditarik, yakni perbedaan pemahaman ajaran agama. Perbedaan itu ada, tapi harus disikapi dengan toleransi yang tinggi,” katanya.

Baca Juga:  Proyek Kolam Retensi Terkendala Anggaran

Hernoe menerangkan, sengaja memilih film ini karena mengangkat tema hubungan percintaan yang dibalut dengan latar persoalan pemahaman agama yang berbeda. Misalnya soal perayaan Maulid Nabi, malam Nisyfu Syaban, doa Qunut, hingga tahlilan.

“Urgensi dari film ini bahwa perbedaan pandangan terhadap persoalan agama harus disikapi dengan toleransi yang tinggi, bukan dengan saling membenci dan mencaci yang rentan menimbulkan konflik,” terangnya.

Baca Juga:  Ketua MPR Ajak Da’i Lawan Politik Uang

Kemudian, jelasnya, film Bid’ah Cinta juga memiliki korelasi terhadap situasi dan kondisi yang saat ini sedang dialami oleh Bangsa Indonesia, yang dinilai sedang bergejolak dengan berbagai perbedaan pandangan. Di balik itu ada hikmah terdapat perbedaan pemahaman ajaran agama. Harus dimaknai sunatullah. Perbedaan itu ada tidak bisa ditolak.

“Disikapi toleransi yang tinggi. Itu kan ada perbedaan, saling menghargai. Tidak saling membenci memaki. Sesuai falsafah Bhineka Tunggal Ika. Sasaran penonton generasi muda. Generasi tua pun harus memahami. Islam sunnah waljamaah menghargai perbedaan. Ditonton dipahami dihayati, diamalkan,” katanya.

Baca Juga:  Peringatan Sumpah Pemuda di Gedung Kesenian Palembang

Pihaknya berharap, setelah nonton film itu masyarakat bisa mengaplikasikannya ke dalam kehidupan sehari-hari, bahwa cinta bisa merekatkan perbedaan agama itu dengan menjaga fitrahnya sehingga tidak ada lagi konflik yang mengatasnamakan agama terjadi di negara ini.

#osk

 

Komentar Anda
Loading...